Maxnovel ad creative
Maxnovel
Maxnovel

Inactive· since May 10, 2026

27
days it ran
0
relaunches

Ad copy

Bejo dipanggil oleh gurunya ke ruang guru. Saat istirahat Bejo pergi ke ruang guru. Setibanya di depan ruang guru, Bejo langsung mengetuk pintu depan dada sedikit berdebar. Tokk... Tokk... Suara lembut dari dalam ruangan membuatnya sedikit lega, “Masuk, Jo?” Dengan napas yang masih sedikit tertahan, Bejo membuka pintu perlahan. Pandangannya langsung menangkap ruang guru yang kini sepi. Hanya ada Bu Gisel yang berdiri di balik meja kerjanya, wajahnya yang cantik tampak tenang namun menyimpan sesuatu yang membuat suasana jadi berbeda. Bejo melangkah masuk dengan langkah hati-hati, matanya tak lepas dari sosok guru wali kelasnya itu. Gisel menatap Bejo dengan tatapan hangat yang sekaligus tegas, seolah mengundang namun juga menjaga jarak. "Duduk dulu, Jo?" ucapnya lembut tapi penuh keyakinan. Bejo mengangguk kecil, suara hatinya berdesir, "Terima kasih, Bu." Bejo menurunkan badannya perlahan ke kursi yang disodorkan, jantungnya masih berdetak kencang, campuran antara gugup dan rasa hormat yang dalam. "Jo, apakah kamu tau kesalahan apa yang sudah kamu lakukan?" tanya Gisel dengan tenang. Bejo mengangguk tanda mengerti, "Saya tahu dan saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi, Bu?" "Di sekolah ini tidak melarang siswa membawa ponsel, namun juga harus bisa melihat situasi dalam menggunakan ponsel di dalam sekolah." ujar Gisel dengan santai. "Saya mengerti, Bu." lagi-lagi hanya kata itu yang mampu Bejo ucapkan. "Jo, boleh saya bertanya sesuatu?" tanya Gisel dengan wajah lebih serius. "Boleh, Ibu mau bertanya apa?" Jantung Bejo semakin berdetak kencang. Ia benar-benar takut jika Bu Gisel memeriksa ponselnya dan mendapati beberapa video Japan yang ada di ponselnya. "Maaf jika pertanyaan saya terlalu pribadi. Tapi ini semua demi kebaikanmu?" "Saya mengerti, Bu? Saya menyimpan film itu hanya untuk koleksi pribadi. Saya juga sangat jarang menontonnya?" Bejo langsung berinisiatif untuk mengakui kesalahan. Ia yakin, dengan dia mengakui kesalahan, maka seandainya mendapatkan hukuman. Ia akan mendapatkan keringanan. Gisel mengerutkan keningnya, "Video? Video apa..?" tanyanya dengan wajah kebingungan. Bejo terhenyak, kepalanya langsung merasa pusing. Dia tidak menyangka jika Bu Gisel ternyata bukan mau menanyakan perihal video yang tersimpan di ponselnya. "Ibu mau bertanya apa?" Bejo buru-buru mengalihkan perhatian. Namun, apa yang Bejo lakukan sudah sia-sia saat Bu Gisel meminta dirinya untuk membuka kunci ponselnya. "Buka kunci ponselmu?" Bejo benar-benar meruntuki kebodohannya, ia lupa bahwa ponselnya terkunci dengan sandi. Tak lagi bisa berkelit, Bejo hanya bisa pasrah menuruti perkataan wali kelasnya. Gisel membuka folder di ponsel Bejo dengan jari yang sedikit gemetar. "Tadi ada nomor baru yang beberapa kali mencoba menghubungi kamu," ucapnya sambil matanya tak lepas dari layar. "Awalnya Saya nggak ambil pusing, tapi nomor itu terus melakukan panggilan hingga beberapa kali, nomor itu mengirim pesan dan saya tanpa sengaja lihat pesannya." Gisel menyambungkan headset ke ponsel Bejo, lalu memasukkan satu earphone ke telinganya. "Isi pesannya," katanya pelan. "Bos… ini Jihan. Kapan Anda datang ke restoran?" Gisel menarik napas dalam, kemudian melanjutkan dengan nada serius, "Sejak kapan kamu jadi pemilik restoran, Bejo? Dari mana uangnya? Ibu sebenarnya nggak mau ikut campur, tapi sebagai wali kelasmu, ibu merasa harus bertanya. Ibu nggak mau ada anak didik ibu yang melakukan perbuatan melanggar hukum." Bejo menghela napas panjang, dadanya naik turun menahan sesak. Matanya menatap kosong, menyesali keputusan gegabah yang baru saja dia buat. Perlahan, ia melirik ke arah wali kelasnya yang asyik menunduk, sibuk dengan layar ponselnya tanpa mengangkat kepala. Dengan suara yang agak bergetar, ia mulai membuka cerita, "Sebenarnya, saya gak sengaja menemukan ginseng liar peninggalan nenek saya. Saya jual ke tuan besar Barata... Dari situ, saya beli sebidang tanah di belakang rumah buat kebun." Bejo menarik napas sebentar, mengumpulkan keberanian sebelum melanjutkan. "Sewaktu membersihkan kebun, saya menemukan batu mulia berkualitas tinggi. Batu itu juga saya jual lagi ke Tuan Besar Barata, dengan harga sangat tinggi." Ia menatap ke arah wali kelas, berharap ada reaksi. "Uang hasil jual batu mulia itu saya pakai buat beli restoran." ucap Bejo dengan nada serius. Gisel mencabut headsetnya dari ponsel Bejo, menaruh ponsel itu di atas meja kerjanya. Lalu menatap tajam ke arah Bejo, "Jo, kamu serius dengan apa yang kamu katakan?" "Ibu bisa tanyakan pada Sofi, dia yang membantu saya menjual Ginseng dan batu Mulia itu pada kakeknya." balas Bejo dengan wajah serius. Gisel menatap Bejo dengan senyum manis yang agak tertahan. "Ok, Ibu percaya dengan penjelasanmu. Tapi, bagaimana kamu menjelaskan soal video-video di ponselmu itu? Sejak kapan kamu mulai ngumpulin video-video seperti itu?" suaranya sedikit mengeras. Bejo mengangkat kepala, wajahnya cemas. "Saya salah, Bu. Saya janji akan langsung hapus video-video itu." Gisel mengangguk pelan, "Baiklah, kamu boleh pulang sekarang. Tapi ingat, hapus semua itu. Kali ini Ibu yang ambil ponselmu, kalau guru lain yang tahu, bisa-bisa kamu kena sanksi berat." Bejo buru-buru meraih ponsel di atas meja, tangannya gemetar saat memasukkan ke saku celananya. "Terima kasih, Bu," katanya pelan lalu berjalan menuju pintu. Gisel mengangkat tangan ke arah pintu. "Tutup pintunya setelah kamu keluar." Setelah pintu kantor kembali tertutup, Gisel dengan hati-hati sebelum mengambil sebuah benda dari dalam tasnya—sebatang alat berwarna merah muda yang bentuknya menyerupai pisang, terbuat dari karet halus. Dengan jari yang sedikit gemetar, dia menekan tombol on, dan getaran lembut segera menyebar dari alat itu. Mata Gisel sedikit terpejam, napasnya mulai memburu. Gisel terangkat perlahan dari kursi, napasnya tersengal saat tangan gemetar mengangkat rok hitamnya hingga di atas lutut. Dengan jari yang sedikit bergetar, dia melepaskan celana dalamnya, lalu duduk kembali, menatap alat kecil di tangannya. Perlahan, dia mengarahkan alat itu ke tempat paling pribadi di tubuhnya, tubuhnya langsung menegang, seolah aliran listrik kecil merambat hingga ujung jari dan kaki. Namun, pikiran Gisel melayang jauh, terjebak pada wajah Bejo, murid yang tiba-tiba muncul tanpa diundang dalam benaknya. Jantungnya berdetak tidak beraturan, ada getar geli yang bercampur rasa bersalah yang sulit ia pahami. Tubuhnya bergetar, bukan hanya karena sensasi alat itu, tapi juga oleh gelombang perasaan aneh pada Bejo yang tiba-tiba muncul di lubuk hati. Baca Bejo Sang Penakluk di MaxNovel sekarang 👇

Kisahnya bikin merinding! 😦🫣

WATCH MORE
🪄Crush AI

Like this ad? Make it yours.

Crush rebuilds this exact creative around your product — your brand, your colors, your offer — in about a minute.

More ads from Maxnovel

MaxnovelMaxnovel
Inactive
14 Days
-Reach
2Ads
Maxnovel Facebook ad
Details
MaxnovelMaxnovel
Inactive
9 Days
-Reach
2Ads
Maxnovel Facebook ad
Details
MaxnovelMaxnovel
Inactive
5 Days
-Reach
1Ads
Maxnovel Facebook ad
Details
MaxnovelMaxnovel
Inactive
17 Days
-Reach
1Ads
Maxnovel Facebook ad
Details
MaxnovelMaxnovel
Active
8 Days
-Reach
1Ads
Maxnovel Facebook ad
Details
MaxnovelMaxnovel
Inactive
37 Days
-Reach
1Ads
Maxnovel Facebook ad
Details
MaxnovelMaxnovel
Inactive
61 Days
-Reach
1Ads
Maxnovel Facebook ad
Details
MaxnovelMaxnovel
Inactive
66 Days
-Reach
1Ads
Maxnovel Facebook ad
Details
Maxnovel Ad — Ran 27 Days | Crush Ad Library