NovelNest4 ad creative
NovelNest4
NovelNest4

Active· since Feb 9, 2026

169
days running
5
relaunches

Ad copy

"Aku datang ke rumah bos untuk menjadi ibu susu. Namun, payudaraku yang merembeskan ASI malah membuat kemejaku berantakan. Aku buru-buru mencoba membereskannya, tetapi keadaannya justru makin buruk. Seluruh tubuhku kini penuh dengan noda ASI dan bos sama sekali tidak bisa memalingkan pandangannya dariku. Di bawah tatapan panasnya yang membara itu, aku merasa malu karena tubuhku justru mulai memberikan reaksi. Saat aku berada di dalam kamar mandi dengan tubuh yang lemas tak berdaya, mencoba mengatasi gejolak hasratku, aku justru merasa gairahku makin menjadi kuat. Tiba-tiba, bos muncul di hadapanku dan menangkup lembut payudaraku. ""Anakku nggak bisa menghabiskan semuanya, jadi orang tuanya yang akan bertanggung jawab."" Setelah berkata seperti itu, dia pun mengulum putingku. Bab 1 Aku adalah seorang ibu susu. Hari ini aku pergi ke rumah Pak Farid untuk menyusui putranya. Lantaran payudaraku sedang membengkak karena ASI, belakangan ini aku jarang mengenakan bra. Jika tidak, tekanannya akan terlalu kencang dan selalu terasa nyeri yang samar. Terlebih lagi, karena terus-menerus diisap dan dijilat oleh bayi, putingku menjadi begitu sensitif. Gesekan sekecil apa pun akan membuatnya menegang, lalu setelah itu ASI akan merembes keluar tanpa bisa dikendalikan. Aku sudah terlalu sering mengalami situasi memalukan di luar saat bagian dadaku basah kuyup. Tatapan membara dari orang-orang di sekitar membuatku merasa malu sekaligus bergairah. Hal itu justru membuat dadaku makin tak terkendali, hingga akhirnya rembesan ASI menembus seluruh kemejaku. Saat hendak keluar rumah, aku sengaja memilih kemeja berwarna abu-abu, sehingga meskipun basah, tidak akan sampai memperlihatkan tubuhku di depan umum seperti halnya jika aku memakai kemeja putih. Siapa sangka cuaca tidak mendukung. Belum sampai di halte bus, hujan badai sudah turun dengan derasnya. Saat aku tiba di rumah Pak Farid, pakaianku sudah hampir basah kuyup, benar-benar basah kuyup dari kepala hingga kaki. Ketika aku berdiri di depan pintu rumah bos, aku melirik ke arah tubuhku sendiri dan dalam hati berseru, 'Gawat!' Aku lupa bahwa ASI berwarna putih. Meskipun kemeja berwarna gelap tidak mudah memperlihatkan bentuk tubuh saat basah kuyup, putingku kini ternoda oleh bekas ASI. Bagian ujungnya tampak putih bersih, bahkan bisa terlihat cairan yang terus merembes keluar tanpa henti dari sana …. Dengan sedikit panik, aku menggosok-gosok kain di bagian putingku dengan tangan. Namun, hal itu malah menyentuh titik sensitifku. Seketika aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengerang pelan di depan pintu. Kakiku terasa begitu lemas hingga hampir saja terjatuh. Namun, tubuhku ditangkap oleh seseorang. Aku mengangkat kepala, menatap ke arah depan dengan pandangan sedikit kosong. Entah kapan pintu itu terbuka. Pak Farid sudah berdiri di sana. Dia mengulurkan tangannya untuk menopangku. Pak Farid sempat terpaku sejenak melihat penampilanku yang kacau balau. Pandangannya terhenti saat menyapu bagian dadaku yang ternoda ASI. Namun, dia tetap tidak mengatakan apa pun dan memintaku masuk ke dalam. Berjalan di belakangnya, aku merasa sedikit tidak enak hati. Kemudian, tanpa sadar aku menarik-narik bajuku. Begitu melirik jam, sepertinya aku sudah terlambat cukup lama. Aku pun menjelaskan situasiku pada Pak Farid dengan terbata-bata, sambil terus merasa cemas karena bagian dadaku masih terus membasahi kemeja. Akan tetapi, usahaku untuk menutupi dadaku dengan tangan justru membuatnya makin terlihat jelas, hingga memancing Pak Farid untuk terus menatap ke arah sana. ""Nggak apa-apa. Hujan di luar sangat deras, bisa dimengerti."" Pak Farid tersenyum dan memaafkan keterlambatanku. Namun, secara tidak sadar pandangannya tertuju ke arah dadaku. Di tengah puncak musim kemarau, kemeja yang kukenakan begitu tipis. Pakaian yang basah itu melekat erat di tubuhku, membuat bentuk bulat dari kedua payudaraku terlihat begitu jelas. Pak Farid pasti juga menyadari bahwa aku tidak mengenakan bra. Pada saat ini, noda ASI putih sudah merembes turun dari bagian putingku, mengalir mengikuti garis payudara dan membentuk lekukan tubuhku dengan jelas di atas kemeja yang berwarna gelap. Aku merasa sangat malu dan segera menarik-narik bajuku untuk menutupi diri. Namun, anehnya tubuhku justru terasa sedikit panas. Terus-menerus ditatapi oleh Pak Farid seperti itu membuatku merasa begitu malu hingga rasanya ingin menghilang ditelan bumi. Aku pun berkata dengan gugup, ""Itu .… Mana Dodo? Aku mau menyusuinya."" ""Nggak perlu buru-buru. Mandilah dulu. Jangan sampai kamu kedinginan dan jatuh sakit,"" ucap Pak Farid dengan nada penuh perhatian. Pak Farid menatap kemejaku yang berantakan dengan penuh arti, lalu menambahkan, ""Ganti juga baju yang kamu kenakan itu. Akan kucarikan yang baru untukmu."" Hatiku terasa hangat. Aku menatap Pak Farid dengan rasa terima kasih. Namun, aku tetap mengatakan tidak perlu. Lagi pula, rumah mereka adalah apartemen mewah yang begitu luas dengan dekorasi yang begitu megah. Sebagai seorang wanita, aku merasa sangat sungkan jika harus mandi di rumah mereka. Pak Farid sepertinya melihat keraguanku. Dia tersenyum dan kembali berkata, ""Baiknya mandi dulu saja. Nggak enak juga kan kalau badan anakku jadi ikut basah waktu kamu menyusuinya, 'kan?"" Terdengar nada yang tidak menerima penolakan dalam suaranya, sehingga aku hanya bisa menganggukkan kepala. Kamar mandi di rumah Pak Farid sangat besar. Luas area toiletnya saja sudah melebihi luas rumah yang aku dan suamiku sewa saat ini. Aku melepaskan pakaianku yang basah kuyup, lalu berdiri di depan cermin besar yang ada di samping gantungan jubah mandi. Sambil menatap tubuh rampingku di dalam cermin serta bagian dadaku yang berisi dan membanggakan, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengulurkan kedua tangan untuk menopang dan meraba keduanya. Bagian dadaku yang pada dasarnya memang masih merembeskan ASI menjadi makin tidak terkendali karena gerakanku tadi. Dua gumpalan payudara yang berisi ini dahulu pernah memberiku kesulitan besar. Waktu masih sekolah dahulu, aku bahkan pernah diejek sebagai ""sapi perah"" oleh teman-teman sekelas. Tidak kusangka sekarang ini justru menjadi sarana bagiku untuk menyambung hidup, membuatku tidak tahu apakah harus merasa senang atau malah merasa miris. Akan tetapi, saat teringat bagaimana Pak Farid menatap dadaku dengan mata yang berbinar tadi, jantungku pun tidak bisa berhenti berdegap kencang. Tepat di saat aku sedang melamunkan hal yang tidak-tidak, pintu tiba-tiba terbuka. Tak disangka-sangka Pak Farid masuk ke dalam dengan membawa satu setel pakaian baru yang cantik di tangannya. Aku menjerit kaget. Dalam kepanikan aku buru-buru menutupi tubuhku dengan tangan sambil berseru cemas, ""Kamu … kenapa kamu masuk? Cepat keluar!"" Bab 2 ""Aku kira kamu belum mandi, makanya aku bawakan pakaian. Ternyata kamu nggak kunci pintunya. Aku akan segera keluar."" Sepertinya karena terkejut oleh reaksiku, Pak Farid buru-buru mundur beberapa langkah dan menjelaskan. Wajahku menjadi merah padam. Aku bingung apakah harus menutupi bagian dada atau area intimku. Akan tetapi, bagian dada sialan ini justru menjadi makin sensitif karena tatapan Pak Farid tadi. Sisa air susu menetes, mengalir melewati perut bagian bawah dan akhirnya jatuh tepat ke area intimku. Tatapan pria itu tampak terpaku, mengikuti tetesan cairan putih itu hingga ke area intimku. Di saat yang sama, aku menyadari adanya tonjolan yang jelas pada celana Pak Farid. Wajahku langsung menjadi merah padam. Menyadari akan situasiku yang memalukan, Pak Farid pun tersadar. Dia meletakkan pakaian itu, lalu berbalik pergi. ""Baju itu dibeli istriku dua tahun lalu. Belum pernah dipakai sama sekali. Semuanya masih baru. Kalau kamu nggak keberatan, pakailah setelah selesai mandi."" Suara Pak Farid terdengar dari luar. “Oh,” gumamku pelan. Punggungku bersandar pada pintu, sementara jantungku berdegap kencang bagaikan suara tabuhan gong dan drum yang bertalu-talu. Di dalam benakku, bayangan akan “alat” itu masih saja melekat dan sulit untuk dilupakan. Dengan wajah tersipu malu, aku melirik tubuhku sendiri. Namun, saat tatapanku tertuju pada sisa noda air susu itu, aku tersentak seperti baru tersengat. Aku bergegas berdiri, menyalakan pancuran air dan buru-buru membasuh jejak noda tersebut. Setelah mandi dengan terburu-buru, aku mengambil pakaian yang sudah disiapkan oleh Pak Farid dan memakainya. Pak Farid menyiapkan sebuah gaun hitam tanpa lengan. Bahannya sehalus satin. Kuperkirakan harganya mencapai beberapa juta. Selain itu, juga ada celana dalam motif macan tutul yang masih tersegel. Setelah membuka kemasannya, wajahku langsung memerah. Celana dalam ini jelas-jelas tipe yang sensual, karena sebagian besar bahannya terbuat dari renda transparan. Setelah dikenakan, area intimku menjadi terlihat samar-samar. Rasanya jauh lebih menggoda dibanding tidak memakai apa-apa. Mungkin di rumah bos memang tidak ada pakaian normal lainnya. Lagi pula, ini hanya pakaian dalam, seharusnya tidak masalah. Dengan wajah memerah, aku mengganti pakaianku. Namun, ternyata hal yang paling gawat bukanlah pakaian dalamnya, melainkan gaun itu. Gaun ini ternyata memiliki kerah model V dan potongan lehernya terbuka sangat rendah. Sementara itu, Pak Farid tidak menyiapkan bra untukku. Oleh karena itu, setelah mengenakannya, lebih dari setengah bagian payudaraku yang bulat terpampang, bahkan memperlihatkan belahan dada yang sangat dalam. Putingku juga menonjol di balik kain yang halus itu, bergetar pelan seiring dengan setiap gerak-gerikku. Sensasi dari gesekan halus itu memberikan gairah yang membuatku tidak bisa menahan diri untuk tidak merapatkan dan menggesekkan kedua kakiku, sementara putingku juga kembali basah. Ini memang pakaian yang bagus. Akan tetapi, jika begini kondisinya … bagaimana aku bisa keluar? Aku melihat pakaianku sendiri yang basah kuyup di lantai. Sudah tidak bisa dipakai lagi. Aku pun menggertakkan gigi. Aku tidak punya pilihan lain selain memberanikan diri. Bab 3 Saat aku keluar dari kamar mandi dan menuju ruang tamu, mata Pak Farid langsung berbinar saat melihat apa yang aku kenakan. Aku merasa begitu malu, sampai-sampai salah satu tanganku terus menutupi bagian dadaku. Meski aku sudah hidup selama lebih dari 30 tahun, aku belum pernah mengenakan pakaian seseksi ini di depan pria lain. Pak Farid menatapku dengan begitu tajam. Matanya seakan bisa menembus pakaianku dan melihat tubuhku yang putih berisi, sehingga membuatku merasa sangat tidak nyaman. Sesampainya di tempat tidur bayi di dalam kamar, Dodo sudah terbangun. Dia terlihat seperti boneka porselen yang berwarna merah muda dan lembut. Dodo mengeluarkan suara ""yiyaya"" saat mengisap jarinya sendiri. Aku duduk di tepi tempat tidur dan menarik kerah bajuku sedikit. Kerah V yang dalam ini memudahkanku untuk melakukan proses menyusui. Rasa sakit karena payudara yang bengkak mulai mereda. Ekspresiku pun tampak linglung dengan rona merah yang masih tersisa di wajah, saat menahan sensasi nikmat sewaktu putingku diisap. Akan tetapi, hari ini sepertinya si kecil tidak begitu lapar. Setelah menyusu sedikit, dia tidak mau melanjutkan. Alih-alih berhenti, kedua tangan kecilnya justru memegang putingku yang basah dan mulai meremas-remasnya seakan sedang bermain. Sensasi saat bagian sensitifku dipermainkan membuatku makin tidak tahan. Ditambah dengan rasa sakit karena payudara yang bengkak, membuat sekujur tubuhku langsung gemetar. Aku pun bisa merasakan dengan jelas adanya rembesan basah di antara kakiku. Dengan tangan gemetar, aku mengulurkan tangan untuk melepaskan putingku dari genggaman anak itu di tengah suara tawa celotehnya. Di sela gerakan itu, sepertinya dadaku sedikit tertekan, sehingga aliran cairan menyemprot keluar dan membasahi seprai bayi tersebut. Aku merasa sangat malu dan gelisah, lalu bergegas menidurkan anak itu. Baru setelah itu aku tersadar bahwa separuh dadaku masih terpampang. Aku pun buru-buru memasukkannya kembali ke dalam baju. Baju yang tadinya baik-baik saja kini sudah basah. Noda air susu yang membuat orang berpikir aneh-aneh itu membuat bagian dadaku tampak mesum sekaligus menggoda. Aku merapatkan kedua kakiku, lalu memutuskan untuk pergi ke kamar mandi guna membereskan kondisiku yang kacau saat ini. Namun, saat berbalik, aku malah melihat sosok tinggi besar itu tengah berdiri di ambang pintu. Apa dia melihat semuanya? Rasa panik membuatku menarik pakaianku. Akan tetapi, gesekan kain yang sudah berantakan itu pada tubuhku, membuatku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengerang pelan. Garis leher yang memang sudah rendah itu kini makin terbuka lebar, hingga nyaris memperlihatkan putingku. Pak Farid memalingkan wajahnya sedikit, lalu menunjuk ke arah kamar mandi. Aku pun mengangguk seperti baru menerima pengampunan, lalu berlari ke kamar mandi seolah sedang melarikan diri. Begitu masuk ke dalam, aku langsung jatuh terduduk di lantai. Tubuhku gemetar saat mencapai puncak kenikmatan. Pikiranku sepenuhnya dipenuhi oleh tatapan pria itu tadi. Tatapan yang begitu membara, penuh hasrat dan membuatku benar-benar tidak berdaya. Tidak bisa, tidak boleh begini …. Aku harus segera menangani kondisiku sendiri. Aku bersimpuh di samping kloset, mengeluarkan bagian tubuh yang menjadi penyebab kekacauan ini, lalu mulai memerasnya. Cairan susu memancar keluar dengan deras, sementara tubuh bagian bawahku terasa makin basah karena perlakuan kasar yang kuberikan pada dadaku sendiri. Sudah begitu lama aku tidak merasakan hal seperti ini, diperhatikan oleh tatapan penuh hasrat dari seorang pria. Bagian bawahku mulai terasa gatal dan hampa, sementara cairan gairah yang memancar keluar meninggalkan jejak di atas lantai. Satu tanganku memeras payudara, sementara tanganku yang lain mulai membelai tubuhku sendiri. Tanganku yang gemetar tidak memiliki cukup tenaga. Sensasi nikmat yang dihasilkan terasa tanggung, seakan hanya menyentuh permukaan tanpa memuaskan rasa haus yang sebenarnya. Bukannya memadamkan gairah, hal itu justru membuat tubuhku makin gelisah, begitu berharap untuk dipenuhi sepenuhnya oleh sesuatu. Aku menggesekkan kedua tungkai kakiku, tidak mampu lagi menahan erangan yang keluar. Pada saat itu, aku tidak menyadari bahwa pintu kamar mandi tertiup angin hingga terbuka. Pak Farid tengah berdiri di sana, tepat di ambang pintu. Begitu aku menyadari ada yang tidak beres, tatapannya yang membara sudah terlebih dahulu menjilati seluruh tubuhku tanpa sisa. Rasa malu yang luar biasa menyergapku. Aku bersimpuh di lantai dan perlahan-lahan meringkuk. Pak Farid menatap jejak basah yang mengalir berkelok di lantai, lalu tertawa kecil. ""Sisy, apa payudaramu sedang bengkak?"" Pak Farid tidak memarahiku, melainkan bertanya dengan nada yang terdengar ramah. Wajahku memerah dan aku pun mengangguk pelan. Pak Farid melangkah maju beberapa langkah dan berdiri tepat di hadapanku. Tanpa sadar, aku ingin menghindar. Namun, tubuh yang sensitif ini sudah kehilangan seluruh kekuatannya. Pada akhirnya, aku hanya sempat meremas dadaku yang masih berada dalam genggaman tanganku sendiri. Aliran cairan menyemprot keluar dan membasahi ujung celana Pak Farid. ""Pak Farid … maafkan aku. Ah, aku …."" ""Jangan takut, biarkan aku membantumu."" Sepasang tangan yang besar menangkup tanganku yang gemetar, lalu melepaskan dadaku dari genggamanku sendiri. Kemudian, tangan-tangan itu mengambil alih dan mulai meremas payudaraku dengan sesuka hati. Cengkeraman tangan pria itu sangat kuat. Kedua gumpalan lembutku seakan menjadi adonan bisa diuleni sesuka hati. Tidak butuh waktu lama, bekas-bekas jari Pak Farid sudah memenuhi permukaannya, seakan sudah dipermainkan sepenuhnya. Pak Farid tersenyum lalu mendekatiku. Dia menghapus air mata di sudut mataku. ""Anakku nggak menghabiskannya. Sebagai orang tua harus bertanggung jawab. Memberi makan siapa pun sama saja, 'kan? Sisy, pekerjaanmu belum selesai."" Setelah berkata seperti itu, Pak Farid menangkup kedua gumpalan lembut itu dan mendekatkan wajahnya. Begitu merasakan kekuatan yang benar-benar berbeda dari anak kecil, aku memejamkan mata dan menyerah sepenuhnya. Sementara itu, bagian pribadiku yang basah juga mulai digesek oleh ujung jari pria itu yang kasar."

Lebih banyak cerita seru di sini!

LEARN MORE
🪄Crush AI

Like this ad? Make it yours.

Crush rebuilds this exact creative around your product — your brand, your colors, your offer — in about a minute.

More ads from NovelNest4

NovelNest4NovelNest4
Inactive
10 Days
-Reach
4Ads
NovelNest4 Facebook ad
Details
NovelNest4NovelNest4
Active
169 Days
-Reach
4Ads
NovelNest4 Facebook ad
Details
NovelNest4NovelNest4
Inactive
8 Days
-Reach
3Ads
NovelNest4 Facebook ad
Details
NovelNest4NovelNest4
Inactive
8 Days
-Reach
3Ads
NovelNest4 Facebook ad
Details
NovelNest4NovelNest4
Inactive
8 Days
-Reach
3Ads
NovelNest4 Facebook ad
Details
NovelNest4NovelNest4
Inactive
8 Days
-Reach
3Ads
NovelNest4 Facebook ad
Details
NovelNest4NovelNest4
Inactive
4 Days
-Reach
2Ads
NovelNest4 Facebook ad
Details
NovelNest4NovelNest4
Inactive
8 Days
-Reach
2Ads
NovelNest4 Facebook ad
Details
NovelNest4 Ad — Running 169 Days | Crush Ad Library