Skip to content
TaleTerrace

TaleTerrace Facebook ad: “GoodNovel”

TaleTerrace Facebook ad: GoodNovel

Ran for 7 days, from June 16 to June 23, 2026, the last day Crush saw it.

Run by TaleTerrace on Facebook. Crush is not the advertiser and does not verify its claims. See this ad in Meta's Ad Library(opens in a new tab)

Want an ad like this for your product?

Crush makes new ad images for your product from this ad: your logo, your product photo, your offer.

Trials from $19.95 USD, then $79.95 USD a month. Cancel anytime.

About this ad

Meta Ad Library ID
2280438279431253
Platforms
Facebook, Instagram, Audience Network, Messenger and Threads
Relaunches
2

How we count

Ad text

Awalnya kupikir hanya akan bertugas sebagai supir pribadi bosku yang cantik, tapi ternyata dia menginginkanku sebagai mainan seks pribadinya! Semuanya dimulai malam itu, ketika dia tersenyum dan memberiku segelas susu. Setelah meminumnya, aku merasa sangat panas di sekujur tubuh, dan sejak saat itu, aku tidak bisa tidur nyenyak setiap malam .... ** “Heiii ... kamu mo ngapain berdiri di situ? Kamu mo merampok ya?” bentak seorang pria gagah di balik pagar hitam yang tinggi itu. Si pemuda di balik pagar itu seketika memundurkan badannya dari pagar hitam itu karena kaget dengan bentakan bapak-bapak yang ada di balik pagar. “Gak, Pak! Ehmmm ... anu, Pak ... saya mo ketemu Ibu Sonya!” jawab Arya yang juga memundurkan wajahnya dari pagar besar itu dengan suara gemetaran karena lumayan takut melihat pria bertubuh kekar dan besar di balik pagar itu. Tak lama kemudian, pintu pagar hitam itu pun terbuka sedikit dan menyembulkan kepala pria kekar tadi. “Gimana, Mas? Tadi saya kurang dengar!” ucap pria itu yang sekilas kalau dilihat sangat mirip dengan artis pemeran film laga tempo dulu, yaitu Advent Bangun. Terlihat otot-otot lengan yang besar milik pria itu sangatlah menonjol, juga dengan dada sixpack-nya, karena sang pria hanya menggunakan celana panjang yang digulung hingga dengkulnya. Tangannya terlihat membawa linggis besi. Hal itu membuat Arya makin ketakutan melihatnya. “Aa ... aanu, Pak ... sesss ... sssaya mo ketemu Ibu Sonya!” ucap Arya mengulangi ucapannya tadi. “Ada perlu apa dengan Ibu Sonya?” “Saya mo melamar jadi sopir, Pak!” jawab Arya sambil agak membungkukkan tubuhnya untuk sedikit memberi hormat kepada pria besar itu. “Kamu sudah ada janji dengan beliau?” tanya pria itu lagi. “Ehmm ... sudah, Pak!” jawab Arya sambil sedikit melirik sebagian penampakan bagian depan rumah besar itu. “Tunggu di sini!” balas sang pria. Pria itu pun memencet sebuah tombol di dekat pintu pagar, semacam interkom, untuk menghubungi seseorang. “Halo, Bu Sonya. Ini ada laki-laki muda datang, katanya mo melamar jadi sopir!” “Owh, suruh masuk aja, Pak Dirman!” terdengar suara perempuan di interkom itu, yang mungkin saja itu Ibu Sonya yang ingin ditemui Arya sore itu. “Baik, Bu!” ucap pria kekar itu yang terdengar dipanggil dengan nama Dirman. “Oke, Mas. Masnya disuruh masuk!” “Terima kasih, Pak!” Arya pun diantar masuk sampai ke teras halaman depan rumah itu dan Arya terbelalak melihat interior bagian depan rumah itu yang ternyata itu benar-benar rumah mewah. Seluruh bentuk interiornya bagaikan istana raja-raja yang suka Arya lihat di buku-buku dongeng kala kecil dahulu. Terlihat taman yang sangat indah dan juga kolam ikan yang cukup lebar terhampar di bagian depan rumah mewah itu. Belum lagi tanaman-tanaman yang berwarna-warni yang kayaknya itu tanaman berharga mahal yang menghiasi halaman depan rumah besar itu. Cukup lama Arya duduk di bagian teras rumah mewah itu. Saking lamanya, Arya mencoba membuka kembali sosmed IG-nya untuk mengecek kembali percakapan DM Arya dengan Ibu Sonya. Adapun Arya bisa sampai di tempat ini karena secara tidak sengaja menemukan akun IG Ibu Sonya dan membaca salah satu posting-an Ibu Sonya itu kalau ada info lowongan pekerjaan sebagai sopir di rumah ini. Arya kembali membuka-buka beberapa posting-an Ibu Sonya yang sekilas nampak sangat cantik dengan topi lebarnya. Di beberapa posting-an, Arya melihat Ibu Sonya ini sering berada di lokasi-lokasi yang eksotis seperti pantai dan juga hotel-hotel mewah yang dekat dengan lautan. Setelah menunggu kurang lebih setengah jam lamanya, akhirnya pintu besar di bagian depan rumah mewah itu sedikit terbuka dan muncul seorang perempuan sekira-kira umuran 35 tahun, kulit sawo matang, berwajah manis dengan tubuh yang cukup ideal untuk mempersilakan Arya masuk ke dalam untuk duduk di ruang tengah rumah mewah itu. “Dengan Mas Arya ya?” tanya sang perempuan itu. “Iya betul, Mbak,” jawab Arya dengan sopan sambil tersenyum. “Ayo masuk ke dalam, Mas Arya!” Arya pun mengikuti ke mana si perempuan itu berjalan. Arya makin terbengong-bengong melihat seluruh isi rumah besar dan mewah itu. “Monggo, silakan Mas Arya duduk dulu di sini, karena Ibu Sonya masih di lantai atas,” ucap perempuan itu dengan senyum manisnya. Arya pun duduk sambil tetap menatap kagum dengan seluruh isi dan interior rumah mewah itu. Ia pun melihat ada tangga putih yang cukup lebar anak tangganya dengan warna putih meliuk sampai ke atas. Tebakan Arya mungkin kamar Ibu Sonya itu ada di atas tangga itu. “Oiya, Mas Arya mo minum apa?” tanya si perempuan yang nampak memakai baju semacam kebaya dengan belahan dada cukup rendah sehingga agak terlihat belahan dadanya yang cukup membuat mata Arya terkesiap melihatnya. “Apa aja, Mbak. Maaf merepotkan!” ucap Arya sambil tersenyum lagi. Seketika perempuan itu pun berlalu. Saat berbalik badan, nampak sekali tubuh semok si perempuan tadi dengan baju kebaya rumahan dan rok batik yang ia pakai. Bentuk pinggulnya yang proporsional kembali membuat mata Arya terkesiap dan jakunnya naik turun melihatnya. Nampaknya perempuan padat itu seorang asisten rumah tangga di rumah mewah itu. Tak lama kemudian, si perempuan sudah kembali dengan membawa baki berisi segelas teh hangat plus dua toples berisi kue nastar dan kue keju yang biasanya sering muncul di momen-momen Lebaran. “Ayo, Mas. Monggo diminum dan dicicipi dulu kuenya!” ucap si perempuan tersenyum dengan sopan. “Baik, Mbak. Terima kasih, Mbak!” ucap Arya sambil mencoba menyeruput gelas yang berisi air teh hangat itu. Sementara waktu sudah semakin sore mendekati pukul 18.00 sore, yang artinya sebentar lagi azan Magrib akan bergema. “Gimana, Mas? Rasanya teh buatan saya?” tanya si mbaknya. “Wahhh ... enak, Mbak ... Mbakkk ...?” ujar Arya sambil bermaksud menanyakan nama perempuan itu. “Tini, Mas. Nama saya Surtini. Panggil saja Mbak Tini!” ujar Mbak Tini sambil tersenyum menyodorkan tangan kanannya untuk berjabat tangan. Mereka pun saling berjabatan tangan karena Mbak Tini tahu kalau Arya ini akan menjadi bagian dari rumah itu ke depannya jika memang benar nantinya jadi bekerja sebagai sopir untuk Ibu Sonya. “Terima kasih atas teh manisnya. Enak, Mbak Tini!” ujar Arya lagi yang kali ini dengan nada yang lebih lepas karena mencoba lebih akrab dari sebelumnya. Karena Arya pun tahu kalau ia jadi bekerja di situ akan sering bercengkerama dengan Mbak Tini dan juga Pak Dirman tadi. “Syukurlah kalo Mas Arya suka. Ayo Mas Arya dicoba juga donk dengan kue-kuenya. Itu aku bikin sendiri loh, Mas!” pinta Mbak Tini sambil membuka kedua penutup toples itu untuk mempersilakan Arya mencicipi kedua kue itu. Arya pun menurut dan mengambil masing-masing satu kue, baik kue nastar maupun kue keju. “Hmmm ... enak banget, Mbak. Wah, Mbak Tini ini kayaknya memang jago bikin minuman dan makanan!” ujar Arya sambil mengunyah kedua kue tersebut. Terlihat Mbak Tini tertawa kecil dan merasa puas dengan ucapan Arya tadi. “Syukurlah kalo Mas Arya suka!” Baru saja Mbak Tini selesai berucap, tiba-tiba terdengar langkah kaki dari atas tangga yang mengarah turun ke bawah. Tak tok tak tok tak tok! Ternyata itu bunyi suara sepatu sandal dari Ibu Sonya. Seketika Mbak Tini pun memberitahukan Arya kalau yang sedang berjalan dari tangga atas itu adalah Ibu Sonya. “Tiniiii ... sudah kamu sediakan tamu kita minuman dan makanan?” teriak suara perempuan cantik yang sedang berjalan turun di tangga lebar itu. Arya pun mendongak ke atas, matanya tertuju ke arah suara perempuan tadi. Nampaklah di pandangan Arya yang bikin Arya takjub karena Ibu Sonya yang ia sempat lihat di akun Instagram-nya itu ternyata jauh lebih cantik aslinya saat Arya melihat langsung. Perempuan yang bernama Sonya itu berkisar umur 40 tahun, berkulit putih bening, dan bertubuh sintal berbalut baju tidur dengan rambutnya ditutupi handuk yang melibat kepalanya. Wajahnya sangat mirip dengan bintang film India Kareena Kapoor yang cantik dan seksi. Bibir Ibu Sonya terlihat tebal dan matanya besar. Ia saat itu memakai baju tidur berbahan handuk halus dengan bagian atas baju tidurnya agak terbuka, sehingga dada putih bagian atasnya agak terlihat sangat bening dan mulus. Sangat terlihat kalau Ibu Sonya itu rajin perawatan tubuh. “Wah, Ibu Sonya abis mandi ya, Bu?” ujar Mbak Tini yang tetap saja ikut terpesona melihat sang majikan, padahal ia telah bertahun-tahun bekerja di rumah itu, namun tetap saja Mbak Tini sangat mengagumi kecantikan sang majikan. “Ya, Mbak. Aku cukup kecapean kemarin pulang larut malam sehingga seharian tadi ketiduran cukup lama dan baru tadi baru sempat mandi!” balas sang majikan. “Sekarang Mbak Tini boleh pergi dari sini. Saya mo interogasi dulu ini anak!” ucapnya sambil melirik Arya dengan pandangan yang dingin. “Baik, Bu!” ujar Mbak Tini sambil menatap sebentar ke wajah Arya. Dalam hatinya, Mbak Tini bergumam kalau menurutnya Arya terlalu ganteng untuk menjadi sopir karena melihat perawakan Arya. Arya memiliki kulit putih bersih, berwajah tampan dengan hidung mancung, rambut cepak seperti tentara, nampak seperti sosok artis Adjie Massaid. Bibir Arya juga terlihat seksi untuk ukuran seorang laki-laki. Setelah Mbak Tini berlalu pergi dari ruang tengah itu, Ibu Sonya yang tadi masih berdiri akhirnya duduk di hadapan Arya dengan posisi kaki yang satu memangku kaki yang lain, sehingga baju bagian bawah baju tidur itu lumayan tersingkap, sehingga bagian betis dan paha mulus dan putih milik Ibu Sonya terpampang dengan indahnya. Mata Arya terbelalak melihat kemulusan dan kemolekan tubuh bakal majikannya itu. “Hei ... kenapa kamu bengong liat aku kayak begitu?” tanya Ibu Sonya membuyarkan lamunan Arya. “Owhhh ... ma ... maaf, Bu!” ucap Arya agak gelagapan karena Ibu Sonya tadi nada suaranya agak membentak dan nadanya terdengar tinggi, terkesan orang yang sedang marah. Dalam hati Arya bergumam, “Waduh, meski cantik gini, kayaknya Ibu Sonya galak juga ini!” “Sekarang aku mo tanya tentang kamu, Arya! Benarkah kamu yang DM aku kemarin ini di IG?” “Ya benar, itu saya, Bu!” “Hemm ... aku liat-liat seharusnya kamu lebih cocok jadi model, bukan sopir!” ucap Ibu Sonya dengan wajah datar tapi sambil menatap tajam ke wajah Arya. Arya tak berani menjawab ucapan Ibu Sonya itu. “Kamu umur berapa sekarang?” “25 tahun, Bu!” “Sudah menikah?” “Belum, Bu!” “Pacar?” selidik Ibu Sonya. Arya agak lama untuk berpikir menjawab pertanyaan bertubi-tubi Ibu Sonya itu. “Ehmmm ... pernah punya, Bu, di kampung tapi gak lanjut!” ucap Arya sambil malu-malu dengan wajahnya setengah menunduk, tak berani menatap wajah cantik tapi dingin itu di hadapannya. “Emang kampung kamu di mana?” tanya Ibu Sonya lagi. “Jogja, Bu!” “Sebelum ini kamu kerjaannya apa?” tanya Ibu Sonya lagi. “Saya bantu-bantu ibu dan bapak saya jualan sayur di rumah, Bu!” “Lalu dari mana kamu bisa belajar bawa mobil?” “Tiap pagi saya bawa mobil bak terbuka sewaan dengan tetangga untuk ke pasar besar di Jogja, Bu, untuk membeli banyak sayuran untuk kami bawa ke desa kami, Bu!” ucap Arya memberikan penjelasan. “Lalu, apa harapan kamu kalo beneran keterima kerja dengan saya sebagai sopir?” tanya Ibu Sonya lagi. “Saya pengen banget kirim uang ke ortu saya, Bu, dan pengen banget nabung untuk kuliah!” ujar Arya memberikan penjelasan. Ibu Sonya pun sedikit mengangguk-angguk mencoba memahami keinginan baik Arya itu. “Oke, kalo kamu memang serius pengen kerja dengan saya, kamu harus ikuti semua perintah saya yah!” ucap Ibu Sonya dengan wajah serius. “Baik, Bu. Saya akan berusaha memenuhi harapan Ibu selama saya kerja dengan Ibu!” “Nah, jadwal kamu untuk jadi sopir pribadi saya adalah mengantar ke kantor dan kembali ke rumah selama 5 hari kerja, yaitu Senin hingga Jumat!” ucap Ibu Sonya memberikan penjelasan detail tentang tugas Arya tiap pekannya. “Baiklah kalo begitu, sekarang kamu akan diantar Mbak Tini ke kamarmu!” Ibu Sonya pun berjalan ke arah belakang untuk memanggil Mbak Tini. Tak lama kemudian, Mbak Tini datang dengan tergopoh-gopoh. “Iya, Bu, ada apa, Bu?” tanya Mbak Tini sambil setengah menunduk ke arah Ibu Sonya. “Antarkan Mas Arya ini ke kamarnya ya!” “Owh, baik, Bu!” ucap Mbak Tini sambil langsung mengajak Arya mengikuti arah jalannya. Ibu Sonya pun kembali menaiki tangga menuju kamarnya di lantai atas untuk beristirahat karena waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 malam. “Ayo, Mas Arya, aku tunjukin kamarmu yo, Mas!” ajak Mbak Tini. Sambil berjalan di lorong rumah besar dan mewah itu, Arya kembali terbengong-bengong melihat seisi rumah itu. Tak berapa lama, ia telah sampai diantar oleh Mbak Tini ke depan pintu kamar untuk Arya. “Nah, ini Mas Arya kamar kamu!” sambil ia membukakan pintu kamarnya. Saat terbuka, Arya kembali terpana karena kamarnya itu menurutnya cukup besar dan cukup mewah baginya dengan cuma sebagai sopir di rumah itu. “Kalo sebelah itu kamar siapakah?” tanya Arya karena di sebelah kamarnya ada pintu kamar lainnya. “Kalo itu kamar Pak Dirman, Mas!” ucap Mbak Tini sambil tersenyum simpul. Arya agak aneh melihat wajah dan gelagat Mbak Tini ketika menyebut nama Pak Dirman tadi. “Monggo, Mas Arya, silakan beristirahat saja dulu di kamarnya Mas ini!” pinta Mbak Tini sambil izin kembali ke dapur melanjutkan pekerjaannya di sana. “Terima kasih, Mbak Tini!” ucap Arya dan ia langsung memberesi tas besar berisi beberapa pakaian yang ia bawa dari kampungnya di Jogja sana. Arya pun merebahkan tubuhnya di kasur yang lumayan besar untuk dirinya yang cuma seorang diri di kamar itu. Karena mungkin kelelahan setelah habis menjalani perjalanan cukup jauh dari Jogja ke Jakarta ini membuat Arya pun akhirnya tertidur di kasur itu. Sekitar pukul 21.00 malam, ada suara ketokan pintu dari luar kamar Arya. Tok ... tok ... tok ... “Mas Arya!” Arya pun terbangun dari tidurnya karena bunyi ketokan cukup keras dan berulang kali, sehingga cukup bisa membangunkan Arya yang terlelap tidurnya tadi. Arya terbangun dalam kondisi agak gelagapan karena ia belum sadar sepenuhnya dan sesaat cukup bingung kala membuka matanya ia merasa ada di kamar yang cukup asing baginya. “Aku mimpi atau apa ini ya? Koq kamarku bagus dan besar begini?” ucap Arya dalam hati sambil menatap sekeliling kamar itu dan ia pun masih bingung sedang berada di mana. “Mas Arya, makan dulu, Mas. Ini aku, Mbak Tini!” ucap suara di balik pintu kamar Arya. Arya pun baru tersadar kalo ia sekarang sudah tinggal di rumah sang majikan barunya, yaitu rumah Ibu Sonya. “Owh, yayaya ... sebentar, Mbak Tini! Aku bukakan dulu pintunya!” Seketika Arya bangun dari rebahannya dan meloncat dari kasur, lalu menuju daun pintu membukakan pintu untuk Mbak Tini yang ternyata sudah membawa baki berisi air minum segelas dan sepiring makanan. “Wahhh ... Mas Arya kayaknya tidurnya lelap banget toh yo? Hehehe!” ucap Mbak Tini melihat wajah Arya yang masih agak berantakan rambutnya setelah bangun tidur tadi. “Ehhh ... iyy ... iyya, Mbak Tini, kayaknya aku benar-benar kecapean setelah perjalanan jauh dari kampung menuju ke sini. Jadinya tadi gak sadar kalo aku benar-benar terlelap di kamar,” balas Arya sambil mengucek-ucek matanya. “Ya sudah, ini Mas Arya monggo makan dulu sana!” ucap Mbak Tini sambil menyerahkan baki tersebut. Arya menerima baki itu sambil kembali tak sengaja menatap belahan dada padat yang menyembul dari sela-sela baju kebaya belahan dada rendah yang dipakai Mbak Tini itu. Itu terjadi karena posisi Mbak Tini saat memberikan bakinya ia agak merunduk, sehingga makin terlihat menantang belahan dua bukit kembar besar miliknya. Jakun Arya seketika turun naik melihat pemandangan gratis itu di depan matanya. Mbak Tini nampaknya mengetahui ke mana pandangan mata Arya dan kegugupan Arya tersebut, namun ia hanya tersenyum saja dalam hati. “Hemm ... memang ya, semua mata lelaki selalu sama, tak bisa melihat yang padat dikit langsung deh melotot, hehehe!” ucap Mbak Tini dalam hati. Sementara Arya berkata dalam hatinya juga, ”Aduh, kenapa aku jadi memandangi dadanya Mbak Tini itu terus yah? Kalo ketahuan Mbak Tini, bisa malu banget aku!” “Ganteng banget ini sopir baru Ibu Sonya ... ahhh ... andai ...!” gumam Mbak Tini dalam hatinya yang terpesona melihat kegantengan sang sopir baru di rumah mewah itu. ** Arya pun segera membawa baki dari Mbak Tini tersebut ke dalam kamarnya untuk segera menyantap makanan yang telah disajikan untuknya. Sementara Mbak Tini telah beranjak dari depan kamar Arya tersebut. Rasa lapar memang ternyata telah menyerang perut Arya yang sejak perjalanan dari Jogja. Setelah dirasa pas memakai kaos dan celana panjangnya, Arya pun bergegas menuju ke tangga besar di ruang tengah untuk menuju lantai atas. Sesampainya di sana, ada semacam ruangan yang terdiri dari beberapa sofa besar dan mewah lagi seperti di lantai bawah, dan ada pintu putih berukiran yang mungkin itu pintu kamar Ibu Sonya. Dilihatnya Bu Sonya sudah duduk di salah satu sofa sambil memangku laptop kecil di pahanya. Bu Sonya terlihat sangat cantik memakai baju tidurnya malam itu. Meski sudah mulai larut malam, nampak sekali perempuan kaya itu sangat menjaga penampilannya yang menawan hati selayaknya mirip artis India Kareena Kapoor. “Ke mana saja sih kamu, Arya?” bentak Bu Sonya dengan suara cukup keras memandang melotot bakal sopir barunya itu, namun tetap saja terlihat sangat cantik meski kali ini terlihat wajahnya cukup marah dengan kedatangan Arya di ruangan yang terletak depan kamarnya itu. Anehnya, mendengar dan melihat bagaimana Bu Sonya membentak dirinya, Arya malah tertegun sejenak melihat sang bos itu malah terlihat sangat menawan di matanya. “Ya ampun ... kenapa di rumah ini aku jadi terpesona mulu ini melihat dua pemandangan yang indah bergantian di depan mataku?” ucap Arya dalam hati. Ia membandingkan dengan manisnya wajah mantan pacarnya di kampus sana yang ternyata belum ada apa-apanya dengan wajah-wajah yang ia lihat di rumah majikan barunya ini. Di desanya, Sita adalah pacar pertama Arya. Tapi sayangnya, karena ortu Sita minta Arya cepat-cepat untuk segera melamarnya, Arya pun bingung karena ia merasa belumlah mapan. Sayangnya, ortu Sita gak mau menunggu lama sehingga akhirnya Sita dijodohkan dengan pemuda desa sebelah. Dengan kejadian itu membuat Arya cukup sakit hati, sehingga memperkuat tekadnya untuk pergi merantau ke Jakarta ini mencari pekerjaan sekaligus melupakan kenangan pahitnya bersama Sita. Sita pun sebenarnya sangat mengharapkan Arya bisa jadi suaminya, namun Sita tak bisa melawan kehendak kedua ortunya yang keburu menerima lamaran Dedi, sang pemuda desa sebelah, yang menurut kedua ortu Sita jauh lebih mapan dibanding Arya yang cuma seorang penjual sayuran di desanya. Dedi memiliki sejumlah toko kelontong di desa itu sehingga nampak lebih mapan daripada Arya, dan Dedi pun juga sudah memiliki rumah serta mobil. Hal itulah yang membuat kedua ortu Sita merasa lebih cocok ke Dedi dibanding Arya. “Heiii ... aku kan sedang bicara denganmu, Arya! Koq malah bengong?” kembali suara bentakan dan mata melotot si cantik Bu Sonya. “Owh yayaya ... maaf, Bu ... maaf, Bu! Ada apakah Ibu memanggil saya?” ucap Arya yang kini mulai berani menatap sang majikan karena lagi-lagi Arya justru tidak ada rasa takut melihat kegalakan bos cantiknya itu. Karena menurutnya makin galak malah terlihat makin cantik di mata Arya. “Saya ini mo jelaskan detail tugas-tugasmu sebagai sopir pribadi saya! Jadi camkan baik-baik!” “Baik, Bu. Saya siap mendengarkan koq!” ucap Arya sambil menatap kagum wajah cantik sang majikan. “Heiii ... kamu meledek saya ya? Koq mata kamu melotot seperti itu?” “Owh gak, Bu. Kan saya bermaksud menuruti perintah Ibu untuk mendengarkan baik-baik ucapan Ibu!” balas Arya dengan wajah tenang meski sang majikan sudah terlihat galak di depannya. Sementara itu, Sonya dalam hatinya merasa ini anak muda ganteng di depannya sungguh berbeda dengan sopir-sopir sebelumnya yang cenderung takut-takut kala menghadap dirinya. Arya ini nampak tak ada takutnya melihat perangai dirinya. Sonya dalam hati mulai kagum dengan Arya dan ia merasa telah menemukan sosok sopir yang mungkin saja cukup bisa ia andalkan dalam beberapa tahun ke depan. Karena sopir-sopir sebelumnya tak ada yang bertahan lama bekerja dengan Sonya. Rata-rata mereka lari dan pergi atau mengajukan undur diri setelah merasakan bekerja sebagai sopir pribadi Sonya. Tak tahan dengan kegalakan perangai Sonya. “Jadi, tugasmu setiap pagi jam 8 sudah harus standby mengantarkanku ke mana saja ya!” “Sampe jam berapa, Bu, selesainya?” tanya Arya. “Saya kan belum selesai bicara! Mengapa kamu berani memotong kalimatku?” Sonya kembali melotot tajam ke wajah Arya, namun yang membuat Sonya cukup kagum adalah Arya malah tetap datar memandang wajahnya saat ia terlihat jutek saat itu. “Owh baik, Bu ... saya akan diam saja sampe Ibu selesai ngomong!” “Nah, gitu! Jadi begini, kamu ini kan sopir pribadi saya, jadi kamu harus standby kapan pun selama 5 hari kerja, kecuali Sabtu Minggu kamu saya bebaskan dari tugas sopir,” ucap Sonya memberikan penjelasan. “Baik, Bu. Saya paham, Bu!” “Kamu harus mau mengantar ke mana pun saya pergi dan menuju, dan tidak boleh membantah perintahku!” “Baik, Bu Sonya!” “Jika nanti hasil pekerjaan kamu bisa memuaskan saya, maka saya akan berikan bonus!” ucap Sonya lagi menambahkan penjelasannya, namun kali ini Sonyalah yang menunduk sambil mengetik sesuatu di layar laptopnya. Karena perlahan Sonya mulai menyadari kalo bakal sopir barunya ini terlihat ganteng dan dalam hatinya ia berkata bahwa Arya lebih cocok jadi artis dibanding seorang sopir. “Bonusnya apa, Bu?” Arya memberanikan diri untuk menanyakan apa yang dimaksud bonus oleh sang calon majikan cantiknya itu. “Kamu ini, bekerja saja belum malah sudah menanyakan bonus! Buktikan saja dulu pekerjaanmu dan barulah ngomongin bonus!” Sonya kembali melotot dengan bentakan suara kerasnya. “Owh baiklah, Bu Sonya!” Arya dalam hati ngakak karena yang ngajak ngobrol bonus kan si majikan sendiri yang memulai. Arya pun izin turun ke lantai bawah untuk menuju kamarnya dan dilihatnya ruangan bawah yang cukup luas itu lampu-lampu sudah redup. Arya pun bermaksud menuju kamarnya. Sesampainya di lorong menuju kamarnya, sesaat langkahnya sudah sampai depan pintu kamar, sayup-sayup Arya mendengar suara aneh. Seperti suara desahan orang. Arya baru ingat kalo kamarnya bersebelahan dengan kamar Pak Dirman yang tadi ia ketemu di depan pagar saat pertama kali tiba di rumah mewah itu. Arya bertanya-tanya dalam hati, “Itu suara desahan siapa? Masak suara Pak Dirman? Koq seperti suara desahan perempuan ya?” Arya pun makin penasaran dengan asal suara itu. Ia pun perlahan melangkah ke arah pintu kamar sebelah dan ternyata pintu kamar Pak Dirman tak dikunci dari dalam serta terbuka sedikit, sehingga dari luar Arya bisa mengintip aktivitas orang yang berada di dalam kamar Pak Dirman itu. Saat mengintip dari balik pintu kamar itu, Arya terkejut bukan kepalang karena ia melihat tubuh polos laki-laki dan perempuan dengan si perempuan berada di atas. Tak berapa lama kemudian, Arya mendengar suara sang perempuan, “Ayo, Pak, cepetin lagi!” Deggg .... “Hah! Itu kan kayak suara Mbak Tini?” Arya kaget bukan kepalang mendengar suara Mbak Tini di kamar Pak Dirman itu. ** “Ok, tahan ya, Dik Tini ... aku dorong lagi ya!” ucap suara Pak Dirman terdengar jelas di telinga Arya yang makin deg-degan jantungnya karena tak mengira malam itu, di hari pertamanya ia akan bekerja sebagai sopir, malah mendapatkan pertunjukan gratis di hadapannya. Maka terdengarlah suara beradunya kulit dari kamar Pak Dirman itu yang menandakan bertemunya sepasang tubuh dua insan di kamar itu. Tak berapa lama kemudian, Pak Dirman nampak menggeser posisi dirinya yang sekarang ia naik berlutut di atas kasur, sementara Mbak Tini dengan tubuh sintalnya makin terlihat oleh Arya masih berposisi menungging di kasur kamar Pak Dirman itu. Arya melongo melihat tubuh polos Mbak Tini itu. Terlihat bagian atas tubuhnya ikut berguncang karena gerakan tekanan Pak Dirman dari arah belakang Mbak Tini. Terlihat di remang-remang lampu kamar itu ada tampak tubuh Pak Dirman sedang menyatu dengan bagian belakang tubuh indah milik Mbak Tini. Sehingga terdengarlah suara lenguhan dan desahan Mbak Tini yang nampaknya membuat gairah Pak Dirman makin berkobar untuk terus bergerak. “Argghhh!” Suara beradunya tubuh Pak Dirman dan Mbak Tini serta lenguhan dan desahan menggema malam itu di kamar Pak Dirman. Arya pun m akin lama makin terbawa suasana penampakan yang ia lihat saat itu. Dia merasakan tenggorokannya kering dan tanpa sadar menelan ludah. "Seru nggak, Arya?" Sebuah tangan tiba-tiba menyentuh resleting Arya yang membengkak ....

jswsx.com

GoodNovel

See details: jswsx.com(opens in a new tab)

More from TaleTerrace

See all TaleTerrace ads

More ads from the top 1,000

See the top 1,000 ads