Allnovel-mk1 Facebook ad: “Klik untuk membaca lebih banyak konten menarik Perjaka Tua…”

Ran for 14 days, from February 13 to February 27, 2026, the last day Crush saw it.
Run by Allnovel-mk1 on Facebook. Crush is not the advertiser and does not verify its claims. See this ad in Meta's Ad Library(opens in a new tab)
Want an ad like this for your product?
Crush makes new ad images for your product from this ad: your logo, your product photo, your offer.
Trials from $19.95 USD, then $79.95 USD a month. Cancel anytime.
About this ad
- Meta Ad Library ID
- 1979358642960437
- Platforms
- Facebook, Instagram, Audience Network, Messenger and Threads
- Relaunches
- 1
Ad text
"""""""Satu pertanyaan buat Om Arjun. Kenapa Om gak nikah? Padahal kan usia Om sudah matang, bahkan hampir busuk,"""" tanya Lili dengan lantang. """"Kalau saya jawab karena gak mau, gimana?"""" Arjuna membalas dengan santai. """"Emangnya Om gak mau main gitu-gituan sama istri, Om?"""" tanya Lili lagi. """"Bisa main sendiri,"""" jawab Arjuna yang membuat Lili seketika membulatkan kedua matanya. """"What!!! Jangan-jangan Om gak normal, atau Om sering mainin sabun,"""" celetuk gadis itu tanpa di filter. """"Terserah saya dong, kenapa kamu nanya kayak gitu? Kamu mau saya mainin? Kamu mau melihat pedang saya, hmmmm?"""" Arjuna menatap ke arah Lili dengan sorot mata intens. Tiba-tiba saja Arjuna berjalan mendekat ke arah Lili yang membuat gadis itu terkejut dengan sorot mata yang berbeda ditambah bibir yang tersenyum devil. """"O-om mau ngapain?"""" Seketika Lili memundurkan langkahnya. """"Kamu kan penasaran dan mau lihat, sini biar saya kasih lihat secara langsung."""" Arjuna makin mendekat ke arah Lili.""" ***** "“Om!!” panggil seorang gadis bernama Caroline Hazal. Gadis cantik dan bar-bar itu akrab disapa Lili. Gadis yang mengenakan almamater sebuah universitas tersebut sedang berdiri di halaman rumahnya yang kebetulan tersambung dengan halaman rumah tetangganya. Tetangga Lili bernama Arjuna Budiman, seorang pria berusia matang, akan tetapi di usianya yang sudah hampir menginjak tiga puluh lima tahun itu, ia masih melajang. Hal tersebut yang membuat Lili penasaran, gadis yang berkuliah di jurusan psikologi itu merasa penasaran kenapa seorang pria tidak tertarik kepada lawan jenisnya. Dan hal itu ia lihat pada Arjuna, karena selama ini Arjuna belum pernah dekat dengan perempuan manapun, bahkan pria itu selalu sendiri di rumahnya. Karena kedua orang tuanya sudah tiada sejak lama. Sebenarnya Arjuna memiliki seorang adik laki-laki bernama Dewangga yang masih duduk di bangku kuliah. Namun, Dewa lebih memilih tinggal di kos-kosan daripada di rumah bersama dengan kakaknya yang dingin dan irit bicara. “Om Arjun!!!” panggil Lili untuk yang kedua kalinya, karena sang pemilik nama masih terdiam, Arjuna hanya fokus pada motor kesayangan. Ya, saat ini Arjuna sedang membersihkan motor legenda yang lebih sering ia bawa daripada dua mobil yang terparkir di garasi rumahnya. Entah apa yang membuat pria itu lebih suka menaiki motor tua itu daripada mobil yang terbilang cukup mewah. “Om Arjun, telinganya masih berfungsikah?” teriak Lili dengan suara lebih keras lagi. Pria berkulit hitam manis dan memiliki kumis tipis itu menghentikan kegiatannya yang sedang mengelap motor kesayangannya. Arjuna memasukkan kanebo yang sedari tadi dipegangnya ke dalam ember berisi air dan buih busa pembersih. “Hmmm … kirain semut yang teriak-teriak.” Arjuna menoleh ke arah Lili. “Njir, mana ada semut cantik dan seksi begini?” Lili melenggak-lenggokkan tubuhnya. “Ada apa? Kenapa manggil-manggil?” tanya Arjuna dengan nada dingin. Ia sudah tak asing lagi dengan anak tetangganya yang cerewet itu. Arjuna selalu menganggap Lili adalah anak kecil, karena ia juga tahu masa kecilnya Lili. Mereka sudah bertetangga sejak lama, dulu Arjuna tinggal bersama orang tuanya di rumah itu, namun sekarang kedua orang tuanya sudah tiada. “Satu pertanyaan buat Om Arjun. Kenapa Om gak nikah? Padahal kan usia Om sudah matang, bahkan hampir busuk,” tanya Lili dengan lantang. “Kalau saya jawab karena gak mau, gimana?” Arjuna membalas dengan santai. “Emangnya Om gak mau main gitu-gituan sama istri, Om?” tanya Lili lagi. “Bisa main sendiri,” jawab Arjuna yang membuat Lili seketika membulatkan kedua matanya. “What!!! Jangan-jangan Om gak normal, atau Om sering mainin sabun,” celetuk gadis itu tanpa di filter. “Terserah saya dong, kenapa kamu nanya kayak gitu? Kamu mau saya mainin?” Arjuna menatap ke arah Lili dengan sorot mata intens. “Noooo!!! Bapak, tolong!!! Aku mau di anu Om Arjun!” teriak Lili dengan suara kencang. “Astaghfirullah … bocah ini, bukannya berangkat kuliah, malah nongkrong di mari. Berangkat gak lo! Atau Bapak copot ban motor kamu, Lili!” teriak seorang pria paruh baya yang muncul dari arah pintu rumahnya. “Ampun, Pak. Daripada bapak copotin ban motor aku, mending Bapak ngitung bulu ayam aja biar ada kerjaan.” Setelah mengatakan itu, Lili langsung tancap gas dan membawa motornya dengan cepat. “Dasar anak monyet! Eh, ngomong-ngomong, kalau anaknya monyet, berarti bapaknya juga ….” “Monyet!” jawab Arjuna sambil terkekeh. “Sialan lo, Jun, ikut-ikutan aja,” gertak pak Hidayat. “Ayo ngopi, Pak!” ajak Arjuna. “Bisa ae lo meluluhkan hati gue. Ayo, gue bawa dari rumah ya, gelasnya. Biar lo gak banyak cucian, lo kan sama kayak gue, kagak ada istri. Cuma bedanya gue duda ditinggal mati, nah lo jejaka ditinggal kawin,” seloroh pak Hidayat yang membuat Arjuna hanya membalas dengan kekehan. *** Setelah tiba di kampus, Lili langsung masuk ke dalam kelas, karena kedua sahabatnya sudah ada di sana. “Li, tugas lo udah selesai belum?” tanya Vini, seorang gadis berambut sebahu yang hobi nyontek. “Belum, santai aja, masih ada waktu. Kan dikumpulkannya Minggu depan,” jawab Lili seraya membanting tasnya ke atas meja, kebiasaan gadis itu ketika ia masuk ke dalam kelas. “Btw, lo mau ambil tema apa, Li?” tanya Jira, teman dekat Lili yang hobi minum susu formula. Bahkan, gadis berkulit putih dan bermata sipit itu sering membawa botol susu ke kampusnya. “Gue mau ambil tema jejaka Tua, kebetulan ada tetangga gue yg udah mau tiga puluh lima tahun tapi belum nikah-nikah,” jawab Lili tanpa ragu. “Buset, tar lo observasinya gimana, Li?” Vini menatap sahabatnya yang agak aneh itu dengan dahi mengerut. “Gampang, biar gue observasi langsung, gue harus cari tahu kenapa dia sampai tidak mau menikah, apakah dia memiliki kelainan psikologi atau kelainan gender.” Lili tertawa di akhir kalimatnya. “Lo observasi kelaminnya gitu?” celetuk Jira dengan wajah polosnya. “Iya, nanti gue pegang burungnya, masih bisa berdiri gak,” jawab Lili yang memang suka ceplas-ceplos dalam berbicara. “Koplak, kalau berdiri nanti lo apain?” Vini menoyor pelan kepala sahabatnya itu. “Gue masukin ke dalam botol.” “STRES!!!” timpal Vini dan Jira serentak. “Berisik lo berdua, eh btw kok di kursi gue ada coklat? Dari siapa nih?” Lili mengambil sebuah coklat yang tergeletak di atas kursinya. “Lo baca aja sendiri, ada tulisannya tuh,” jawab Jira sambil menunjuk ke arah coklat tersebut. “Feeling gue gak enak nih.” Lili mulai membuka kertas ucapan yang menempel pada belakang coklat yang dipegangnya. “Good morning my Lili, balikan yuk!” Lili membaca tulisan pada kertas itu. “Anjay, pagi-pagi diajak balikan,” celetuk Vini yang mendengar ucapan Lili tadi. “Dari Nico ya?” tanya Jira penasaran. Lili terdiam sejenak, ia dan Nico baru putus tiga hari yang lalu. “Dari siapa lagi, si Nico masih bucin sama lo, Li,” timpal Vini. “Ya udah sih, balikan aja. Gue liat-liat kayaknya lo juga masih sayang sama dia, Li.” Jira memberi saran, karena ia menjadi saksi hujan air mata dari sahabatnya setelah putus. “Btw, kemarin lo sama si Nico putus karena apa sih?” tanya Jira dengan penasaran. Karena Lili belum sempat menceritakan itu padanya. “Gara-gara si Nico ngajak ngewong,” jawab Lili yang membuat kedua sahabatnya langsung terlihat syok. “Anjir, serius?” Vini bertanya dengan kedua mata yang terlihat membulat. “Husssstttt … jangan kencang-kencang ngomongnya.” Lili menempelkan jari telunjuk pada bibirnya, agar kedua sahabatnya itu memelankan nada bicara mereka, karena saat ini mereka sedang berada di depan kelas. “Terus, kenapa lo gak mau?” celetuk Jira. “Mata lo!” gertak Lili yang membuat Vini seketika langsung memecahkan tawanya. Setelah itu, tak lama kemudian datang seorang dosen yang akan memulai materi. *** Hari ini, Lili mengikuti pelajaran dengan mata yang terasa berat, karena semalam ia begadang. Bukan karena belajar, akan tetapi karena ia maraton nonton drakor. “Li, kita duluan ya!” teriak Vini dan Jira, kedua gadis itu sudah naik ke atas motor dan berboncengan. Vini yang membawa motor matic itu segera menancap gas dan keluar dari kampus. “Asem banget lo pada ninggalin gue.” Lili menggerutu. Suasana di kampus mulai sepi, tapi sedari tadi motornya tidak mau menyala. Lili sudah beberapa kali menstarter motornya, akan tetapi roda dua itu masih tak mau menyala. Vini dan Jira tidak tahu kalau motor Lili rusak, oleh karenanya kedua gadis itu langsung pulang. “Njir, ini kenapa lagi motor gak bisa nyala? Masa iya rusak lagi, perasaan baru kemarin keluar dari rumah sakit.” Lili menggaruk kepalanya yang tak gatal sampai membuat rambut lurusnya itu terlihat berantakan. “Li, kenapa?” tanya seseorang yang membuat Lili terdiam sejenak, ia merasa sudah tak asing lagi dengan suara itu. “Motor kamu mogok ya? Aku bantu kamu,” ucap seorang pemuda yang berdiri tepat di belakang Lili. Gadis itu membalikkan badannya dengan perlahan. “Ni-nico, kamu belum pulang?” Entah kenapa, Lili merasa takut pada pemuda bertubuh tinggi dan berkulit putih itu. Padahal, sebelum putus, ia dan Nico sudah berpacaran selama lima bulan. “Belum, kebetulan aku tadi baru keluar dari kelas. Li, aku kangen banget sama kamu.” Nico melangkah maju agar lebih dekat dengan Lili. “Nico, jangan macam-macam ya, aku belum siap buat ….” Lili tak melanjutkan ucapannya, ia malah mengarahkan sorot matanya pada bagian bawah Nico. Lili merasa takut pada pemuda itu, karena ia pernah melihat Nico sedang mabuk dan mengajaknya untuk melakukan hubungan s*x. Oleh karena itu juga Lili langsung memutuskan Nico. “Li, kamu kenapa takut gitu? Aku gak ngapa-ngapain kamu kok, aku cuma mau peluk kamu.” Nico semakin mendekat. Lili mundur dengan perlahan, setelah itu ia langsung lari dengan cepat keluar dari kampus. Gadis itu meninggalkan motor beserta kuncinya, ia benar-benar merasa takut kepada Nico, karena Lili melihat sorot mata yang berbeda dari pemuda itu, ia takut Nico sedang mabuk. “Gue harus kabur, gue takut banget, kayaknya si Nico mabuk lagi. Kenapa kamu jadi kayak gini, Nico? Padahal dulu kamu adalah cowok baik.” Lili berbicara sambil lari, ia takut Nico mengejarnya. Lili berlari kencang, tapi ia tak memperhatikan sekitar, gadis itu melewati perempatan tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri. “Astaghfirullah …” teriak seseorang yang langsung mengerem motornya secara mendadak. Hampir saja ia menabrak Lili yang tiba-tiba muncul dari arah kiri. “Aaaaaa … Om Arjun!” teriak Lili setelah menyadari kalau orang yang hampir menabraknya itu adalah Arjuna. “Kok kamu tahu ini saya?” tanya Arjuna sambil membuka helmnya. “Siapa lagi yang pake motor butut kayak gini?” Lili berkacak pinggang di hadapan pria itu. “Kamu ngapain lari di tengah jalan? Mau bunuh diri?” Arjuna meminggirkan motornya agar tidak menghalangi pengendara lain. “Motor aku mogok di kampus, aku ikut pulang Om, Om mau pulang kan?” Lili langsung naik ke atas motor Arjuna tanpa menunggu persetujuan terlebih dahulu dari pria itu. “Ck … nambah beban aja,” gerutu Arjuna tapi dengan nada pelan. “Kalau nolongin orang harus ikhlas, Om,” protes Lili yang kini telah duduk di belakang Arjuna. “Iya-iya, ada-ada aja, lain kali kalau lewat jalan itu hati-hati. Untung aja tadi saya masih bisa rem,” ucap Arjuna yang mulai kembali menyalakan motornya. “Iya, Om, lagian tadi aku buru-buru, aku takut dikejar orang, Om,” jelas Lili. “Kenapa dikejar? Kamu punya hutang ya?” balas Arjuna, pria itu mulai menjalankan motornya. “Enak aja! Aku gak pernah ngutang ya, Om. Paling aku minta. Btw, Om dari mana? Kok bau bunga kuburan? Apa jangan-jangan Om mau mati?” celetuk Lili sambil mengendus aroma dari tubuh Arjuna. “Mulut kamu ya! Saya abis dari kantor,” jawab Arjuna sedikit menoleh ke arah Lili yang duduk di belakangnya. “Kenapa Om suka naik motor butut ini terus? Padahal kan Om punya mobil,” tanya Lili lagi yang memang cerewet. “Biar kamu gak numpang, kalau saya naik mobil, nanti kamu numpang terus,” jawab Arjuna asal. “Jahat banget jadi tetangga. Padahal kan lumayan kalau aku numpang sama Om terus, kan tempat kerja Om sama kampus aku searah.” “Gak mau saya diikutin kamu terus, lebih baik kamu nyari tumpangan yang lain,” jawab Arjuna. “Sebenarnya tadi itu aku mau dianterin sama mantanku, Om. Tapi aku gak mau.” Lili sedikit bercerita. “Kenapa gak mau? Kan lumayan dapat tumpangan gratis.” Arjuna membenarkan kaca spion motornya, agar ia bisa melihat wajah Lili ketika berbicara. “Karena aku takut diapa-apain Om sama dia,” jawab Lili jujur. “Terus, kalau sama saya kamu gak takut diapa-apain gitu?” tanya Arjuna lagi. “Nggak, karena aku gak yakin kalau Om itu normal,” jawab Lili yang seketika membuat Arjuna langsung rem mendadak. Karena Arjuna mengerem mendadak, membuat Lili yang duduk di belakangnya ikut terhuyung ke depan, dadanya menempel tepat pada punggung tegap Arjuna. “Om, apa-apaan sih? Aku hampir aja jatuh!” oceh Lili dengan suara kencang agar terdengar oleh telinga Arjuna. Karena Arjuna ngerem mendadak, membuat Lili yang duduk di belakangnya seketika “Saya kaget denger omongan kamu tadi,” jawab Arjuna seraya menoleh ke arah Lili yang masih duduk di belakangnya. “Kaget sih kaget, tapi gak rem mendadak juga kali. Sampai gunung kembarku hampir erupsi, untung aja nempelnya di punggung Om,” oceh Lili kembali sambil memukul punggung Arjuna. “Saya yang rugi ketempelan gunung kembar kamu yang imut itu,” balas Arjuna. “Iya, Om kan gak normal.” Lili terdengar kesal. “Enak aja!” Arjuna kembali menyalakan motornya yang tadi sempat berhenti di pinggir jalan. “Udah, buruan jalan lagi Om, aku ngantuk. Pengen cepat sampai rumah dan tidur.” Lili menepuk punggung Arjuna agar pria itu kembali menjalankan motornya. “Udah numpang, ngatur lagi,” protes Arjuna, akan tetapi pria itu segera menjalankan motornya. Jarak dari kampus ke rumah Lili cukup jauh, terlebih lagi saat ini di jalan utama menuju rumahnya terlihat macet karena ada perbaikan jalan. Lili mulai menguap, matanya terasa berat, kantuk kembali menyerang kedua matanya, padahal ia masih berada di atas motor. Lili memang gampang tidur, apalagi di siang hari, karena malamnya gadis itu habiskan untuk nonton drakor. Arjuna fokus mengendarai motornya, karena jalanan cukup ramai, jadi ia harus fokus. Cukup lama motor itu melaju, namun ia tak mendengar suara Lili lagi. Arjuna merasa seperti ada kedua tangan yang sedang melingkar pada perutnya. Pria itu mengarahkan sorot mata pada bagian perutnya, dan benar saja saat ini kedua tangan Lili sedang memeluknya. Entah apa yang dirasakan gadis itu sampai tiba-tiba saja memeluk Arjuna. Mungkin, Lili membayangkan kalau saat ini ia sedang berboncengan dengan Nico. “Ngapain ni anak peluk-peluk?” gumam Arjuna, pria itu membenarkan kaca spion agar ia bisa melihat wajah Lili yang berada di belakangnya. Benar saja feeling pria itu, saat ini Lili sedang memejamkan kedua matanya. Bahkan, gadis itu juga menyandarkan kepala pada punggung tegap Arjuna. “Ya ampun, malah tidur. Dasar bocah, bikin repot aja,” guman Arjuna kembali sambil memelankan laju roda duanya, karena ia takut Lili terjatuh. Arjuna menyentuh punggung tangan Lili dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya masih memegang stang motor. Pria itu mengusap punggung tangan Lili dan berusaha membangunkan. “Li, Lili … bangun,” ucap Arjuna sambil mengusap punggung tangan Lili. Namun, bukannya bangun, gadis itu malah semakin mengeratkan pelukannya. “Astaghfirullah … Li, bangun!! Jangan tidur, nanti kamu jatuh,” ucap Arjuna lagi yang masih berusaha membangunkan Lili. “Hmmmm ….” Namun, gadis itu hanya bergumam. “Ck … gak beres nih anak.” Arjuna tak menghentikan motornya, pria itu memegang kedua tangan Lili yang melingkar pada perutnya, dengan tangan kiri. Sementara tangan kanannya ia gunakan untuk memegang stang motor. Arjuna terlihat seperti seorang ayah yang sedang menjaga putrinya agar tidak terjatuh. Ditambah lagi, ukuran tangan Lili yang imut sangat berbeda jauh dengan tangan Arjuna yang besar dan kekar. Arjuna terus membawa motornya sampai ke jalan menuju rumah mereka. Pria itu menghentikan motornya di halaman rumah Lili yang sangat dekat dengan halaman rumahnya. “Astaghfirullah … anak gue kenapa? Si Lili kenapa, Jun?” teriak seorang pria paruh baya yang langsung bangkit dari duduknya. Pak Hidayat yang sedang duduk santai di teras rumahnya sambil menikmati segelas kopi, seketika terjingkat saat melihat Arjuna datang sambil membonceng Lili yang sedang memejamkan kedua matanya. Pria paruh baya itu langsung melempar peci merah dan sarung yang dikenakannya. Ia berlari ke arah motor Arjuna yang sedang terparkir di halaman rumahnya. “Lili, lo kenape Li? Masa mau mendahului Bapak sih Li? Lo gak kasihan apa sama Bapak? Belum juga Bapak kawin lagi, masa lo udah ninggalin Bapak sih, Li?” teriak pak Hidayat yang histeris sendiri. Arjuna yang mendengar itu, hanya menghela nafas dan geleng-geleng kepala. Anak dan bapak memang sama-sama dramatis. Pak Hidayat berdiri tepat di samping Lili, pria paruh baya itu memperhatikan wajah putrinya yang menempel pada punggung Arjuna. “Anak monyet, kirain mati, ternyata tidur, sampe ngiler di jaket lo Jun!” teriak pak Dayat sambil mencubit hidung Lili yang membuat gadis itu seketika membuka kedua matanya. “Beneran ngiler, Pak? Hadehhh … bahaya ini si Lili.” Arjuna langsung menoleh ke arah Lili yang mengucek mata sambil prengat-prengut. Sepertinya gadis itu sedang berusaha mengumpulkan kesadaran. “Apaan sih? Pada berisik banget, orang lagi mimpi indah juga.” Lili malah kembali menempelkan kepalanya pada punggung Arjuna. “Lili, turun, kita udah nyampe,” ucap Arjuna. “Astoge … ternyata sedari tadi aku tidur di sini. Ikh, Om pasti kesenengan aku peluk. Bapak juga kenapa diam aja sih lihat anaknya diperlakukan seperti ini? Semua laki-laki sama aja!” oceh Lili sambil melepaskan pelukannya. Gadis itu segera turun dari motor dan berlari masuk ke dalam rumah. Seketika Arjuna dan pak Dayat saling melempar pandangan. Kedua pria itu geleng-geleng kepala ketika melihat tingkah Lili yang tiba-tiba berubah. “Kalau gitu, saya permisi dulu, Pak.” Arjuna menyalakan motornya kembali, pria itu menjalankan motor sampai ke rumahnya. Sementara Lili masuk ke dalam kamar, gadis itu langsung melepaskan tasnya dan menjatuhkan tubuh ke atas kasur. Ia akan melanjutkan tidurnya. Ia yakin setelah ini ayahnya akan menggedor pintu kamarnya untuk menanyakan motor. Lili belum kepikiran soal motornya yang ia tinggalkan di kampus. Di luar rumah, pak Dayat masih berdiri di halaman rumahnya, pria paruh baya itu sedang bertanya-tanya sendiri, kemana motor Lili? Kenapa gadis itu pulang bersama Arjuna? Pak Dayat ingin bertanya kepada Arjuna, namun pria itu kini sudah masuk ke dalam rumahnya. “Kemana motor si Lili? Jangan-jangan ada yang maling,” gumam pak Dayat sendiri. Namun, tak lama kemudian datang seseorang yang membawa sebuah motor matic. Motor itu sudah tak asing lagi di mata pak Dayat. “Eh, ini motor anak gue, lo malingnya ya!” tuding pak Dayat yang langsung memasang kuda-kuda, bersiap untuk memberikan serangan kepada seorang pemuda yang kini telah menghentikan motor tersebut di hadapan pak Dayat. “Lo maling kan?!” tuding pak Dayat lagi yang siap melemparkan bogeman. “Tenang dulu, Pak. Saya bukan maling.” Pemuda itu membuka helmnya. “Siapa lo? Kenapa lo malah bawa motor anak gue?” sergah pak Dayat sambil menatap intens ke arah pemuda berkulit putih itu. “Kenalin, Pak. Saya Nico, pacarnya Lili. Tadi motor Lili mogok di kampus, jadi saya benerin terus saya antar ke sini,” ucap Nico sambil turun dari atas motor Lili. “Hah, pacar? Jadi si Lili udah punya pacar? Laku juga anak gue. Mana ganteng lagi pacarnya.” Seketika pak Dayat tersenyum dengan mata yang masih menatap ke arah wajah Nico. Pria paruh baya itu memperhatikan penampilan Nico dari atas sampai bawah. “Lili-nya ada, Om?” tanya Nico. “Ada … si Lili ada di dalam, mau masuk dulu?” tanya pak Dayat yang mendadak berubah ramah. “Boleh, Om. Saya mau ketemu Lili,” jawab Nico dengan penuh semangat, karena ia ingin bertemu dengan Lili. “Ayo masuk dulu, Om panggilkan si Lili,” ajak pak Dayat seraya berjalan ke arah rumahnya. Nico yang mendengar itu, langsung mengikuti langkah pak Dayat tanpa menunggu lama lagi. Selama mereka berpacaran, Lili tidak pernah mengajak Nico ke rumahnya. Jadi, ini untuk yang pertama kalinya Nico datang ke rumah Lili. “Ayo masuk, tapi ngomong-ngomong namamu siapa tadi? Om lupa, maklum kebanyakan mikir. Jangan-jangan namanya Sapri lagi.” Pak Dayat menghentikan langkahnya setelah tiba di dalam rumah. “Nama saya Nico, Om,” jawab Nico dengan ramah. “Nico, duduk dulu, biar Om panggil si Lili dulu. Kayaknya tuh anak tidur lagi deh.” Pak Dayat berjalan ke arah kamar putrinya. “Iya, Om, terima kasih.” Nico duduk di ruang tamu yang berada tepat di depan kamar Lili. Tok! Tok! Tok! “Li … Lili bangun, ada pacar kamu nih!” teriak pak Dayat setelah mengetuk pintu kamar Lili. Pria paruh baya itu berdiri sambil berkacak pinggang di depan kamar putrinya. Namun, sama sekali tak ada jawaban dari dalam yang membuat pak Dayat kembali mengetuk, bahkan kali ini pria paruh baya itu menggedor kamar putrinya. “Lili bangun!!! Ada Nico pacar kamu nih!” teriak pak Dayat dengan suara kencang agar mampu mengguncang gendang telinga putrinya. Seketika Lili yang sedang terbang di alam mimpi langsung membuka kedua matanya setelah mendengar teriakan sang ayah. “Iya, Pak, kenapa teriak-teriak?” Lili mengucek kedua matanya. “Ada Nico pacar kamu di sini,” teriak pak Dayat lagi yang membuat Lili langsung bangkit dari atas kasur. Gadis itu terjingkat, ia membuka kedua matanya lebar-lebar. “Hah, Nico? Beneran ada si Nico di sini? Ngapain dia?” Lili turun dari ranjang dengan cepat, gadis itu mendekat ke arah pintu. Ia mengintip dari lobang kunci kamarnya dan benar saja ada seorang pemuda yang sedang duduk di ruang tamu rumahnya. Ia benar-benar merasa terkejut, jujur saja Lili masih merasa takut kepada pemuda itu. “Gak, gue gak mau ketemu si Nico, gue harus kabur. Lagian, Bapak kok ada-ada aja pake masukin tuh anak segala ke dalam rumah.” Lili menjadi panik sendiri. Gadis itu setengah berlari ke arah jendela kamarnya. Lili membuka jendela kamar dengan hati-hati, setelah itu ia naik ke atas jendela dan melompat keluar. “Kabuuurrr!!!” Lili berlari ke arah rumah sebelah, ia akan mencari tempat untuk bersembunyi. Kebetulan rumah di sampingnya itu adalah rumah Arjuna. Lili berlari ke arah rumah tetangganya itu, ia tak peduli apapun, yang jelas saat ini ia harus melarikan diri dari Nico. Gadis itu melihat jendela rumah Arjuna yang terbuka, dan tanpa berpikir panjang lagi, Lili langsung naik ke atas jendela dan masuk ke dalam rumah Arjuna. Namun, ternyata ia malah masuk tepat di kamar pria itu. “Eh buset, gue lupa ternyata ini kamarnya Om Arjun,” ucap Lili dengan suara pelan. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar yang terlihat sepi, tidak ada satu orang pun di sana. Lili juga tidak melihat keberadaan Arjuna, entah pergi kemana pria itu. Tiba-tiba saja, jiwa kepo Lili meronta, ia ingin melihat apa saja yang ada di dalam kamar tetangganya. Karena selama ini, Arjuna adalah orang yang cukup misterius dan tertutup. Mulai dari pekerjaannya yang tidak Lili ketahui detail, serta dari kisah hidupnya terutama dari percintaan. Lili merasa penasaran, apakah pria itu pernah merasakan jatuh cinta? Atau mungkin Arjuna tidak normal sejak kecil. Di kamar itu juga tidak ada satu foto pun yang terpajang, hanya ada beberapa lukisan abstrak dan tumpukkan buku-buku. Ada juga alat musik seperti gitar dan biola, bahkan Lili tidak tahu kalau pria itu bisa bermain gitar apalagi biola. Lili mendekat ke arah ranjang, ia melihat sebuah foto yang tergeletak di samping bantal. Namun, sayangnya foto itu diletakkan terbalik, jadi Lili tak dapat melihat gambar pada foto tersebut. Karena jiwa kepo Lili sudah akut, jadi gadis itu berniat untuk mengambil foto tersebut dan melihatnya. Ia benar-benar merasa penasaran dengan gambar pada foto yang sepertinya sudah lama itu, terlihat dari bagian belakangnya yang mulai menguning, tidak putih bersih seperti foto yang masih baru. Lili menggerakkan tangannya, ia akan mengambil foto tersebut. Namun, tiba-tiba saja …. “Ngapain kamu di sini?” Suara itu benar-benar mengejutkannya. Lili menarik kembali tangannya yang sudah hampir menyentuh foto itu. Ia segera membalikkan badan, namun Lili malah semakin dibuat terkejut saat ia melihat Arjuna kini sedang berdiri di hadapannya sambil terbuka dada. Sepertinya pria itu baru selesai mandi, ia hanya memakai sehelai handuk yang melingkar pada pinggangnya. Lili terdiam membeku, ia memperhatikan Arjuna dari atas sampai bawah dan arah sorot mata gadis itu berhenti tepat di bawah perut Arjuna. Entah apa yang sedang ia lihat. Lili terkejut ketika melihat tubuh kekar Arjuna, selama ini ia tidak pernah melihat pria itu buka-bukaan. Ternyata tubuh Arjuna sangat gagah dan atletis. Pria itu memiliki otot lengan dan perut yang kekar, tak hanya itu, Arjuna juga memiliki bulu-bulu halus yang tumbuh di tengah-tengah dada dan perutnya. Ternyata, pria yang selama ini Lili katakan tidak normal itu memiliki tubuh yang sangat atletis. “Dari badannya oke, tapi entah kalau dari ….” Lili masih mengarahkan pandangannya pada area perut Arjuna. Entah apa yang sedang berada di dalam pikiran gadis itu sampai ia berbicara seperti tadi. “Apa? Kenapa kamu berbicara seperti itu? Kamu mau melihat pedang saya, hmmmm?” Tiba-tiba saja Arjuna berjalan mendekat ke arah Lili yang membuat gadis itu terkejut. Terlebih lagi, ketika ia melihat sorot mata Arjuna yang berbeda. Pria itu menatapnya intens dengan bibir yang tersenyum devil. Sungguh ini adalah ekspresi yang sebelumnya tidak pernah Lili lihat dari pria itu. “O-om mau ngapain?” Seketika Lili memundurkan langkahnya. Namun, langkah kakinya malah mentok karena ia berada tepat di samping ranjang. “Kamu kan penasaran dan mau lihat, sini biar saya kasih lihat secara langsung.” Arjuna semakin mendekat ke arah Lili. “Om jangan macam-macam ya, atau aku teriak sekarang,” ancam Lili ketika melihat Arjuna semakin mendekat ke arahnya. Gadis itu malah langsung terlihat ketakutan, bahkan kulit wajahnya mendadak jadi pucat. “Teriak aja, kan yang duluan masuk ke dalam kamarku itu kamu, jadi biar kamu yang dituduh ngintip saya,” balas Arjuna dengan santai. “Enak aja, aku gak nafsu ya sama Om,” balas Lili yang tak mau kalah. “Emang kamu pikir saya nafsu sama body kerempeng kayak kamu itu,” balas Arkuna lagi. “Idih, belum juga lihat dalamnya, udah ngomong kayak gitu.” Lili terdengar angkuh. “Kalau gitu, saya mau lihat dalamnya bagaimana?” Arjuna mengangkat alisnya. “Oke, tapi aku juga mau lihat dalamnya punya Om. Awas aja kalau gak panjang dan besar.” Lili menahan tawa. “Stres! Udah, keluar kamu. Ngapain di kamar saya?” usir Arjuna. “Ini kita gak jadi saling lihat-lihatan, Om?” Wajah tegang dan ketakutan Lili seketika berubah. “Kamu ini gak ada takut-takutnya ya sama saya. Keluar sekarang dari kamar saya, saya gak mau ya dimarahi Bapak kamu gara-gara ngumpetin anaknya di sini,” usir Juna sekali lagi. “Ya udah aku keluar, tapi aku izin sembunyi di rumah Om dulu ya. Please … aku takut Om, di rumahku ada mantanku. Aku gak mau ketemu dia.” Lili terdengar memohon. “Bukan urusan saya, cepat keluar! Saya mau ganti baju.” Juna berjalan ke arah lemari pakaian. “Mau aku pakaikan gak, Om?” tawar Lili yang semakin ngelantur. “Anak kecil ini, ganggu saja. Cepat keluar!” usir Juna dengan nada penekanan agar Lili segera keluar dari kamarnya. “Ck … iya-iya, dasar Om-om ketus.” Lili berjalan ke arah pintu kamar. “Eh, ngapain ke situ? Kamu kan tadi masuk lewat jendela, sekarang keluar lewat jendela lagi!” titah Juna yang seketika menghentikan gerakkan tangan Lili, padahal sebentar lagi tangannya menyentuh kenop pintu. “Pelit banget sih, aku numpang ngumpet.” Lili tak menghiraukan ucapan Juna, ia membuka pintu kamar dan keluar. Juna hanya geleng-geleng kepala, ia sudah biasa dengan tingkah Lili yang seperti itu. Lili berjalan ke arah sofa yang terdapat di ruang televisi, kedua matanya masih terasa ngantuk, disaat ia sedang nyenyak tidur, ada saja gangguannya. “Hoaaaammm … enak juga rumah Om Juna. Walaupun di sini gak ada perempuan, tapi rumahnya tetap bersih.” Lili menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa. “Kenapa sih dia gak nikah aja? Kan kalau Om Juna nikah, lumayan gue punya tetangga cewek. Ini semuanya cowok, Bapak gue duda, Om Juna jejaka tua, sebelah rumah gue lagi aki-aki, gak ada yang bener emang.” Lili mengoceh sendiri. Namun, ia merasa seperti ada yang mengganjal di dekat kepalanya. “Apaan nih? Perasaan tadi gak ada apa-apa di sofa ini, apa gue gak liat ya?” Lili sedikit mengangkat kepala, ia mengambil kain yang sempat ia tindih itu. “Anjir, s3mp4k, bisa-bisanya ada bendera Spiderman di sini. Om Juna abis ngapain coba?” Lili memegang kain berwarna hitam itu lalu melemparkannya ke sembarang tempat. Sebelumnya ia tidak melihat benda itu di atas sofa, mungkin karena sofa berwarna hitam dan sama dengan benda tersebut, Lili jadi tidak melihatnya. “Jangan-jangan, Om Juna abis ….” Seketika Lili menggerakkan kedua bahunya saat ia membayangkan sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri. “Hih, ngeri. Jangan-jangan dia gak nikah-nikah karena dia lebih suka main sama sofa, daripada sama manusia,” gumam Lili lagi yang kembali merebahkan tubuhnya. Entah kenapa ia merasa nyaman di rumah itu, rumah Juna terasa adem dan menenangkan yang membuat dirinya malas untuk pulang, apalagi mungkin Nico masih ada di rumahnya. “Tapi kalau dilihat-lihat, Om Juna ganteng juga. Badannya sixpack, apalagi tadi gue liat ada bulu-bulu halus yang tumbuh di dada dan perutnya. Uh, gue jadi penasaran rasanya.” Lili menggigit jari telunjuknya sendiri. Ia jadi teringat film biru yang pernah ia tonton. Akan tetapi, entah kenapa ia tidak tertarik untuk melakukan itu bersama dengan Nico. Pemuda itu memang tampan, akan tetapi dari segi body, Lili lebih menyukai bentuk tubuh Arjuna yang kekar dan gagah. “Om, s3ntuh aku dong.” Lili berbicara dengan nada manja. Gadis itu berbicara sendiri sambil duduk dengan posisi dada yang sengaja ia busungkan ke depan. “Kenapa kamu?” Suara itu sangat mengejutkan Lili. Ia langsung menoleh ke arah Juna yang baru keluar dari kamarnya. “Eh, Om Juna.” Lili membenarkan rambutnya kembali dengan bibir yang senyum-senyum sendiri. “Aneh,” ucap Juna singkat. Pria itu berjalan ke arah dapur. “Om, mau kemana?” Lili mengejar langkah Juna, gadis itu mengikutinya ke arah dapur. “Mau bikin kopi, kamu kenapa sih ngikutin saya terus? Pulang sana, nanti Bapak kamu nyariin,” usir Juna. “Aku gak mau pulang, ada mantanku di rumah,” jawab Lili yang mensejajarkan langkah dengan Juna. “Terus, kamu mau pindah ke sini?” Juna menghentikan langkah, pria itu menoleh ke arah Lili yang malah sengar-sengir sendiri. “Gimana kalau hari ini aku cosplay jadi istrinya, Om. Kebetulan aku lagi ada tugas kuliah. Jadi aku ambil tema, kenapa seseorang memutuskan untuk tidak mau menikah. Terus, aku kan perlu observasi. Dan sekarang aku mau observasi langsung sama Om. Karena Om gak nikah-nikah diusia Om yang sudah matang ini, jadi aku mau menjadikan Om sebagai bahan penelitian aku. Aku mau cek apakah Om normal atau tidak, selain itu aku juga mau memastikan Om benar-benar tidak tertarik dengan pernikahan atau itu hanya sekedar alibi saja,” tutur Lili panjang lebar. “Enak saja kamu mau menjadikan saya bahan penelitian.” Juna melanjutkan langkahnya ke arah dapur. Lili kembali mengikuti langkah pria itu. “Mau Om ya, please.” Lili terdengar memohon. “Terus, kamu mau mulai dari mana dulu?” Juna berbicara tanpa menghentikan langkahnya, karena jarak dari ruang televisi menuju dapur itu cukup jauh. “Aku mau memastikan dulu kalau Om itu ada ketertarikan untuk menikah atau tidak. Jadi, aku mau cosplay jadi istri, Om. Aku mau melakukan apa yang biasanya seorang istri lakukan terhadap suaminya. Seperti membuatkan kopi, memasak, menemani berbicara ….” “Termasuk menemani tidur?” Tiba-tiba saja Arjuna membalikkan badan yang membuat Lili seketika menghentikan langkah, ia yang berjalan di belakang Arjuna, hampir saja menabrak tubuh pria itu saat Juna mendadak menghentikan langkah dan menghadap ke arahnya. “Kalau Om mau gak papa, sekalian aku mau cek Om normal atau nggak,” jawab Lili tanpa berpikir panjang. “Kamu ini aneh-aneh saja, kalau terjadi sesuatu, kamu yang rugi, bukan saya.” Juna mengusap wajahnya sendiri, ia benar-benar tak habis pikir dengan anak tetangganya itu. Sedari kecil, Lili memang nakal dan petakilan, dulu gadis itu sering menangis jika tidak ia ajari naik sepeda. Arjuna sudah menganggap Lili seperti adiknya sendiri, karena usia Lili hampir sama dengan adiknya. Namun, sayangnya Dewa lebih memilih tinggal di kos "
Where the ad sends people
uomnovel.com
😍 Klik untuk membaca lebih banyak konten menarik Perjaka Tua Bikin Nagih
A wonderland for all kinds of book lovers; Embrace a whole new world of gripping stories.
Learn more: uomnovel.com(opens in a new tab)










