Cerita Cinta Favorit Facebook ad: “Klik untuk membaca lebih banyak konten menarik”

Ran for 17 days, from March 26 to April 12, 2026, the last day Crush saw it.
Run by Cerita Cinta Favorit on Facebook. Crush is not the advertiser and does not verify its claims. See this ad in Meta's Ad Library(opens in a new tab)
Want an ad like this for your product?
Crush makes new ad images for your product from this ad: your logo, your product photo, your offer.
Trials from $19.95 USD, then $79.95 USD a month. Cancel anytime.
About this ad
- Meta Ad Library ID
- 1476941230655035
- Platforms
- Facebook, Instagram, Audience Network, Messenger and Threads
- Relaunches
- 10
Ad text
"""Ayo bercerai."" Aru menatap lurus ke dalam mata suaminya. Hening. Jevas membatu. Cerai? Kata itu tidak ada dalam kamus Jevas. Pernikahan Mavendra adalah institusi. Kontrak seumur hidup. Aru adalah miliknya. Begitu faktanya. ""Apa...kau bilang?"" tanya Jevas akhirnya, suaranya serak dan nyaris tak terdengar, selolah ia lupa cara berbicara. ""Ceraikan aku, Shankara. Aku lelah menjadi istrimu."" ""Kau kesurupan?"" Mata Jevas menyipit. Rahangnya mengeras, urat di pelipisnya berkedut. ""Mas, aku serius..."" ""Sudah kuduga,"" potong Jevas cepat, suaranya naik satu oktaf. ""Kau minta cerai untuk menarik perhatianku, kan? Cemburu dengan Hana?"" Aru terdiam. Hana itu janda adik Jevas. Wanita yang memperoleh tawa, waktu dan jiwanya Jevas. ""Ah, benar kan?"" Jevas mendecih, ""Kau punya rasa cemburu? Menggelikan."" Hati Aru rasanya seperti dicincang. Tiba-tiba, rasa sakit yang familiar itu datang lagi. Aru muntah. Darah. ""A...apa itu, Aru!? Kenapa darah?!"" Jevas berteriak. Ironisnya, nyawa istrinya hanya tinggal hitungan bulan, suaminya pun sama sekali tidak tahu." ***** Jam dinding antik di ruang tengah berdentang pelan. Dua belas kali. Suaranya menggema di ruangan seluas dua ratus meter persegi itu, memantul pada dinding marmer dingin dan langit-langit tinggi yang seolah menertawakan kesunyian di bawahnya. Arunaya Lintar Kinandayu masih duduk tegak di ujung meja makan panjang yang terbuat dari kayu mahoni. Punggungnya tidak bersandar, kedua tangannya terlipat rapi di atas pangkuan, persis seperti boneka porselen yang diletakkan di etalase toko, cantik, mahal, namun tak bernyawa. Di hadapannya, lilin-lilin aromaterapi yang dinyalakan empat jam lalu kini tinggal sisa lelehan lilin beku. Steak wagyu yang ia masak dengan tingkat kematangan medium rare, favorit suaminya, kini sudah dingin, lemaknya mulai mengeras di permukaan saus jamur. Sup krim asparagus di mangkuk porselen itu pun sudah kehilangan uap hangatnya sejak pukul sembilan malam tadi. Hari ini, 24 Oktober. Ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga. Tidak ada kado. Tidak ada ucapan. Aru bahkan tidak mengharapkan itu. Ia hanya meminta satu hal sederhana lewat pesan singkat pagi tadi: "Mas, bisakah kita makan malam di rumah hari ini? Aku masak." Pesan itu bercentang biru dua menit setelah dikirim. Tanpa balasan. Suara deru mesin mobil yang halus terdengar samar dari halaman depan, memecah lamunan Aru. Tubuhnya bereaksi otomatis. Jantungnya berdegup, bukan karena kegembiraan, melainkan karena latihan rutin tubuhnya untuk menyambut sang pemilik rumah. Aru berdiri, merapikan gaun sutra berwarna champagne yang membungkus tubuhnya yang kian hari kian kurus. Ia berjalan menuju pintu utama tepat saat pintu kayu jati setinggi tiga meter itu terbuka. Shankara Jevas Mavendra melangkah masuk. Pria itu membawa aura musim dingin bersamanya. Jas hitam Brioni yang pas di tubuh tegapnya tampak sedikit kusut di bagian lengan, dasinya sudah longgar, dan kemeja putihnya tak lagi serapi pagi tadi. Wajah tampan dengan rahang tegas itu tampak datar, tatapan matanya tajam namun kosong saat menyapu seisi ruangan, sebelum akhirnya berhenti sekilas pada sosok Aru. Hanya sekilas. Tak sampai dua detik. Seolah Aru adalah bagian dari dekorasi rumah, sama seperti vas bunga di sudut ruangan. "Selamat malam, Mas," sapa Aru lembut. Suaranya sedikit serak karena terlalu lama diam. Ia mengulurkan tangan untuk mengambil tas kerja Jevas. Jevas menyerahkan tas itu tanpa menoleh, langkah kakinya terus bergerak menuju tangga. "Kenapa belum tidur?" Suaranya bariton, rendah, dan tenang. Tidak ada nada membentak, tapi dinginnya mampu membekukan udara di sekitar mereka. Aru mengikutinya dua langkah di belakang, menjaga jarak sopan. "Aku... aku memasak makan malam. Mas sudah makan?" Jevas berhenti di anak tangga pertama. Ia menoleh sedikit, menatap meja makan yang penuh dengan hidangan mewah yang kini tampak menyedihkan. Tatapannya tidak mengandung rasa bersalah. Hanya sedikit rasa heran, seolah bertanya untuk apa Aru melakukan hal sia-sia itu. "Aku sudah makan," jawab Jevas singkat. "Leo ingin pizza untuk merayakan keberhasilannya masuk tim sepak bola. Aku makan di sana bersama Hana." Dada Aru terasa seperti dipukul palu godam. Leo. Hana. Tentu saja. Keponakan dan iparnya. Keluarga mendiang adik iparnya selalu menjadi prioritas yang tak tersentuh. Sementara Aru, istri sahnya, menunggu lima jam hanya untuk mendengar suaminya kenyang karena merayakan hal kecil bersama orang lain di hari pernikahan mereka. Aru menelan ludah, rasa pahit menjalar di tenggorokannya. Ia memaksakan sudut bibirnya naik, membentuk senyum tipis yang terlatih. "Ah, begitu. Syukurlah kalau Leo senang. Selamat untuknya." Jevas tidak menanggapi pujian itu. Ia kembali melangkah naik. "Buang saja makanannya. Atau berikan pada satpam. Aku lelah, jangan ganggu aku malam ini." "Mas..." Aru memanggil pelan, membuat langkah Jevas terhenti lagi di bordes tangga. "Apa lagi?" Tangan Aru meremas kain gaunnya. Di saku gaun itu, ada sebuah kotak kecil berisi jam tangan yang ia beli dari tabungan hasil menjual perhiasan lamanya, karena ia tidak ingin menggunakan kartu kredit Jevas untuk membelikan hadiah suaminya sendiri. "Selamat ulang tahun pernikahan yang ketiga," ucap Aru, nyaris berbisik. Jevas terdiam. Punggung lebarnya menegang sedikit, tapi dia tidak berbalik. Keheningan meregang di antara mereka selama sepuluh detik yang menyiksa. Aru berharap, setidaknya, Jevas akan mengucapkan "terima kasih" atau sekadar mengangguk. Namun, pria itu hanya menghela nafas panjang, tanda bahwa pembicaraan ini membuang waktunya. "Hm," gumam Jevas singkat, lalu melanjutkan langkahnya menaiki tangga, menghilang di balik pintu kamar utama. Hanya "Hm". Satu gumaman itu menghancurkan pertahanan Aru lebih telak daripada tamparan. Kakinya lemas. Aru berpegangan pada pinggiran meja konsol agar tidak jatuh. Tiba-tiba, rasa sakit yang familiar itu datang lagi. Bukan di hati, tapi di perut kanan atasnya. Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas organ dalamnya, memelintirnya dengan kejam. Keringat dingin langsung membasahi pelipis Aru. Wajahnya yang sudah pucat kini seputih kertas. "Ugh..." Aru membekap mulutnya, menahan erangan. Jevas tidak suka suara berisik. Jevas benci wanita yang lemah. Dengan sisa tenaga, Aru menyeret kakinya menuju dapur, melewati makanan dingin yang tak tersentuh itu. Ia masuk ke kamar mandi tamu di dekat dapur, mengunci pintu, dan merosot di depan wastafel. Rasa mual itu meledak. Aru memuntahkan isi perutnya. Namun, karena seharian ini ia belum makan apa pun demi menunggu Jevas, yang keluar hanyalah cairan bening bercampur gumpalan merah pekat. Darah. Lagi. Napas Aru tersengal-sengal. Ia menyalakan keran air sekencang mungkin untuk menyamarkan suara batuknya yang menyakitkan. Air dingin membasuh darah yang berputar di lubang pembuangan wastafel, melenyapkan bukti bahwa tubuhnya sedang membusuk dari dalam. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Lingkaran hitam di bawah mata yang berusaha ia tutupi dengan concealer kini terlihat jelas. Tulang selangkanya yang menonjol di balik gaun mahal itu tampak mengerikan. ‘Kau sekarat, Aru,’ batinnya berbisik. ‘Dan suamimu bahkan tidak tahu kau ada.’ Aru merogoh laci rahasia di bawah wastafel, mengambil botol obat pereda nyeri dosis tinggi yang ia sembunyikan di sana. Dengan tangan gemetar, ia menelan dua butir pil tanpa air. Pahitnya obat itu tidak sebanding dengan pahit hidupnya. Setelah membasuh wajah dan memastikan tidak ada sisa darah di bibirnya, Aru keluar. Ia harus membereskan meja makan sebelum Jevas turun besok pagi. Jevas benci rumah yang berantakan. Langkah Aru terhenti di ruang tengah saat mendengar suara tawa samar dari lantai atas. Pintu kamar Jevas sedikit terbuka. Aru mendongak. Ia bisa melihat Jevas duduk di tepi ranjang, ponsel menempel di telinga. Wajah dingin yang tadi menyambut Aru kini sirna, digantikan oleh ekspresi yang hangat. Sudut mata pria itu menyipit, bibirnya menyunggingkan senyum tulus yang sangat jarang Aru lihat. "Iya, Paman janji..." suara Jevas terdengar lembut, mengalun sampai ke lantai bawah. "Besok Paman jemput. Bilang pada Ibumu, jangan lupa minum vitaminnya. Paman tidak mau dia sakit." Aru mematung di kaki tangga. Tangan kanannya mencengkram perutnya yang masih berdenyut nyeri hebat, sementara telinganya dipaksa mendengar betapa suaminya sangat peduli pada kesehatan wanita lain. Jevas takut Hana sakit. Jevas takut Hana lupa minum vitamin. Sementara di sini, di lantai bawah yang gelap, istrinya baru saja memuntahkan darah dan menelan obat keras sendirian. Air mata Aru menetes satu, jatuh membasahi lantai marmer. Ia tidak menghapusnya. Ia hanya menatap sosok suaminya dari kejauhan dengan tatapan kosong. Malam itu, Aru menyadari satu hal. Ia tidak perlu menunggu vonis dokter tentang sisa umurnya. Karena sejatinya, di rumah ini, ia sudah lama mati. Matahari pagi di kawasan elit Jakarta Selatan tidak pernah terasa hangat bagi Arunaya. Sinar itu menembus dinding kaca kamar utama, jatuh tepat di wajahnya yang masih memucat, namun tidak mampu mengusir dingin yang bersarang di tulang-tulangnya. Pukul lima pagi. Alarm alami tubuhnya membangunkan Aru sebelum alarm ponsel berbunyi. Kebiasaan. Selama tiga tahun menjadi Nyonya Mavendra, Aru telah memprogram dirinya menjadi mesin yang sempurna. Ia harus bangun lebih awal, memastikan air hangat di shower memiliki suhu yang tepat, menyeduh kopi arabica hitam tanpa gula, dan menyiapkan setelan kerja Jevas. Namun pagi ini, rutinitas itu terasa seperti mendaki gunung batu. Begitu Aru mencoba duduk, dunia di sekelilingnya berputar hebat. Rasa nyeri yang semalam menghantam perut kanannya kini kembali, lebih tajam, seolah ada pisau berkarat yang diputar perlahan di dalam sana. "Sshhh..." Aru mendesis, mencengkeram sprei sutra erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia melirik ke sisi ranjang sebelah kiri. Kosong. Bantal Jevas masih rapi, tak tersentuh. Suaminya tidur di kamar tamu semalam. Ingatan tentang Jevas yang keluar kamar karena terganggu oleh suara rintihan sakitnya membuat dada Aru sesak. ‘Kau harus bangun, Aru. Jangan manja,’ perintahnya pada diri sendiri. Dengan napas tersengal, ia memaksakan kakinya menjejak lantai marmer. Setiap langkah adalah perjuangan. Ia berjalan menuju walk-in closet, sebuah ruangan lemari yang lebih besar dari kamar tidur orang kebanyakan, dipenuhi deretan jas mahal dan gaun desainer yang jarang ia pakai. Aru berdiri di depan deretan jas Armani milik Jevas. Tangannya gemetar saat meraih jas berwarna navy. Dug. Jantungnya seolah berhenti sesaat, diikuti rasa sakit yang menyengat hingga ke ulu hati. Keringat dingin sebesar biji jagung langsung membasahi tengkuknya. Pandangan Aru menggelap. Kakinya tak lagi mampu menopang berat badannya yang kian ringkih. Ia ambruk. Aru jatuh terduduk di atas karpet tebal di tengah ruangan lemari. Ia memeluk lututnya, membenamkan wajah di sana, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar tidak berteriak. Ia tidak boleh bersuara. Jevas benci pagi yang berisik. "Sakit... Tuhan, sakit sekali..." bisiknya parau, air matanya merembes membasahi lutut. Ia butuh waktu. Hanya lima menit untuk meredakan gelombang rasa sakit ini sebelum kembali tersenyum. Tiba-tiba, pintu walk-in closet terbuka lebar. Cahaya lampu menyala terang, menyilaukan mata Aru yang basah. Jevas berdiri di ambang pintu, handuk melilit di pinggangnya, rambut basahnya meneteskan air ke bahu tegapnya. Pria itu baru selesai mandi di kamar tamu dan masuk ke sini untuk berpakaian. Jevas berhenti langkahnya. Alis tebalnya menyatu saat melihat istrinya meringkuk di lantai di antara rak sepatu dan lemari jas. Tidak ada kepanikan di wajah pria itu. Tidak ada langkah terburu-buru untuk menolong. Jevas hanya menatap Aru dengan ekspresi yang sulit diartikan, campuran antara heran dan sedikit terganggu. Di mata Jevas, Aru terlihat sedang melamun, atau mungkin sedang meratapi nasib dramatis seperti yang sering dilakukan wanita-wanita kaya yang kurang pekerjaan. "Sedang apa kau di situ?" suara Jevas memecah hening, datar dan dingin. Aru tersentak. Adrenalin memaksanya menelan rasa sakit itu bulat-bulat. Ia mendongak, buru-buru menghapus air matanya dengan punggung tangan, lalu memaksakan sebuah senyum. Senyum yang menyedihkan. "Aku..." suara Aru bergetar. Ia berusaha berdiri, berpegangan pada rak lemari, kakinya masih goyah. "Aku... aku sedang mencari kancing mansetmu yang jatuh. Maaf." Kebohongan yang bodoh. Tapi Jevas tidak peduli untuk mengoreksinya. Jevas melangkah masuk, melewati Aru begitu saja seolah ia hanyalah patung. Pria itu mengambil kemeja putih dari gantungan. "Minggir. Kau menghalangi jalan." Aru mundur selangkah, menahan napas saat rasa nyeri kembali menyentak perutnya. "Mas mau pakai dasi yang mana hari ini? Biar aku pasangkan." "Tidak perlu," potong Jevas cepat. Ia mengancingkan kemejanya dengan gerakan efisien. "Aku bisa sendiri. Kau siapkan saja kopi. Dan pastikan kali ini tidak terlalu panas seperti kemarin." “Iya." Aru menatap punggung suaminya yang lebar. Ada dorongan kuat di dadanya untuk memeluk punggung itu, untuk bersandar sejenak dan berkata, 'Mas, tolong aku. Rasanya sakit sekali. Aku takut.' Tapi ia tahu, pelukan itu akan ditepis. Jevas tidak suka sentuhan yang tidak diundang. ** Lima belas menit kemudian, di ruang makan. Suasana hening yang mencekik kembali terjadi. Jevas duduk di ujung meja, matanya terpaku pada layar iPad yang menampilkan grafik saham, sementara tangan kanannya memegang cangkir kopi. Aru duduk di sisi kanannya, memandangi roti panggang di piringnya yang tak tersentuh. "Mas," panggil Aru pelan. Jevas tidak menoleh, jarinya menggeser layar iPad. "Hm?" Aru meremas serbet di pangkuannya. Jantungnya berdegup kencang. "Hari ini... aku izin keluar sebentar. Ada yang harus aku cek di rumah sakit." Gerakan tangan Jevas terhenti sesaat. Ia akhirnya menoleh, menatap Aru dengan alis terangkat sebelah. "Rumah sakit? Kau sakit?" Pertanyaan itu terdengar seperti tuduhan, bukan kekhawatiran. Seolah sakit adalah sebuah ketidaknyamanan yang Aru ciptakan untuk mengganggu jadwal Jevas. "Aku... belakangan ini perutku sering sakit, dan aku merasa…" Drrt. Drrt. Ponsel Jevas yang tergeletak di meja bergetar keras, memotong kalimat Aru. Nama "Hana" berkedip di layar. Wajah datar Jevas berubah seketika. Sinar matanya yang tadi redup dan dingin saat menatap Aru, kini menyala dengan kewaspadaan. Ia menyambar ponsel itu secepat kilat. "Halo? Ada apa?" Nada suaranya berubah 180 derajat. Mendesak, khawatir, dan... peduli. Aru terdiam, kalimat tentang penyakit yang sudah di ujung lidahnya tertelan kembali ke dalam kerongkongan. Ia melihat bagaimana bahu Jevas menegang saat mendengarkan suara di seberang sana. "Leo demam lagi? Berapa suhunya?" tanya Jevas cepat. Ia berdiri dari kursinya, mengabaikan kopi yang baru diminum setengah. "Sudah kau kompres? Jangan panik, aku ke sana sekarang. Jangan berikan obat sembarangan sebelum aku lihat." Jevas mematikan panggilan, lalu langsung menyambar jasnya yang tersampir di kursi. Ia berjalan cepat menuju pintu keluar, melupakan iPad-nya, melupakan sarapannya, dan melupakan istrinya yang masih duduk mematung. "Mas..." Aru mencoba memanggil, suaranya terdengar putus asa. Jevas berhenti sejenak sambil membenarkan jam tangannya, tapi tatapannya sudah tidak ada di ruangan itu. Pikirannya sudah terbang ke rumah Hana. "Leo demam tinggi, Hana sendirian dan panik," ujar Jevas cepat tanpa menatap Aru. "Aku harus ke sana. Supir akan mengantarku, kau pakai taksi saja kalau mau pergi." "Tapi Mas, aku mau bicara soal—" "Nanti saja, Aru!" sentak Jevas. Nadanya meninggi sedikit, menyiratkan ketidaksabaran. "Ini darurat. Leo butuh aku. Kau bisa mengurus urusanmu sendiri, kan? Kau bukan anak kecil." Tanpa menunggu jawaban, Jevas berbalik dan melangkah lebar keluar rumah. Pintu tertutup. Aru masih duduk di kursinya. Hening kembali menyelimuti ruang makan itu, lebih dingin dari sebelumnya. Darurat, pikir Aru getir. Anak itu demam, dan itu darurat. Sementara istrinya mungkin memiliki penyakit mematikan. Dan harus mengurus diri sendiri. "Aku bukan anak kecil, Mas," bisik Aru pada kursi kosong yang baru saja diduduki suaminya. "Tapi aku juga manusia..." Aru mengambil pisau roti di meja. Pantulan wajahnya terlihat di logam perak itu. Ia melihat setetes darah kembali menetes dari hidungnya, jatuh mengenai piring porselen putih, menodai roti panggang yang bersih dengan warna merah cerah. Aru tidak menyekanya. Ia hanya menatap tetesan darah itu dengan tatapan hampa. Ponselnya sendiri berbunyi. Pesan dari Rumah Sakit. Rumah sakit selalu memiliki bau yang khas. Campuran aroma antiseptik yang tajam, sisa parfum mahal dari pengunjung kelas VIP, dan aroma samar dari ketakutan manusia. Arunaya duduk di ruang tunggu Poli Onkologi Terpadu. Kursi tunggu ini empuk, dilapisi kulit sintetis berkualitas tinggi, namun bagi Aru, rasanya seperti duduk di atas paku. Di sekelilingnya, pemandangan ironis tersaji. Seorang wanita paruh baya duduk di kursi roda, tangannya digenggam erat oleh suaminya yang membisikkan doa. Di sudut lain, sepasang suami istri muda saling berpelukan, si istri menangis di bahu suaminya setelah keluar dari ruang konsultasi. Semua orang memiliki tangan untuk digenggam. Semua orang memiliki bahu untuk bersandar. Arunaya menunduk, menatap kedua tangannya sendiri yang saling meremas di atas pangkuan. Cincin pernikahan bertahta berlian di jari manisnya berkilau tertimpa lampu neon, terlihat terlalu besar untuk jari-jarinya yang kini semakin kurus. "Nyonya Mavendra?" Suara perawat memecah lamunannya. Aru mendongak, menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa kepingan keberaniannya. Ia berdiri, merapikan sedikit kerutan di gaunnya, lalu melangkah masuk. Sendirian. Di dalam ruangan bernuansa putih dan abu-abu itu, Dokter Raka, spesialis onkologi senior, sudah menunggu. Pria berkacamata itu memegang lembaran hasil MRI dan biopsi dengan ekspresi yang sudah sangat Aru kenal: Ekspresi 'aku punya kabar buruk'. Aru duduk tanpa diminta. "Katakan saja, Dok. Jangan ditutup-tutupi." Dokter Raka melepaskan kacamata, meletakkannya di atas meja, lalu menatap Aru lekat-lekat. Ada jeda panjang yang menyiksa sebelum dia bicara. "Hasil biopsi mengkonfirmasi kecurigaan kita, Bu Aru. Hepatocellular Carcinoma. Kanker hati primer." Dunia hening sejenak. Aru mendengar suara detak jam dinding di belakang dokter. "Stadium?" tanya Aru. Suaranya datar, seolah sedang menanyakan harga sayuran di pasar. "Stadium dua," jawab Dokter Raka hati-hati. Ia menggeser sebuah diagram ke hadapan Aru. "Tumornya sudah berukuran lima sentimeter, dan ada invasi ke pembuluh darah di sekitarnya. Ini... cukup agresif, mengingat perkembangan dari cek terakhir enam bulan lalu." Aru menatap gambar hati di kertas itu. Ada noda hitam di sana. Noda yang akan memakan hidupnya. Anehnya, ia tidak merasa takut. Justru, ada perasaan aneh yang merambat di dadanya, rasa dingin yang menenangkan. "Apa yang harus dilakukan?" "Operasi reseksi adalah opsi utama, dilanjutkan dengan kemoterapi atau TACE," jelas Dokter Raka dengan nada mendesak. "Peluang kesembuhannya masih ada. Tapi kita harus bergerak cepat. Saya butuh persetujuan tindakan segera." Dokter Raka berhenti sejenak, matanya menyapu ruangan, mencari sosok lain yang seharusnya ada di sana. "Di mana Pak Shankara?" tanyanya pelan. "Untuk prosedur sebesar ini, dan mengingat kondisi mental pasien, kehadiran suami sangat krusial. Saya perlu menjelaskan risiko operasi padanya." Nama itu disebut. Shankara. Aru tersenyum tipis. Senyum yang tidak mencapai matanya. "Suami saya sibuk, Dok. Dia... sedang mengurus hal yang lebih mendesak." Ya, mengurus demam keponakannya, batin Aru menambahkan dengan getir. Wajah Dokter Raka berubah. Tatapan profesionalnya melunak, digantikan oleh sesuatu yang paling dibenci Aru: Rasa iba. Dokter itu menatap Aru seolah ia adalah anak kucing yang kehujanan dan dibuang di pinggir jalan. Tatapan kasihan itu menusuk harga diri Aru lebih dalam daripada jarum infus manapun. Aru adalah Nyonya Mavendra. Ia tidak butuh dikasihani. "Bu Arunaya," Dokter Raka memajukan tubuhnya, nada suaranya berubah menjadi bujukan lembut. "Kanker bukan hanya perang fisik, tapi juga mental. Dukungan keluarga adalah obat paling manjur. Ibu tidak bisa menghadapi ini sendirian." "Saya bisa," potong Aru cepat. Dingin. Tegas. "Tapi—" "Dokter bilang ini stadium dua," sela Aru lagi, matanya menatap lurus ke manik mata dokter itu. "Jika saya melakukan operasi dan kemo, berapa persen peluang saya sembuh total?" "Sekitar 60 sampai 70 persen, jika respons tubuh bagus." "Dan jika saya tidak melakukan apa-apa?" Ruangan itu membeku. Dokter Raka ternganga sedikit. "Bu, kita tidak sedang membicarakan itu. Usia Ibu masih muda. Menyerah bukan opsi." "Jawab saja, Dok. Berapa lama?" desak Aru. Dokter Raka menghela napas panjang, tampak frustrasi. "Tanpa pengobatan... dengan agresivitas sel tumor ini... mungkin enam bulan. Paling lama satu tahun. Tapi bulan-bulan terakhir akan sangat menyakitkan." Enam bulan. Angka itu berdengung di telinga Aru. Enam bulan lagi untuk merasakan sakit karena diabaikan. Enam bulan lagi untuk melihat punggung Jevas menjauh. Enam bulan lagi menjadi hantu di rumahnya sendiri. Atau... enam bulan untuk membebaskan diri. Aru mengambil amplop coklat berisi hasil medisnya dari atas meja. Ia tidak menangis. Air matanya sudah kering di meja makan semalam. Hatinya yang dulu hangat dan penuh harap, kini membeku sepenuhnya. Vonis ini bukan hukuman mati baginya. Ini adalah garis finish. "Terima kasih, Dok. Saya akan pikirkan jadwal operasinya," bohong Aru seraya berdiri. "Tolong bawa Pak Shankara kemari besok," seru Dokter Raka saat Aru berbalik menuju pintu. "Saya mohon." Aru tidak menjawab. Ia keluar dari ruangan itu, meninggalkan dokter yang menatap punggungnya dengan nanar. Lorong rumah sakit terasa sangat panjang saat Aru berjalan menuju lift. Langkah kakinya bergema di lantai vinil yang mengkilap. Dunia di sekelilingnya terasa kabur. Orang-orang yang berlalu-lalang, perawat yang membawa nampan obat, pengunjung yang membawa keranjang buah, semuanya tampak seperti background film yang buram. Fokus Aru hanya pada satu titik: pintu keluar. Ia ingin pulang. Meski rumah itu bukan lagi tempat yang hangat, setidaknya di sana ia bisa bersembunyi di balik selimut. Aru menekan tombol lift khusus VIP/Eksekutif agar tidak perlu berdesakan dengan orang banyak. Ia menyandarkan keningnya yang berkeringat dingin ke pintu besi lift yang dingin, memejamkan mata sejenak untuk menahan pening. Ting. Pintu lift terbuka. Aru menegakkan tubuh, memasang kembali topeng wajah datarnya, dan melangkah masuk. Namun, lift itu tidak kosong. Ada seorang pria di sana. Berdiri tegap dengan setelan jas abu-abu charcoal yang rapi. Usianya sekitar awal 40-an, dengan garis wajah matang yang berwibawa dan kacamata berbingkai tipis. Ia sedang memeriksa jam tangannya saat Aru masuk. Aru mengenali pria itu. Abimana. Direktur Utama rumah sakit ini, sekaligus salah satu rekan bisnis senior dan teman lama Jevas. Pria yang beberapa kali hadir di pesta perusahaan Mavendra. Langkah Aru terhenti sesaat. Ia ingin mundur, tapi pintu lift sudah tertutup otomatis di belakangnya, mengurung mereka berdua dalam kotak besi yang meluncur turun. Abimana menoleh. Alisnya terangkat sedikit di balik lensa kacamatanya, jelas terkejut melihat siapa yang masuk. "Arunaya?" sapa Abimana. Suaranya berat dan sopan, dengan nada keramahtamahan yang tulus. Aru mengangguk kaku, mencengkeram tas tangannya lebih erat untuk menutupi getaran tangannya. "Selamat siang, Dokter." Mata Abimana yang tajam menyapu penampilan Aru. Dari wajahnya yang pucat pasi meski tertutup riasan, tubuhnya yang terlihat rapuh di balik gaun, hingga amplop coklat berlogo "Onkologi" yang Aru dekap di dada. Sebagai Direktur Rumah Sakit, Abimana tahu persis amplop apa itu. Dan dia tahu persis lantai berapa yang baru saja Aru tinggalkan. Lantai 5. Khusus kanker dan penyakit dalam kronis. "Sedang menjenguk kerabat?" tanya Abimana basa-basi, meski matanya menyiratkan kecurigaan. "Ah... iya. Ada kenalan jauh yang dirawat," jawab Aru cepat. Terlalu cepat. Abimana mengangguk pelan, tidak mendesak. Namun, ia melihat sekeliling lift yang kosong. "Shankara tidak menemani?" Pertanyaan itu lagi. Di mana Shankara? Di mana Jevas? Aru merasa mual mendengar nama suaminya terus ditanyakan. "Dia sedang... ada meeting penting. Saya yang memintanya untuk tidak datang karena ini hanya kunjungan singkat." "Begitu," gumam Abimana. Lift terasa bergerak sangat lambat menuju lantai dasar. Keheningan menyelimuti mereka. Tapi ini bukan keheningan kosong. Ini adalah keheningan yang penuh dengan observasi. Aru bisa merasakan tatapan Abimana sesekali meliriknya lewat pantulan cermin dinding lift. Pria itu menatapnya bukan dengan tatapan meremehkan seperti Jevas, bukan juga tatapan iba berlebihan seperti Dokter Raka. Itu tatapan menganalisa. Tatapan seseorang yang tahu ada sesuatu yang sangat salah. Tiba-tiba, lift berguncang sedikit saat berhenti di lantai 3. Aru yang sedang tidak seimbang karena pening, terhuyung ke samping. "Hati-hati!" Dengan refleks cepat, Abimana menahan siku Aru agar tidak jatuh. Tangannya kokoh dan hangat, kontras dengan kulit Aru yang sedingin es. "Kamu sakit?" tanya Abimana, kali ini nada formalnya sedikit luntur. Ia bisa merasakan betapa kurusnya lengan Aru di balik kain bajunya. "Tanganmu dingin sekali." Aru segera menarik tangannya, menjauhkan diri dan berdiri tegak kembali. Jantungnya berpacu. Ia tidak boleh terlihat lemah di depan teman Jevas. Berita akan sampai ke telinga suaminya, dan Jevas akan menganggapnya mencari perhatian. "Saya baik-baik saja. Hanya sedikit pusing karena belum sarapan," elak Aru sopan namun tegas, membuat jarak di antara mereka. Abimana menatapnya lekat, tangannya yang tadi menahan Aru kini perlahan turun ke sisi tubuhnya. Ia tidak yakin. Ia melihat keringat dingin di pelipis wanita itu. Ia melihat amplop itu. Ting. Pintu lift terbuka di lantai dasar lobi utama. "Terima kasih," ucap Aru cepat, lalu bergegas melangkah keluar tanpa menoleh lagi, seolah melarikan diri dari interogasi tak terucap. Abimana tidak langsung keluar. Ia menahan pintu lift dengan tangannya, menatap punggung istri sahabatnya yang berjalan tertatih menjauh di tengah keramaian lobi. Punggung yang terlihat sangat sepi dan memikul beban yang terlalu berat. Abimana merogoh saku jasnya, mengeluarkan ponselnya. Ia menatap nama "Shankara Jevas" di daftar kontak. Jarinya melayang di atas tombol panggil. Ada dorongan untuk bertanya pada Jevas: 'Kau tahu istrimu ada di poli kanker sendirian?' Namun, Abimana mengurungkan niatnya. Ia mematikan layar ponselnya kembali, membiarkan lift tertutup perlahan, menyembunyikan wajahnya yang kini dipenuhi tanda tanya besar. Di lobi, Aru terus berjalan menembus kerumunan, tidak menyadari bahwa satu rahasianya kini sudah tergantung pada seutas benang tipis di tangan orang lain. Taksi yang ditumpangi Arunaya berhenti di depan sebuah gerbang besi tempa berwarna putih gading. Ini bukan pertama kalinya Aru datang ke sini. Rumah ini terletak di kawasan perumahan yang asri di Jakarta Selatan, hanya berjarak dua puluh menit dari kediaman mewah Mavendra. Namun, setiap kali Aru menjejakkan kaki di sini, rasanya seperti melangkah masuk ke dunia paralel. Dunia di mana Jevas memiliki sisi manusiawi. Aru membayar taksi dan melangkah turun. Matahari siang terasa menyengat, namun tubuhnya masih menggigil sisa dari pendingin ruangan rumah sakit. Ia merapatkan cardigan rajutnya, menutupi lengan kurusnya, lalu menekan bel intercom. Tak lama, pintu utama terbuka. Sosok wanita muda dengan apron bermotif bunga matahari berlari kecil keluar menyambutnya. Rambutnya dikuncir kuda asal-asalan, wajahnya polos tanpa make-up tebal, namun memancarkan aura kesegaran yang alami. Hana. Wanita yang dicintai semua orang. Ipar yang "sempurna" di mata keluarga besar Mavendra. "Mbak Aru?" Hana terpekik pelan, matanya membola karena terkejut. Ia buru-buru membuka gerbang kecil, senyum manis langsung merekah di bibirnya. "Ya ampun, tumben sekali Mbak main ke sini siang-siang. Kenapa tidak telepon dulu?" Aru memaksakan senyum terbaiknya. Senyum yang menyembunyikan fakta bahwa ia baru saja divonis mati satu jam yang lalu. "Kebetulan aku lewat daerah sini, Han." Hana menyeka tangannya yang sedikit basah ke apron, wajahnya tampak tidak enak hati. "Mas Jevas baru saja pergi sepuluh menit yang lalu. Dia buru-buru balik ke kantor karena ada meeting mendadak setelah memastikan Leo tidur. Kalau Mbak datang lebih cepat, pasti ketemu." Kalimat itu meluncur polos, namun menghujam tepat di ulu hati Aru. Jevas di sini. Tentu saja. Suaminya rela meninggalkan kantor demi demam anak kecil, lalu kembali ke kantor setelah memastikan semuanya aman. Dedikasi yang luar biasa. Dedikasi yang tak pernah Aru dapatkan. "Aku kemari bukan untuknya," jawab Aru lembut. Suaranya tenang, menyamarkan getar perih di dadanya. "Aku dengar Leo demam tinggi. Aku khawatir." Aru mengangkat paper bag di tangan kanannya. "Aku bawakan mainan rakitan Lego seri terbaru. Dia pernah bilang ingin ini waktu kita makan malam bersama bulan lalu." Mata Hana berbinar, tersentuh dengan perhatian itu. "Astaga, Mbak... padahal Mbak sibuk sekali, tapi masih ingat celotehan Leo. Masuk, Mbak. Ayo masuk.” Hana menggiring Aru masuk ke dalam rumah. Begitu pintu terbuka, udara hangat langsung menyapa kulit Aru. Bukan hangat karena suhu, tapi hangat karena kehidupan. Rumah Hana tidak sebesar kediaman Mavendra yang seperti istana. Ukurannya mungkin hanya separuhnya. Namun, rumah ini "bernapas". Di ruang tamu, ada aroma samar kue kering yang baru dipanggang bercampur wangi pewangi ruangan aroma vanila. Ada mainan mobil-mobilan yang tergeletak sembarangan di karpet bulu yang tebal. Di dinding, berderet bingkai foto keluarga yang penuh tawa. Ada foto mendiang adik Jevas, foto Hana, Leo, dan... tentu saja, foto Jevas yang sedang menggendong Leo di bahunya saat liburan ke Bali tahun lalu. Di foto itu, Jevas tertawa lepas. Matanya menyipit membentuk bulan sabit. Gigi putihnya terlihat jelas. Aru terpaku sejenak menatap foto itu. Ia bahkan lupa kapan terakhir kali melihat suaminya tertawa seperti itu di rumah mereka sendiri. Di rumah Mavendra, Jevas adalah patung es yang indah tapi mematikan. Di sini, dia adalah matahari. "Maaf ya Mbak, rumahnya berantakan," ujar Hana sambil membereskan majalah di sofa. "Sejak Leo sakit semalam, aku tidak sempat beres-beres. Mas Jevas tadi sempat bantu rapihin dapur sebelum pergi." Aru tersenyum getir. Jevas membereskan dapur? Pria yang bahkan tidak pernah menyentuh piring kotor di rumahnya sendiri? "Tidak apa-apa, Han. Rumah ini terasa... nyaman," gumam Aru. "Sangat hidup." Berbeda dengan rumahku yang seperti makam marmer, lanjutnya dalam hati. "Mau minum apa, Mbak? Jus jeruk? Atau teh hangat?" tawar Hana antusias. "Air putih saja." Hana mengangguk, mempersilakan Aru duduk, lalu menghilang ke dapur. Aru duduk di sofa yang empuk. Bantal sofa itu memiliki aroma maskulin yang familiar. Aroma parfum Jevas. Suaminya pasti duduk di sini tadi, menjaga "keluarganya". Dada Aru kembali sesak. Ia meremas perutnya pelan. Sakit fisiknya mulai mereda berkat obat, tapi sakit di hatinya justru semakin menjadi-jadi melihat betapa natural-nya kehadiran Jevas di rumah ini. Tak lama, Hana kembali dengan segelas air dan toples kue. "Gimana Leo?" tanya Aru, mengalihkan fokus dari rasa sakitnya. Hana menghela napas, duduk di seberang Aru. Wajahnya menyiratkan kekhawatiran seorang ibu. "Semalam dia masih sehat, lari-larian main bola sama Mas Jevas di halaman. Eh, subuh tadi badannya panas tinggi sampai mengigau panggil Ayahnya. Aku panik banget, untung Mas Jevas langsung angkat telepon." "Syukurlah," ucap Aru pelan. "Syukurlah ada Jevas." "Iya, Mbak. Aku tidak tau harus gimana kalau nggak ada Mas Jevas," mata Hana berkaca-kaca, penuh rasa syukur yang tulus. "Dia benar-benar pengganti Ayah yang sempurna buat Leo. Kadang aku merasa bersalah sama Mbak karena sering merepotkan Mas Jevas..." Hana menatap Aru dengan tatapan bersalah yang lugu. "Mbak tidak marah kan?" tanyanya hati-hati. Aru menatap wanita di depannya. Hana cantik, subur, dan sehat. Kulitnya merona, tidak pucat seperti mayat hidup. Hana memiliki segalanya yang tidak Aru miliki: cinta Jevas, meski tidak dalam ikatan pernikahan. Apakah Aru marah? Tidak. Ia sudah melewati fase marah. Ia ada di fase lelah. "Kenapa aku harus marah?" Aru tersenyum, sangat tipis. "Leo keponakannya. Itu tanggung jawabnya." "Mbak memang malaikat," puji Hana lega. "Leo sekarang lagi tidur. Baru aja minum obat dan makan bubur suapan dari Mas Jevas. Mau lihat?" Aru mengangguk. Mereka berjalan pelan menuju kamar di lantai satu. Hana membuka pintu kamar itu dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Kamar itu bernuansa biru langit. Di langit-langitnya tertempel stiker bintang glow in the dark. Di atas tempat tidur berbentuk mobil balap, seorang bocah laki-laki berusia enam tahun sedang tertidur pulas. Napasnya teratur, meski ada kompres penurun panas yang menempel di keningnya. Leo. Jagoan kecil keluarga Mavendra. Aru melangkah mendekat. Ia melihat wajah damai anak itu. Ada kemiripan dengan Jevas di garis rahangnya, mengingat ayah Leo adalah adik kandung Jevas, kemiripan genetik itu tak terelakkan. Di meja nakas samping tempat tidur, Aru melihat segelas air dan sebuah buku cerita yang terbuka. Judulnya: Petualangan Ayah Beruang. "Mas Jevas membacakannya sampai Leo tertidur tadi," bisik Hana dari ambang pintu, suaranya penuh kasih sayang saat menatap putranya. Aru mengulurkan tangan, menyentuh pelan selimut Leo, membetulkan letaknya sebatas dada. Tangan Aru yang kurus dan pucat terlihat kontras dengan selimut berwarna cerah itu. Di ruangan ini, Aru merasa seperti intrusi. Seperti orang asing yang masuk ke dalam lukisan keluarga bahagia yang sudah jadi. Di lukisan itu, ada Leo, ada Hana, dan ada tempat kosong berbentuk Jevas. Tidak ada tempat untuk Aru. Tidak pernah ada. Jika Aru memaksakan diri untuk masuk ke lukisan ini, ia hanya akan menjadi noda coretan yang merusak keindahan. Aru menatap Hana yang sedang memandang Leo dengan tatapan memuja. Lalu ia menatap buku cerita yang dibaca Jevas. Lalu ia menatap bayangannya sendiri di cermin lemari Leo, wanita sakit yang sedang menunggu ajal. Tiba-tiba, semuanya menjadi masuk akal. Kenapa Jevas dingin. Kenapa Jevas tak pernah pulang tepat waktu. Kenapa Jevas tak pernah menyentuhnya. Bukan karena Jevas tidak punya hati. Tapi karena hatinya sudah penuh. Hatinya sudah tertambat di rumah sederhana ini, pada janda adiknya dan keponakannya. Jevas mungkin tidak menyadarinya, atau mungkin menyangkalnya atas nama "tanggung jawab". Tapi Aru bisa melihatnya dengan jelas. Cinta itu ada di sini. Dan cinta tidak bisa dipaksa. Sama seperti kanker yang tidak bisa ditolak. Aru mundur selangkah, menjauh dari tempat tidur Leo. Dadanya terasa ringan. Bukan karena bahagia, tapi karena ia akhirnya melepaskan beban harapan yang selama tiga tahun ini ia panggul sendirian. "Hana," panggil Aru pelan, nyaris tak terdengar. "Ya, Mbak?" Aru menatap wajah polos Leo sekali lagi, lalu beralih menatap Hana. Tatapan Aru begitu dalam, penuh arti yang tidak dimengerti oleh wanita yang lebih muda itu. "Jaga dia baik-baik," ucap Aru, suaranya serak. "Leo anak yang baik." "Pasti, Mbak." Aru mengalihkan pandangannya ke arah jendela kamar yang menampilkan taman belakang tempat ayunan tergantung. Tempat di mana Jevas dan Leo sering bermain. Aru bergumam pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Hana. Sebuah kesimpulan akhir yang menutup lembaran perjuangannya. "Leo butuh seorang ayah..." Aru memberi jeda, setetes air mata jatuh tanpa izin di pipinya yang tirus. "...dan Ayahnya butuh rumah untuk pulang." "Mbak bilang apa?" tanya Hana bingung karena suara Aru terlalu pelan. Aru tersentak, cepat-cepat menyeka pipinya dan berbalik menghadap Hana dengan senyum yang kali ini terlihat tulus… senyum perpisahan. "Tidak apa-apa," Aru menggeleng. "Aku hanya bilang, cepatlah sembuh, Jagoan." Di dalam hati, Aru melanjutkan kalimatnya yang terputus: ‘Dan untuk memberikan dia ayah yang utuh, aku harus pergi. Karena di cerita ini, akulah penghalang kebahagiaan kalian.’ Jumat malam adalah tradisi sakral bagi keluarga besar Mavendra. Di ruang makan utama yang diterangi chandelier kristal seharga satu unit apartemen mewah, tiga generasi berkumpul. Ibu Jevas, Nyonya Besar Ratna, duduk di ujung meja dengan wibawa matriarkatnya. Di sisi kanannya duduk Jevas, dan di sebelah Jevas, duduk Leo serta Hana. Sementara Arunaya, sang Nyonya Muda, duduk di sisi kiri meja. Berhadapan langsung dengan Hana, namun terasa berjarak ribuan mil jauhnya. Meja panjang itu penuh dengan hidangan seafood kualitas terbaik: kepiting saus padang, lobster bakar madu, dan udang galah goreng mentega. Aroma amis laut yang mewah menguar di udara. Suasana sangat hidup. Suara denting sendok perak beradu dengan piring porselen Hermes bersahut-sahutan dengan tawa renyah Leo. "Oma, lihat! Paman Jevas mengupaskan kulit kepitingnya bersih sekali!" seru Leo antusias, memamerkan daging kepiting di piringnya. Nyonya Ratna tersenyum lebar, menatap cucu kesayangannya dengan tatapan memuja. "Paman memang paling pintar mengurus Leo. Persis seperti mendiang Ayahmu dulu. Makan yang banyak ya, Sayang, biar cepat besar." Leo mengangguk. "Terima kasih, Paman!" "Sama-sama, Jagoan," sahut Jevas. Suaranya terdengar ringan, tanpa beban. Ia sibuk memecahkan cangkang kepiting lain, bukan untuk dirinya, tapi untuk ditaruh di piring Hana. "Untukmu. Kau kurusan karena begadang menjaga Leo." Hana tersipu malu, menunduk sedikit. "Terima kasih. Jadi nggak enak sama Mbak Aru, masa aku dilayani terus." Mendengar namanya disebut, Aru hanya mengangkat wajahnya sedikit. Ia sedang memotong kecil-kecil brokoli rebus di piringnya, satu-satunya makanan yang ia ambil karena perutnya masih menolak makanan berat. "Tidak apa-apa. Nikmati saja," ucap Aru pelan. Suaranya tenang, datar, dan sopan. Sangat elegan. Tidak ada nada sindiran. Tidak ada cemburu. Wajah Aru sehalus dan sedingin topeng porselen. Ia duduk tegak, punggungnya tidak menyentuh sandaran kursi, mengunyah dengan gerakan lambat dan anggun yang telah diajarkan padanya sejak kecil sebagai putri keluarga terpandang. Nyonya Ratna melirik menantunya sekilas dengan tatapan kritik. "Kenapa hanya makan sayur? Lihat badanmu, tinggal tulang. Nanti orang pikir keluarga Mavendra tidak memberimu makan. Cobalah bersikap lebih hidup sedikit di meja makan." "Maaf, Bu. Perut Ku sedang kurang nyaman," jawab Aru singkat tanpa membela diri. "Alasan terus," gumam Nyonya Ratna, lalu kembali mengalihkan perhatian pada Leo yang sedang menceritakan teman sekolahnya. Aru kembali menjadi hantu. Ia menyimak pembicaraan mereka seperti penonton yang melihat layar bioskop bisu. Ia melihat bagaimana mata Jevas berbinar saat menanggapi celotehan Leo. Ia melihat bagaimana Hana tertawa menutup mulut dengan sopan saat Nyonya Ratna membuat lelucon. Mereka adalah lukisan keluarga bahagia yang utuh. Aru adalah pigura retak yang membingkainya. Tiba-tiba, Leo menghentikan suapannya. Bocah itu menatap lurus ke arah Aru. Mata bulatnya yang jernih menatap Aru lekat-lekat. "Bibi" panggil Leo. Seketika, denting sendok berhenti. Keheningan turun di meja makan. Semua mata, Nyonya Ratna, Hana, dan Jevas, kini tertuju pada Aru. Aru meletakkan pisau dan garpunya perlahan. Ia tersenyum tipis pada bocah itu. "Ya, Sayang?" "Terima kasih hadiah Lego-nya," ucap Leo tulus, senyumnya merekah lebar hingga menampakkan gigi susunya yang tanggal satu. "Aku suka sekali! Itu seri kapal bajak laut yang aku mau dari dulu." Hati Aru menghangat sedikit. Setidaknya, ada satu manusia di meja ini yang melihatnya. "Bibi senang mendengarnya." Leo memiringkan kepalanya, menatap Aru dengan polos. "Dan... Bibi cantik sekali malam ini. Gaun Bibi warnanya seperti putri salju." Hana tersenyum. Nyonya Ratna mendengus pelan namun tak berkomentar. Aru merasakan pandangan tajam dari arah samping. Ia tahu itu Jevas. Tapi Aru tidak menoleh. Ia tetap memusatkan perhatiannya pada Leo, satu-satunya titik terang di ruangan ini. "Terima kasih pujiannya," jawab Aru lembut. Nada suaranya terdengar keibuan, namun ada jarak kesedihan di sana. "Dan Leo juga sangat tampan malam ini. Seperti pangeran kecil." Aru menatap mata anak itu dalam-dalam, seolah ingin menyampaikan pesan perpisahan tersirat. "Jangan sakit lagi ya," lanjut Aru. "Ibumu sangat khawatir kemarin. Jangan menyusahkannya... hm?" Di kursinya, Jevas tertegun. Ia memegang gelas wine-nya, namun tidak meminumnya. Matanya terpaku pada profil samping wajah istrinya. Ada yang berbeda dengan Aru malam ini. Biasanya, Aru akan menatap Jevas dengan tatapan memuja, mencari validasi, atau mencoba masuk ke dalam percakapan. Tapi malam ini, Aru tampak... jauh. Sangat jauh. Wanita itu duduk di sana, tapi kehadirannya terasa transparan. Dan saat Aru bicara pada Leo tadi, nada suaranya terdengar final. Jevas merasa terganggu dengan ketenangan istrinya. Rasa dominannya terusik. Ia ingin Aru menoleh padanya. Ia ingin Aru bereaksi. Tanpa sadar, tangan Jevas bergerak. Ia mengambil seekor udang galah besar yang sudah dikupas, mencelupkannya ke saus mentega, lalu meletakkannya di piring Aru. Suara udang jatuh di piring porselen Aru memecah lamunan semua orang. Aru membeku. Matanya menatap ngeri pada benda oranye kemerahan di piringnya. "Makanlah," perintah Jevas dengan nada datar, namun ada intensitas di matanya. "Ibu benar, kamu terlalu kurus. Jangan membuatku terlihat seperti suami yang pelit memberi makan." Itu adalah bentuk "perhatian" ala Jevas. Kasar, kaku, dan penuh gengsi. Masalahnya satu… Jevas lupa. Jevas lupa bahwa tiga tahun lalu, saat bulan madu yang gagal, Aru pernah masuk UGD karena memakan seafood. Jevas lupa bahwa istrinya memiliki alergi parah terhadap udang. Di seberang meja, Hana tersenyum, mengira itu momen romantis. "Ayo coba, Mbak. Udangnya manis.” Nyonya Ratna juga menatap, menunggu Aru menghabiskan makanan itu sebagai bentuk penghormatan. Tangan Aru gemetar di bawah meja. Jika ia menolak dengan kalimat, "Maaf Mas, aku alergi." Jevas akan merasa dipermalukan di depan ibunya. Suasana akan rusak. Jevas akan berkata, "Sejak kapan? Jangan manja." Dan Aru harus menjelaskan panjang lebar, mengemis ingatan suaminya. Itu menyedihkan. Aru tidak ingin mengemis lagi. Ia juga tidak ingin merusak kebahagiaan Leo yang baru sembuh. Biarlah, batin Aru pasrah. Sakit ini tidak akan sebanding dengan kanker yang memakan hatiku. Dengan gerakan perlahan, Aru mengambil garpu. Ia menusuk udang itu. Jevas menatapnya lekat, menunggu. Aru memasukkan udang itu ke mulutnya. Mengunyahnya pelan. Rasanya gurih, tapi bagi Aru, itu rasa racun. Ia menelannya dengan susah payah, diikuti tegukan air putih yang banyak. "Enak?" tanya Jevas. Aru menoleh pada suaminya. Untuk pertama kalinya malam itu, mata mereka bertemu. Mata Jevas yang tajam dan menuntut, bertemu dengan mata Aru yang berkabut dan kosong. "Terima kasih," ucap Aru lirih. Satu menit berlalu. Reaksi itu datang secepat kilat. Dimulai dari rasa gatal yang menjalar liar di langit-langit mulutnya, lalu turun membakar tenggorokan. Kerongkongannya terasa menyempit drastis. Wajahnya mulai terasa panas dan menebal. Nafasnya mulai memendek. Aru meletakkan serbet di meja. Ia harus pergi sebelum ia ambruk di sini. Ia tidak mau mati di depan sup kepiting. "Maaf," Aru berdiri. Kakinya goyah, menabrak kaki kursi hingga menimbulkan bunyi decit yang ngilu. "Mau ke mana lagi?" tanya Nyonya Ratna ketus. "Makanan belum habis." "Toilet... sebentar," cicit Aru. Suaranya sudah berubah, serak dan terjepit. Tanpa menunggu izin, Aru berbalik dan berjalan cepat, setengah berlari, meninggalkan ruang makan. "Dasar tidak sopan," terdengar gerutuan Nyonya Ratna di kejauhan. "Biarkan saja, Bu," suara Jevas terdengar santai, kembali melanjutkan makannya. Di lorong menuju kamar mandi tamu, Aru meraba lehernya. Merah. Kulitnya mulai timbul ruam-ruam merah yang mengerikan. Nafasnya berbunyi ngiik kecil. Uhuk! Aru menabrak pintu kamar mandi, masuk ke dalam, dan langsung mengunci pintu. Dunia berputar. Oksigen seolah ditarik paksa dari paru-parunya. Aru mencengkram pinggiran wastafel marmer, berusaha memuntahkan kembali udang itu. Tapi tenggorokannya sudah terlalu bengkak. Ia tersedak. Air mata mengalir deras bukan karena sedih, tapi karena reaksi fisiologis tubuh yang sekarat. Ia merogoh saku gaunnya, mencari ponsel, tapi tangannya terlalu licin oleh keringat dingin. Ponsel itu tergelincir, jatuh ke lantai, tergeletak jauh di sudut ruangan. Aru merosot ke lantai. Punggungnya bersandar pada pintu kayu yang dingin. Ia mendongak, mulutnya terbuka lebar berusaha meraup udara yang terasa sangat tipis. Dari balik pintu, sayup-sayup terdengar suara tawa Jevas dan Leo dari ruang makan. Mereka tertawa bahagia. Sementara di sini, hanya terpisah beberapa meter dan selembar pintu kayu, Aru sendirian, mencakar lehernya sendiri, berjuang untuk satu tarikan nafas di lantai kamar mandi yang dingin. Pandangan Aru mulai menggelap. Titik-titik hitam menari di matanya. ‘Begini rasanya mati...’ batin Aru pasrah, kesadarannya mulai melayang. ‘Setidaknya, aku tidak merusak makan malam mereka.’ Di luar, denting garpu masih terdengar merdu. Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang mencari. Bau obat. Itu hal pertama yang menyergap indera penciuman Arunaya saat kesadarannya perlahan kembali. Bukan aroma lavender dari diffuser mahalnya, bukan pula aroma segar linen yang biasa ia hirup. Ini bau steril yang dingin, bercampur dengan rasa logam yang pahit di pangkal lidahnya. Aru mengerjap pelan. Kelopak matanya terasa seberat timah. Pandangannya kabur sejenak sebelum akhirnya fokus pada langit-langit kamar yang tinggi dengan ukiran gipsum rumit. Ia ada di kamarnya. Di atas ranjang king size miliknya. Ada selang infus menancap di punggung tangan kirinya, mengalirkan cairan bening setetes demi setetes. Tenggorokannya terasa perih, kering, dan bengkak, seolah seseorang baru saja memaksanya menelan segenggam paku berkarat. Aru tidak ingat bagaimana ia bisa sampai di sini. Ingatan terakhirnya adalah lantai kamar mandi yang dingin, napas yang terputus, dan kegelapan yang menelan rasa sakitnya. Mungkin Bik Sumi mendobrak pintu. Atau mungkin supir. Yang jelas, Aru ragu Jevas yang menggendongnya. "Sudah sadar?" Suara bariton itu memecah hening. Datar. Tanpa nada khawatir sedikitpun. Aru tidak menoleh. Ia tahu pemilik suara itu duduk di mana. Pasti di sofa single beledu di sudut kamar, tempat pria itu biasa duduk sambil mengecek ponsel sebelum tidur. "Sudah tahu alergi, masih kau makan udang itu?" Pertanyaan itu meluncur tajam. Bukan pertanyaan retoris, melainkan tuduhan. Aru masih menatap langit-langit. Ia merasakan denyut nyeri di kepalanya setiap kali jantungnya berdetak. Ia ingin menjawab, 'Karena kau yang memberikannya. Karena aku tidak ingin membuatmu malu di depan mereka.' Tapi bibir Aru terkatup rapat. Lidahnya terlalu lelah untuk berdebat. Lagipula, apa gunanya? Bagi Jevas, kebenaran hanyalah apa yang ingin dia percaya. Terdengar suara langkah kaki mendekat. Bukan langkah terburu-buru, melainkan langkah santai yang berirama. Jevas kini berdiri di sisi ranjang. Aru bisa melihat bayangan tubuh tegap suaminya dari sudut matanya, tapi ia tetap enggan menoleh. "Kau tahu betapa konyolnya aku terlihat tadi?" lanjut Jevas. Nada suaranya kini terdengar kesal, ada arogansi yang terusik di sana. Aru memejamkan mata. Ah, jadi itu masalahnya. Bukan tentang istrinya yang hampir mati tercekik anafilaksis. Bukan tentang nafasnya yang hilang. Tapi tentang citra Shankara Jevas Mavendra. "Ibu menatapku seolah aku suami yang tidak becus," gerutu Jevas. "Dia bertanya bagaimana bisa aku memberimu udang padahal kau alergi. Hana sampai harus menenangkan Ibu yang panik karena kau pingsan di kamar mandi dan membuat acara makan malam berantakan." Aru menarik napas dalam-dalam. Oksigen masuk ke paru-parunya dengan susah payah, menimbulkan bunyi mengi halus. Jadi, di mata Jevas, ketidaktahuannya tentang alergi Aru bukanlah kesalahannya karena tidak peduli selama tiga tahun, melainkan kesalahan Aru karena "menerima" udang itu. Aru yang salah karena tidak menolak. Aru yang salah karena pingsan. Aru yang salah karena merusak suasana. Hati Aru, yang sudah retak oleh vonis kanker, kini hancur menjadi debu. Tidak ada lagi rasa sedih. Tidak ada lagi keinginan untuk menangis atau memohon pengertian. Yang tersisa hanyalah kehampaan yang luas dan gelap. Perlahan, Aru membuka matanya lagi. Ia menghela napas panjang, mengeluarkan semua sisa harapan yang pernah ia miliki untuk pria ini. "Maaf," bisik Aru. Suaranya serak, parau, dan terdengar menyedihkan. Satu kata itu keluar begitu saja. Maaf. Kata sakti yang selalu ia ucapkan selama pernikahan ini untuk meredakan ego Jevas. Jevas terdiam sejenak mendengar permintaan maaf itu. Mungkin dia merasa menang. Mungkin dia merasa Aru sudah mengakui kesalahannya. "Lain kali, pakai mulutmu untuk bicara, bukan cuma untuk makan," sindir Jevas dingin. "Kalau tidak mau, bilang tidak. Jangan cari perhatian dengan cara menyakiti diri sendiri seperti ini. Kekanakan." Cari perhatian. Aru tersenyum miris dalam hati. Lucu sekali. Ia bahkan menyembunyikan kanker stadium duanya agar tidak dianggap mencari perhatian. Dan sekarang, hampir mati karena alergi pun dianggap drama. Cukup. Sudah cukup. Aru menggerakkan tangan kanannya, mencabut paksa selang infus di punggung tangan kirinya. Darah segar merembes keluar dari bekas tusukan jarum, menetes mengotori sprei putih bersih. "Apa yang kau lakukan?!" seru Jevas, kali ini nadanya meninggi karena kaget. "Dokter baru saja memasangnya satu jam lalu!" Aru tidak menjawab. Ia menekan bekas luka itu dengan ibu jarinya asal-asalan, lalu memaksakan tubuhnya untuk bangun. Dunia berputar hebat. Vertigo menyerangnya seketika. Aru terhuyung, memegangi tiang infus agar tidak jatuh. Kakinya gemetar hebat, sisa tenaga dari makan malam tadi sudah terkuras habis. "Arunaya! Kembali tidur!" perintah Jevas. Pria itu maju selangkah, tangannya terulur seolah ingin menahan bahu Aru, tapi berhenti di udara. Aru menepis tangan tak kasat mata itu dengan gerakan tubuhnya. Ia berdiri tegak, meski wajahnya seputih kertas mayat. Ia merapikan gaun tidurnya yang kusut, lalu mulai berjalan. Bukan ke arah kamar mandi. Bukan ke arah Jevas. Tapi ke arah pintu keluar. Alis Jevas menukik tajam. "Mau ke mana kau?" Aru terus berjalan. Langkahnya pelan, diseret, tapi pasti. Ia melewati Jevas begitu saja. Tidak ada tatapan memuja. Tidak ada pamitan. Aru melewatinya seolah Jevas adalah tiang gantungan baju. "Aku bertanya padamu, Aru!" suara Jevas mengeras, memantul di dinding kamar. "Kau masih sakit. Jangan membuat drama lagi dengan keluyuran malam-malam." Aru berhenti tepat di ambang pintu. Tangannya memegang pegangan pintu yang dingin. Untuk pertama kalinya malam ini, Aru menoleh sedikit. Ia tidak melihat wajah Jevas. Ia menatap karpet di bawah kaki suaminya. "Aku mau tidur," jawab Aru pelan, suaranya hampa tanpa emosi. "Di kamar tamu." Hening. Mata Jevas membelalak sedikit. "Apa?" Sejak hari pertama pernikahan mereka, meski Jevas sering tidur di ruang kerja atau pulang pagi, Aru tidak pernah tidur di kamar lain. Aru selalu tidur di ranjang utama, menunggu di sisi tempat tidur Jevas, menjaga "tempat" suaminya tetap hangat. Itu adalah bentuk pengabdian bisu Aru yang Jevas tahu, dan diam-diam ia nikmati sebagai tanda dominasinya. Tapi malam ini, Aru memilih pergi. "Kenapa?" tanya Jevas, nadanya bukan lagi marah, tapi bingung. Kebingungan yang asing. "Kasur ini cukup luas. Aku tidak akan mengganggumu." "Di sini sesak," jawab Aru lirih. Aru tidak menjelaskan sesak apa yang ia maksud. Sesak karena alergi, atau sesak karena tidur di samping pria yang tidak mencintainya. "Istirahatlah. Kau butuh tenaga untuk kerja besok," tambah Aru. Tanpa menunggu balasan, Aru memutar gagang pintu, melangkah keluar, dan menutup pintu kamar utama itu perlahan. Suara kunci pintu yang beradu terdengar sangat keras di telinga Jevas. Jevas berdiri mematung di tengah kamar luas itu. Ia menatap pintu kayu jati yang tertutup rapat. Tangannya masih mengepal di sisi tubuh. Ada perasaan aneh yang menjalar di dadanya. Perasaan yang tidak ia kenali. Biasanya, jika dia marah, Aru akan menangis, memohon maaf, atau berusaha menyentuh lengannya untuk berbaikan. Aru akan membuatkan teh herbal. Aru akan ada di jangkauannya. Tapi kali ini... wanita itu berjalan pergi. Punggungnya yang kurus dan rapuh itu menjauh darinya tanpa ragu sedikitpun. Mata Jevas beralih ke noda darah kecil di sprei putih, bekas Aru mencabut infusnya paksa. Darah itu merah menyala, kontras dengan dinginnya kamar ini. "Dasar keras kepala," gumam Jevas pada ruangan kosong itu, berusaha mengembalikan rasa kesalnya. Namun untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ranjang ukuran King itu terasa terlalu luas. Dan sunyi di kamar itu terasa berbeda. Bukan sunyi yang tenang, tapi sunyi yang mencekam. Sunyi yang ditinggalkan oleh seseorang yang baru saja menyerah. Di luar kamar, di lorong yang gelap, Aru menyusuri dinding menuju kamar tamu di ujung lorong. Air matanya menetes lagi, tapi kali ini ia biarkan. Malam ini adalah malam terakhir ia menangisi Jevas. Besok, air matanya hanya akan ia gunakan untuk meratapi nasibnya sendiri. Aru masuk ke kamar tamu yang dingin dan jarang dipakai itu, meringkuk di bawah selimut tipis, dan memeluk perutnya yang kembali nyeri. Di keheningan itu, ia mulai menyusun rencana. Tiga permintaan. Perceraian. Dan kematian yang tenang. Pukul tujuh pagi di kediaman Mavendra biasanya memiliki ritme yang tidak pernah berubah. Seperti detak jam buatan Swiss, semuanya terukur presisi. Shankara Jevas Mavendra akan menuruni tangga dengan setelan kerja yang licin sempurna, aroma aftershave sandalwood menguar tipis, dan langkah kaki yang tegas. Di ruang makan, kopi hitam tanpa gula harus sudah mengepul di cangkir porselen, koran bisnis terlipat rapi di sisi meja, dan istrinya, Arunaya, duduk manis menunggunya. Namun pagi ini, ritme itu rusak. Saat Jevas menuruni tangga sambil membetulkan kancing mansetnya, yang ia pasang sendiri dengan susah payah karena tidak ada yang membantunya, ia merasakan ada yang salah. Rumah itu terlalu sunyi. Bukan sunyi yang tenang, melainkan sunyi yang melompong. Tidak ada aroma kopi yang baru diseduh. Tidak ada suara denting sendok kecil yang diaduk. Jevas melangkah masuk ke ruang makan. Alis tebalnya menukik tajam saat melihat meja makan itu. Kosong. Tidak ada kopi. Dan yang paling mencolok: tidak ada Arunaya. Kursi di sebelah kanannya, tempat Aru biasa duduk seperti boneka cantik yang setia menunggu tuannya, kini tak berpenghuni. Kursi itu terdorong rapi ke bawah meja, dingin dan tak tersentuh. "Bik Sumi!" panggil Jevas. Suaranya tidak keras, tapi tajam membelah keheningan. Seorang asisten rumah tangga paruh baya tergopoh-gopoh datang dari arah dapur, wajahnya tampak takut-takut. "Iya, Tuan?" "Di mana Nyonya?" tanya Jevas dingin. Ia menarik kursi kebesarannya dan duduk, merasa konyol karena harus bertanya keberadaan istrinya sendiri pada pembantu. "Nyonya... anu, Tuan... Nyonya Aru sudah berangkat," jawab Bik Sumi sambil meremas apronnya gugup. Gerakan tangan Jevas yang hendak mengambil ponsel terhenti. Ia melirik jam dinding. Pukul 07.05. "Berangkat?" ulang Jevas, nada skeptis terdengar jelas. "Ke mana? Salon? Belanja?" Biasanya Aru tidak pernah meninggalkan rumah sebelum Jevas berangkat kerja. Aru selalu mengantarnya sampai pintu, meski di abaikan. Wanita itu selalu berperilaku seperti istri teladan di drama televisi. "Saya kurang tahu, Tuan. Nyonya hanya bawa satu tas jinjing, pakai baju rapi tapi tertutup, terus pesan taksi online. Beliau cuma bilang mau pergi sebentar, tidak bilang ke mana." Jevas mendengus kasar. Taksi online? Istri seorang Mavendra naik taksi umum padahal ada tiga mobil mewah dan dua supir yang menganggur di garasi? "Buatkan kopi. Sekarang," perintah Jevas ketus. Bik Sumi bergegas pergi. Tinggallah Jevas sendirian di meja makan raksasa itu. Ia menatap kursi kosong Aru sekali lagi. Ada perasaan jengkel yang merambat naik di dadanya. Bukan rindu, melainkan rasa kepemilikan yang terusik. Jevas tidak suka perubahannya diganggu. Ia tidak suka pulang ke kamar yang kosong semalam, dan ia tidak suka bangun di rumah yang tanpa pelayanan pagi ini. "Kau mulai berani memberontak, Arunaya," desis Jevas sambil membuka ponselnya, memeriksa jadwal meeting. *** Dua puluh kilometer dari kediaman mewah Mavendra. Stasiun Gambir pagi itu dipenuhi hiruk-pikuk manusia. Suara pengumuman keberangkatan kereta bergema dari pengeras suara, beradu dengan suara roda koper yang ditarik di lantai keramik dan dengung percakapan ratusan orang. Arunaya duduk di salah satu bangku tunggu di area keberangkatan Eksekutif. Ia terlihat berbeda. Tidak ada gaun sutra atau sepatu hak tinggi Jimmy Choo. Aru mengenakan turtleneck krem longgar yang menutupi lehernya (menyembunyikan sisa ruam merah alergi semalam), celana bahan kulot cokelat, dan coat tipis. Rambut panjangnya digerai, sebagian tertutup topi baret berwarna senada. Wajahnya tertutup masker medis. Ia terlihat seperti wanita biasa. Rapuh, lelah, dan ingin menghilang. Di tangannya tergenggam selembar tiket kereta api tujuan Desa Teluk. Sebuah kota kecil di pesisir Jawa Tengah yang tidak populer sebagai destinasi wisata, namun memiliki arti mendalam bagi Aru. Di sanalah makam Neneknya berada. Satu-satunya orang yang pernah mencintai Aru tanpa syarat sebelum meninggal lima tahun lalu. Aru butuh tempat untuk bernapas. Sebelum ia mengajukan cerai, sebelum ia menghadapi kematiannya, ia ingin berpamitan pada Nenek. Ia ingin mengadu. "Perhatian, kereta Argo menuju stasiun akhir..." Aru menghela nafas panjang. Kepalanya masih sedikit pening sisa reaksi anafilaksis semalam, ditambah efek samping kanker yang membuat tubuhnya gampang lelah. Ia merogoh tasnya, mencari botol air minum. "Arunaya?" Gerakan tangan Aru membeku. Suara itu. Berat, sopan, dan familiar. Suara yang kemarin ia dengar di lift rumah sakit. Jantung Aru berdegup kencang. Tolong, jangan dia, batinnya memohon. Perlahan, Aru menoleh. Berdiri dua langkah darinya, sosok Abimana menjulang tinggi. Kali ini, Direktur Rumah Sakit itu tidak mengenakan setelan jas formal. Ia mengenakan kemeja linen putih santai yang lengannya digulung hingga siku, celana chino, dan sepatu loafers. Kacamata bacanya tergantung di kerah kemeja. Dia terlihat lebih muda sepuluh tahun tanpa atribut direkturnya. Sial. Kenapa dunia sesempit ini? "Dokter Abi..." sapa Aru, suaranya teredam masker. Ia tidak bisa menyangkal identitasnya karena Abimana menatapnya tepat di mata. Abimana tersenyum tipis, senyum yang ramah namun penuh selidik. "Saya pikir saya salah orang. Penampilanmu... berbeda sekali dengan kemarin." Aru membetulkan letak topinya, merasa dikuliti di bawah tatapan pria itu. Abimana adalah teman Jevas. Jika Abimana tahu ia pergi keluar kota sendirian tanpa suami, Jevas pasti akan tahu. "Saya... sedang ingin suasana baru," jawab Aru kaku. Ia sengaja tidak membuka maskernya. "Bapak sedang apa di sini?"
Where the ad sends people
nomnovel.com
Klik untuk membaca lebih banyak konten menarik
A wonderland for all kinds of book lovers; Embrace a whole new world of gripping stories.
Learn more: nomnovel.com(opens in a new tab)










