

Inactive· since Jan 7, 2026
- 34
- days it ran
- 0
- relaunches
Ad copy
Beni johansyah, tetapi semua orang di kampung memanggilnya Bejo, karna menurut penduduk kampung Beni johansyah terlalu susah untuk di panggil, jadi penduduk kampung memanggilnya dengan nama Bejo, karna biar gampang di panggil, walaupun nama panggilannya Bejo, namun hidup bejo tidak sebejo panggilannya. Bejo yang saat ini berumur sembilan belas tahun, masih duduk di kelas 12 SMA, Bejo sedari kecil tidak mengenal ayah dan ibunya, karna ayah dan ibunya sudah meninggal saat dia masih bayi, Bejo sejak kecil di rawat oleh neneknya yang bernama sarti, dan saat Bejo naik ke kelas 12 nenek Sarti pun meninggal dunia, dan enam bulan Bejo sudah hidup sebatang kara. Untuk menyambung hidup dan menyelesaikan sekolahnya, Bejo bekerja apa saja yang bisa dia kerjakan, kadang bekerja di ladang sayur milik juragan di kampungnya, atau apapun yang di suruh oleh para tetangga yang membutuhkan bantuan tenaga Bejo. Pagi ini Bejo berangkat sekolah dengan penuh semangat, karna hari ini merupakan pembagian raport tengah semester dan sekolah akan libur selama dua Minggu, hari ini juga Bejo berencana untuk menyatakan cinta kepada teman satu kelasnya yang bernama Winda, yang sudah dekat dengannya selama setahun terakhir. Dengan mengayuh sepeda ontel peninggalan neneknya, Bejo dengan penuh semangat berangkat menuju ke sekolah yang berjarak cukup jauh dari kampungnya, butuh waktu setengah jam bagi Bejo untuk sampai di sekolah dengan mengendarai sepeda ontel miliknya. Waktu berjalan dengan begitu cepat dan pembagian raport pun telah selesai, dengan penuh percaya diri Bejo menghampiri Winda dan langsung berlutut dengan sebelah kaki di hadapan Winda. " Winda, kita sudah dekat selama setahun ini, selama dekat denganmu, secara perlahan cinta di hatiku tumbuh seiring dengan berjalannya waktu, hari ini aku ingin mengutarakan isi hatiku padamu, Winda maukah kamu menjadi pacarku.." ucap Bejo dengan penuh percaya diri, karna Bejo sangat yakin kalau cintanya pada Winda pasti akan di terima, sebab Bejo merasa dirinya dan Winda sudah sangat dekat setahun ini. " Maaf Jo, aku sama sekali tidak ada rasa sama kamu." Balas Winda dengan nada cuek, bahkan tidak melihat bejo sama sekali. " Tetapi kenapa Winda? bukankah selama ini kita begitu dekat?" ucap bejo dengan bibir bergetar mendengar apa yang Winda katakan, bejo sama sekali tidak menyangka Winda akan menolak cintanya. " Hehehehehhe, kamu tidak sadar Bejo, kamu itu cupu..! Miskinnn..! Aku selama ini dekat denganmu hanya untuk memanfaatkan kamu, agar kamu mau mengerjakan tugas tugas sekolahku." Balas Winda sembari tertawa mengejek. " Jujur saja Bejo !!! Aku sudah jadian dengan anton setahun yang lalu, kamu apa bisa di bandingkan dengan Anton yang merupakan anak pengusaha kaya di kota ini, anton juga jago karate lalu kamu apa bejo. kamu cuma anak yatim-piatu, yang untuk bayar sekolah saja kamu selalu nunggak bayar, kulitmu hitam wajahmu dekil, apa untungnya aku jika jadi pacarmu? yang ada semua siswa d sekolah ini akan menertawakanku." Lanjut Winda dengan penuh caci maki kepada bejo. Bejo yang sudah tidak tahan akan kata kata yang sangat menyakitkan dari Winda pun langsung berlari keluar kelas menuju ke belakang sekolah. Di belakang sekolah bejo menangis tersedu-sedu, bejo tidak membayangkan bahwa Winda selama ini mendekatinya hanya untuk memanfaatkan dirinya saja, bahkan dengan teganya winda mengatai dirinya di depan teman sekelas, apa salahnya jika dirinya yatim piatu, apa salahnya kalau dirinya terlahir miskin. " Lelaki kok nangis " ucap sebuah suara dari belakang bejo sambil mengulurkan sebuah sapu tangan. " Makasih sofi," balas bejo sambil menerima sapu tangan dari Sofi yang merupakan anak orang terkaya di kota tempat Bejo tinggal, di sekolah tempat dia belajar, hanya Sofi dan Samsul yang mau berteman dengan Bejo. " Bejo, kamu enggak stres kan karna di tolak sama Winda." Ejek Sofi sambil tersenyum manis ke arah bejo. Sofi Angraeni, itulah nama lengkap gadis tercantik yang berada SMA tempat Bejo bersekolah. Ia merupakan putri semata wayang Tuan Barata, pengusaha nomor satu di kota tempat Bejo tinggal, kekayaan ayah sofi juga masuk dalam sepuluh besar orang terkaya di Negara Wakanda. Perusahaan perhiasan raksasa milik ayah Sofi menjadi bukti nyata kesuksesan Tuan Barata. Sebenarnya, Bejo dan Sofi sudah bersahabat dekat sejak mereka duduk di bangku SMP. Namun, ketika Bejo mulai menjalin hubungan dengan Winda, tanpa alasan yang pasti, sofi pun perlahan menjauh dari dirinya. " Santai sof, aku sadar kok aku orang tidak punya.? Untuk makan sehari hari saja aku harus kerja paruh waktu di ladang, kulitku juga hitam dan dekil, apalah arti seorang Bejo yang anak kampung, bagi anak konglomerat seperti kalian." Ucap bejo santai, bejo benar benar trauma untuk dengan wanita. " Bejo..!! jadi maksud kamu, aku sama seperti Winda.?" Ucap sofi dingin. Sofi begitu terkejut mendengar apa yang di katakan oleh Bejo, walaupun dia tau suasana hati Bejo saat ini sedang tidak baik baik saja, namun dia tetap marah jika di samakan dengan Winda. " Hehehe, maaf, Sof. Tadi aku salah ngomong, harusnya: 'kecuali Sofi Angraeni yang cantik tiada tara, montok, dan seksi...'" ucap Bejo sambil menunjukkan senyum kikuk, perasaan malu dan jujur tergambar jelas di wajahnya. Entah mengapa, Bejo merasa tak sanggup melihat Sofi marah padanya dan cenderung mengalah meski sebenarnya ia menyukai gadis itu. Bejo tahu bahwa jarak dirinya dengan Sofi bagai langit dan bumi. " Liburan 2 minggu, kamu kemana, Jo?" tanya Sofi yang kini duduk di samping Bejo, sorot matanya penuh keingintahuan. " Kerja di ladang, Sof. Emang mau kemana lagi?" balas Bejo singkat. Bagi Bejo, tak ada waktu untuk bersantai. Ia sadar bahwa jika tak bekerja, darimana ia akan memperoleh uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. " Emang enggak ada liburnya sama sekali Jo, sekali sekali libur jalan jalan ke pantai kek..." Ucap sofi dengan senyum manisnya, memberi kode kepada Bejo. " Astaga.! Sofi, aku udah ada janji sama juragan Rahmat mau panen hari ini, maaf sof aku balik dulu ?" ucap bejo yang langsung bangkit dan berlari dengan sekuat tenaga menuju parkiran untuk mengambil sepeda ontel miliknya. Di sekolah hanya bejo seorang yang mengendarai sepeda ontel ke sekolah, sebenarnya Samsul sudah sering mengajak untuk nebeng motor bersamanya tapi bejo selalu menolak, karna Bejo merasa lebih nyaman menggunakan sepeda ontel miliknya. " Hufttt dasar Bejo manusia tidak peka..." Gerutu sofi saat melihat Bejo pria yang di sukainya semenjak SMP lari pontang panting menuju parkiran. Setelah keluar dari gerbang sekolah, bejo mengayuh sepeda ontel sekencang mungkin agar bisa secepatnya sampai di rumah, begitu sampai di rumah bejo langsung berganti pakaian, tanpa makan terlebih dahulu karna memang tidak ada yang bisa bejo makan, bejo langsung berangkat menuju ladang juragan Rahmat. Sesampainya di ladang juragan Rahmat, ternyata para pekerja juragan Rahmat sedang istirahat makan siang. " Bejo sini makan dulu...!!!" Teriak juragan Rahmat yang melihat kedatangan Bejo. " Siap juragan." Jawab bejo sambil mendekati bapak bapak yang sedang makan siang. " Gimana sekolah kamu jo, bukannya hari ini penerimaan raport ?" Tanya juragan Rahmat, juragan Rahmat cukup kagum dengan kuatnya Bejo menjalani hidup, orang tuanya meninggal ketika Bejo masih balita, dan hanya di besarkan oleh neneknya dengan penuh kasih sayang. Neneknya sangat ingin bejo menjadi orang sukses, sehingga bejo di masukan ke sekolah terbaik di kota ini, sayang setahun yang lalu neneknya meninggal, yang membuat Rahmat kagum dengan Bejo adalah, Bejo tak lantas terpuruk dia memilih ikut bekerja dengannya untuk menyelesaikan sekolah. " Bejo masalah sekolah jangan di tanya juragan, pasti selalu nomer satu di sekolah, iya kan Jo." Sela kang mamat. " Hehehehehehe. Alhamdulillah lah kang." jawab bejo singkat. " Kamu kalo butuh sesuatu bilang saja sama saya Jo, pasti akan saya bantu " ucap juragan Rahmat sambil menatap Bejo yang sedang asik menikmati makan siang bersama para anak buahnya. " Terima kasih juragan, saya boleh ikut bekerja sama juragan saja saya sudah bersyukur..." balas bejo dengan tulus, bagi bejo juragan Rahmat adalah penolong hidupnya, sebab di saat bejo terpuruk, juragan Rahmat lah yang pertama kali menawarkan bantuan untuk mengurusnya hingga lulus sekolah, namun bejo menolak dan memilih untuk meminta pekerjaan saja darinya. " Rokok Jo, habis makan enggak ngrokok dunia terasa hampa." Tawar juragan Rahmat. " Terima kasih juragan, biar hidup miskin asal sehabis makan bisa ngrokok ya tenang dunia." Balas bejo, sambil mengambil sebatang rokok dari tangan juragan rahmat dan menyalakannya. " Hahahahahaha Gayamu Jo." Kelakar kang Mamat yang di ikuti tawa yang lain. " Ayo kalo makan dan rokoan nya sudah selesai kita kerja lagi, udah d tunggu bos besar ini sayurannya..." Perintah juragan Rahmat saat melihat bejo dan yang lainnya sudah selesai makan merokok. Bejo dengan penuh semangat pun mulai bekerja, hingga tanpa terasa waktu sudah menunjukan pukul 5 sore yang berarti sudah waktunya pulang kerja. " Bejo, ini bayaran kamu untuk Minggu ini, nanti kalo sudah waktunya nanam benih saya kabari. hemat hemat jangan buat foya foya..." Ucap juragan Rahmat sambil menyerahkan amplop gaji kepada bejo " Terima kasih juragan, kabari saja kalo ada kerjaan saya pasti siap." Balas bejo sambil tersenyum lebar, walaupun dalam hati Bejo sedikit kecewa karna liburan ini dia berencana untuk kerja full, tetapi ternyata kerjaan di juragan Rahmat sudah tidak ada lagi. Setelah menerima gaji, bejo pun memutuskan untuk langsung pulang kerumah, sesampainya di rumah, bejo memutuskan untuk mandi karna badanku yang sudah bau keringat. ' gajian Minggu ini hanya tiga ratus ribu, lebih baik simpan yang dua ratus untuk persiapan membayar bulanan yang sudah nunggak' gumam Bejo setelah selesai mandi dan sedang melihat amplop yang berisi uang gajinya. Setelah menyimpan uang gajinya, Bejo memutuskan untuk membuat segelas kopi panas, menikmati kopi panas dan sebatang rokok yang di berikan oleh juragan Rahmat sisa jatah pekerja yang tidak habis, terasa sangat nikmat bagi bejo. Setelah selesai menikmati kopi di sore hari bejo pun bersiap untuk berangkat ke sungai yang ada di belakang desa untuk memasang pancing dan bubu perangkap ikan. Bejo setiap sore memasang pancing dan bubu, karna jika sedang musim ikan seperti sekarang hasilnya sangat lumayan baginya, saat berjalan memasuki rumah dan melewati kamar neneknya, tiba tiba pandangan bejo tertuju ke atas lemari, dan tanpa sengaja Bejo melihat ada amplop kecil yang sudah cukup usang di sana, Bejo sebelumnya tidak pernah memperhatikan sampai atas lemari, saat membersihkan kamar almarhum nenek. Karna saking penasarannya bejo pun mengambil amplop itu dan membukanya, ternyata di dalam amplop ada sebuah cincin akik berwarna merah dan sebuah surat " Cucuku Bejo. jika kamu menemukan surat ini berarti nenek sudah tiada, cucuku bejo, di dalam amplop ini ada cincin warisan turun temurun dari leluhur keluarga kita, pakailah kalo kamu beruntung dan terpilih oleh cincin itu maka hidupmu akan penuh dengan keberuntungan, tetapi kamu jangan berpikir di cincin warisan yang nenek berikan ada teknik kultivasi atau dunia kecil di dalamnya, cincin itu hanya akan membawa keberuntungan untuk hidupmu. Nenek sangat menyayangimu" bejo yang membaca surat peninggalan nenek Sarti pun tanpa terasa meneteskan air mata. Bejo yang entah mengapa sedari awal melihat cincin itu sudah tertarik, tanpa basa basi langsung memakainya, dan memang sangat pas di jari manis tangannya. Bejo yang melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah enam pun segera bergegas mengambil pancing dan bubu yang sudah dia siapkan, dengan penuh semangat bejo berjalan sambil membawa pancing dan bubu menuju sungai. ..... Sedangkan Bejo yang kelelahan setelah mencangkul sawah Juleha, langsung tertidur lelap di gubuk tengah sawah. Di dalam tidurnya Bejo bermimpi melihat gambar bendera negara Hongkong dengan angka 11 di tengahnya. Bejo seketika terbangun dari tidurnya, dia yang mendapatkan mimpi nomer Hongkong pun seketika terkejut, karna baru kali ini dia mendapatkan mimpi nomer togel, walaupun hanya dua angka namun Bejo merasa bersyukur, karna jika dia pasang dengan jumlah banyak hasilnya juga akan lumayan. Bejo berpikir, mungkin ini yang di maksud oleh neneknya tentang keberuntungan yang akan dia dapatkan jika berjodoh dengan cincin peninggalan leluhurnya. tak ingin larut dalam lamunannya, Bejo segera kembali ke sungai untuk memasang lima pancing yang tersisa. Setelah selesai memasang pancingnya, Bejo segera mengecek pancing yang sudah terlebih dahulu dia pasang sebelum pulang. " Astaga...!! Aku sungguh beruntung." pekik Bejo saat dia mengontrol pancingnya. Bejo benar-benar tidak menyangka kalau dari lima belas pancing yang sudah dia pasang terlebih dahulu, semuanya berhasil mendapatkan ikan. Dengan penuh semangat, Bejo langsung memasukan satu demi satu ikan itu ke dalam ember yang telah persiapkan, Bejo berniat untuk menjual sebagian ikan yang dia dapatkan ke warung Bu Lilis, yang sudah biasa menerima hasil pancingannya. ' Hehehehehehehe... Kalau begini terus aku bisa cepat punya banyak uang?' gumam Bejo. Bejo sangat bahagia karna dari lima belas pancingnya dia mendapatkan sepuluh ekor ikan mujair dan lima ekor gabus yang lumayan besar. 📕Bejo sang Penakluk: Perjalanan pria miskin yang selalu di penuhi keberuntungan, setelah mendapat cincin warisan dari leluhurnya. 💥Saat ini serial di MaxNovel~
🔥Peringkat pertama di daftar teratas bulan ini!🔥
INSTALL MOBILE APPLike this ad? Make it yours.
Crush rebuilds this exact creative around your product — your brand, your colors, your offer — in about a minute.







