Maxnovel ad creative
Maxnovel
Maxnovel

Inactive· since Apr 14, 2026

66
days it ran
1
relaunches

Ad copy

“Gus, tolong ke rumah saya sebentar. Saya takut sendirian hujan-hujan begini. Suami saya sedang di luar kota. Sekalian kamu pijetin saya, ya.” Mata Agus membesar membaca pesan dari Bu Yuni, bosnya di tempat kerja. Biasanya Agus hanya diminta memijat kaki Pak Umar, suami Bu Yuni, sepulang kerja. Tapi pesan yang baru saja ia baca membuat jantungnya berdebar. Terlebih Bu Yuni menulis bahwa suaminya sedang ke luar kota. Dan ia meminta Agus datang untuk memijat. Agus menatap layar ponsel jadulnya beberapa detik. Bayangan tubuh seksi Bu Yuni terlintas di benaknya. Belum sempat ia membalas pesan itu, ponselnya kembali berbunyi. “Cepat ya, Gus, biar hujannya tidak keburu deras.” Agus menghembuskan napas pelan. Ia tahu menolak bisa berakibat buruk pada pekerjaannya. Bu Yuni adalah orang yang memberi dia kerja. Dan bagi Agus, pekerjaan ini adalah sumber utama untuk bertahan hidup. Ia segera menghabiskan makanan pemberian Pak RT dengan cepat. Bahkan tidak sempat benar-benar menikmati rasanya. Yang ada di benaknya jangan sampai Bu Yuni merasa ia sengaja mengulur waktu. Selesai makan, Agus meraih jas hujan tipis yang ia beli lima ribu rupiah di pasar. Jas hujan itu sudah agak robek di bagian lengan, tapi masih bisa untuk menahan air. Agus memakainya karena ia memang tidak punya payung. Hujan masih turun saat ia keluar rumah. Jalan menuju rumah Bu Yuni sudah mulai basah. Agus melangkah cepat, hampir setengah berlari. Rumah Bu Yuni berada di ujung jalan, rumah paling besar di deretan itu. Tok tok tok. Agus mengetuk pintu rumah Bu Yuni setelah sampai. “Masuk, Gus,” suara Bu Yuni terdengar dari dalam. Agus membuka pintu dan langsung masuk. Ia menunduk sedikit, setelah melepas jas hujannya, lalu duduk di kursi ruang tamu. Tak lama kemudian, Bu Yuni keluar dari kamar. Mata Agus membulat saat melihat Bu Yuni. Wanita berusia 40 tahun yang masih terlihat cantik itu mengenakan celana pendek yang memperlihatkan paha mulusnya, dan atasan bertali tipis yang jatuh mengikuti bentuk tubuhnya. Belahan dada Bu Yuni yang terlihat menggoda membuat Agus menelan ludah berulang kali. Ia buru-buru menundukkan kepala. “Kamu sudah makan, Gus?” tanya Bu Yuni sambil berjalan mendekat. “Su—sudah, Bu,” jawab Agus terbata. Suaranya terdengar aneh di telinganya sendiri. “Gak usah gugup gitu,” ucap Bu Yuni santai. “Lagian di rumah ini cuma ada saya. Suami saya sedang liburan dengan istri pertamanya keluar kota.” Agus mengangguk pelan, berusaha mengalihkan pandangannya dari bagian menyembul milik Bu Yuni. Sebagai laki-laki dewasa, bohong kalau dia tidak tergoda melihat penampilan Bu Yuni malam ini. Ia terus memalingkan wajah ke arah lain, berusaha fokus pada dinding, pada suara hujan di luar, pada apa saja selain tubuh Bu Yuni yang kini berdiri tak jauh darinya. Di dalam hati, Agus terus mengumpat pelan. Ia datang untuk memijat tapi justru matanya dimanjakan oleh tubuh seksi Bosnya. Bu Yuni merebahkan tubuhnya di atas kasur lantai yang digelar di ruang tengah. Posisi terlentangnya membuat tubuhnya terlihat jelas, dari bahu sampai kaki. Lampu rumah yang redup justru membuat lekuk tubuh itu tampak lebih nyata di mata Agus. Lalu Agus duduk berlutut di sampingnya. Tangannya sempat ragu sebelum akhirnya menyentuh langsung kulit Bu Yuni untuk pertama kalinya seumur dia bekerja di toko bangunan. Ia mulai memijat perlahan di bagian tangan, seperti yang biasa ia lakukan pada Pak Umar. Tapi sentuhan ini terasa menyengat. Napas Agus mulai terasa berat. Ia berusaha fokus pada gerakan tangannya, tapi pikirannya tidak bisa diajak bekerja sama. Wangi parfum Bu Yuni yang bercampur wangi sabun membuat hasratnya semakin sulit ditahan. Setiap kali jarinya menekan tangan Bosnya jantungnya berdegup kencang. Agus harus segera menyelesaikan pekerjaan berbahaya ini, pikirnya. Bu Yuni menghela napas pelan. Suara itu masuk ke telinga Agus dan berhenti di sana. Agus menelan ludah lagi. Ia sadar betul bahwa apa yang ia rasakan ini sangat tidak pantas. Tapi kesadaran itu tidak cukup kuat untuk menghentikan hasrat yang sudah terlanjur bangkit di dalam dirinya. Tangannya bergerak turun, memijat paha. Kulit Bu Yuni sangat mulus, licin oleh minyak pijat. Agus bisa merasakan setiap tarikan otot di balik sentuhan itu. Ia berusaha menjaga pikirannya agar tetap waras. Namun, miliknya sudah berkedut berulang kali. Hasrat itu muncul tanpa bisa ditahan. Sampai akhirnya tiba di posisi paling berbahaya. Bu Yuni duduk di depan saat pria itu mulai memijat bahu Bu Yuni. Tiba-tiba tangannya ditarik dan diletakkan di dada Bu Yuni, langsung oleh sang pemilik tubuh. “Menurutmu, ukuran dada saya besar apa tidak, Gus?” tanya Bu Yuni. Jantung Agus semakin berdetak kencang, miliknya berkedut berulang kali. Kembali suara Bu Yuni terdengar penuh godaan. “Saya sangat kesepian, Gus, bisakah kamu memberi kepuasan yang tak pernah diberikan oleh suami saya?” Deg Ini sudah kelewat batas. Rasanya Agus ingin menolak tapi suaranya tercekat. Tiba-tiba Bu Yuni berbalik dan mencium bibir Agus. Awalnya Agus tak membalas namun sentuhan bibir itu semakin lama semakin membuat kesadarannya nyaris hilang. “Please, puaskan saya, Gus. Saya kesepian,” ucapnya lagi dengan suara serak. “Tapi, Bu…” ucapan Agus terpotong. “Tidak akan ada yang tahu. Ini rahasia kita berdua,” ujarnya meyakinkan Agus. Bu Yuni tahu betul kalau pria muda di depannya ini sudah terangsang. Tangannya sengaja menyentuh milik Agus yang mulai tegang, “besar sekali milikmu, Gus.” Agus tampak pasrah, “saya takut kalau Pak Umar tiba-tiba datang, Bu,” ujarnya. “Dia tidak akan pernah datang.” Bu Yuni berdiri lalu melepaskan semua pakaian yang menempel di tubuhnya hingga tak ada sehelai benang pun sebagai penutup tubuh seksi sang wanita. Pertahanan Agus runtuh. Dia langsung menghisap gunung kembar milik Bu Yuni dengan lahap dan adil. Desahan kecil mulai memenuhi ruang tengah itu. Bibir dan tangannya bekerja kompak saat meremas dan menghisap gunung kembar Bu Yuni secara adil. Tangan Bu Yuni tak tinggal diam, dia juga meremas milik Agus yang ukurannya di atas normal. “Aaaaaah, Gus, saya sudah tak tahan,” suara lirih bercampur desahan itu semakin membakar hasrat Agus. Agus mendorong pelan tubuh Bu Yuni hingga terbaring di atas sofa. Dia masih memposisikan tubuhnya di atas tubuh sang wanita, meremas gunung kembar Bu Yuni dan mencium lehernya. Suara desahan dari bibir keduanya saling bersahutan semakin membakar hasrat dalam diri masing-masing. Tangan Bu Yuni terulur dan jatuh tepat di antara pangkal paha Agus. Wanita itu menarik kedua sudut bibirnya saat menyadari kalau milik Agus sangat besar. “Saya mau merokok, Gus,” bisik Bu Yuni dengan mata terpejam. Agus mengerti maksud bosnya ini. Dia pun membuka seluruh pakaiannya hingga tak ada sehelai benang pun sebagai penutup tubuhnya. Mata Bu Yuni terbelalak saat melihat kalau junior Agus sangat besar dan sudah tegang. Ukuran ini jauh dari milik suaminya. Agus berdiri di depan Bu Yuni, membiarkan miiknya dimanjakan oleh bibir wanita itu. Bibir Bu Yuni terasa sesak, tapi wanita itu sangat menyukainya. Karena keduanya sudah tak tahan lagi, Agus pun mulai melakukan penyatuan. Dia menghentak pelan tubuh Bu Yuni, miliknya terasa sangat sesak di dalam goa sempit itu. Agus terus bergerak maju mundur di atas tubuh Bosnya. Setiap denyutan milik Bu Yuni membuat Agus mendesah. Keduanya laut dalam permainan panas yang seharusnya tidak mereka lakukan. Keringat bercucuran dan membasahi tubuh mereka, sampai akhirnya erangan panjang terdengar dari mulut keduanya. Tubuh Agus ambruk di atas tubuh Bu Yuni. “Kamu hebat Gus,” bisik Bu Yuni. Dan malam ini, Agus tak menyangka akan bisa berhubungan badan dengan Bosnya sendiri. Setelah selesai melayani nafsu bosnya, Agus buru-buru pulang agar tidak sampai ketahuan warga lain. Namun, di tengah jalan Agus justru bertemu dengan beberapa warga yang sedang ronda. “Gus dari mana kamu malam-malam begini?” tanya salah satu warga. “Saya habis dari rumah Pak Umar, Pak,” jawab Agus. Warga memang tahu kalau Agus sering disuruh pijat oleh Pak Umar. Jadi alasan itu pasti tidak akan membuat warga curiga. “Oh begitu. Ya sudah kamu lanjut keliling dulu, Gus,” timpal yang lainnya. “Baik, Pak. Silahkan,” jawab Agus. Jujur Agus dibuat bingung oleh bapak-bapak yang barusan ia temui. Biasanya orang itu setiap kali bertemu dengan Agus selalu menghujatnya atas kesalahan yang pernah ia lakukan bersama Ningrum. Bahkan tak jarang yang membuang pandangan darinya. “Kenapa mereka tiba-tiba baik sama aku?” Gumamnya pada diri sendiri. Tak ingin larut memikirkan hal itu, Agus pun bergegas untuk segera pulang ke rumahnya. Esok harinya, Agus bekerja seperti biasa, seolah tidak pernah terjadi apa-apa antara dirinya dan Bu Yuni. “Tumben kamu pakai baju baru, Gus. Cair nih?” goda Eko, salah satu teman Agus yang bekerja di toko bangunan milik Bu Yuni. Sebetulnya tadi malam, setelah dia berhasil memuaskan hasrat Bu Yuni, wanita itu memberinya uang sepuluh lembar pecahan seratus ribuan (satu juta). Bu Yuni bilang Agus harus membeli baju baru karena semua baju yang ia pakai warnanya sudah pudar dan terlihat sangat lusuh dan Agus membeli baju itu tadi pagi sebelum ia bekerja. “Ah, baju murah, cuma beli di pasar,” jawab Agus. “Gini dong biar makin ganteng kamu, Gus,” jawab Beni menimpali. Agus hanya tertawa kecil. “Ya udah, yuk kita angkat semennya dulu, naikkan ke mobil,” ajak Eko. Agus pun mengangguk. Dia menaikkan semen dan besi ke dalam mobil. Setelah itu, dia pergi bersama Eko untuk mengirim pesanan ke rumah pembeli. Sore harinya, setelah pulang bekerja, Agus memilih untuk menuju rumah Pak RT. Dia sudah berjanji akan membantu Pak RT membersihkan taman di depan rumahnya. “Pak, ini Agus sudah datang!” teriak Bu RT memanggil suaminya dari depan rumah. “Oh iya, Bu, tunggu sebentar,” jawab Pak RT dari dalam rumah. “Makasih ya, Bu RT, makanannya tadi malam,” ucap Agus, memanfaatkan kesempatan untuk berterima kasih secara langsung. “Sama-sama, Gus. Mudah-mudahan bermanfaat ya,” jawab Bu RT. Beberapa menit kemudian, Pak RT keluar dari rumah, dan mereka mulai membersihkan taman milik Pak RT. “Saya sudah masukkan data kamu untuk penerima bantuan berikutnya, Gus. Saya khawatir kalau dibiarkan terus-terusan rumahmu seperti itu nanti merembet ke bangunan yang lain, malah bisa roboh dan membahayakanmu,” ucap Pak RT. “Terima kasih banyak, Pak RT,” jawab Agus sungkan. “Sudah tugas saya, Gus, memperhatikan seluruh warga di sini.” Agus memilih diam. Dari dulu tidak ada yang peduli tentangnya, tapi sejak semalam semua orang jadi baik. Selama ini belum pernah Agus memegang uang satu juta rupiah, tapi tadi malam dia benar-benar punya uang satu juta pemberian Bu Yuni. Dan sekarang tiba-tiba Pak RT membahas soal bantuan. Dia pun menyelesaikan pekerjaannya. Saat sudah selesai, Pak RT memberinya upah tiga ratus ribu. Ketika Agus hendak pulang, suara Bu RT menghentikan langkah Agus. Baca Liontin Warisan Sang Pemikat di MaxNovel sekarang 👇

Kisahnya bikin penasaran! 😦🫣

INSTALL MOBILE APP
🪄Crush AI

Like this ad? Make it yours.

Crush rebuilds this exact creative around your product — your brand, your colors, your offer — in about a minute.

More ads from Maxnovel

MaxnovelMaxnovel
Inactive
14 Days
-Reach
2Ads
Maxnovel Facebook ad
Details
MaxnovelMaxnovel
Inactive
9 Days
-Reach
2Ads
Maxnovel Facebook ad
Details
MaxnovelMaxnovel
Inactive
5 Days
-Reach
1Ads
Maxnovel Facebook ad
Details
MaxnovelMaxnovel
Inactive
17 Days
-Reach
1Ads
Maxnovel Facebook ad
Details
MaxnovelMaxnovel
Active
8 Days
-Reach
1Ads
Maxnovel Facebook ad
Details
MaxnovelMaxnovel
Inactive
37 Days
-Reach
1Ads
Maxnovel Facebook ad
Details
MaxnovelMaxnovel
Inactive
61 Days
-Reach
1Ads
Maxnovel Facebook ad
Details
MaxnovelMaxnovel
Inactive
4 Days
-Reach
Maxnovel Facebook ad
Details
Maxnovel Ad — Ran 66 Days | Crush Ad Library