Skip to content
Cerita Cinta Favorit

Cerita Cinta Favorit Facebook ad: “Klik untuk membaca lebih banyak konten menarik”

Cerita Cinta Favorit Facebook ad: Klik untuk membaca lebih banyak konten menarik

Ran for 9 days, from May 29 to June 7, 2026, the last day Crush saw it.

Run by Cerita Cinta Favorit on Facebook. Crush is not the advertiser and does not verify its claims. See this ad in Meta's Ad Library(opens in a new tab)

Want an ad like this for your product?

Crush makes new ad images for your product from this ad: your logo, your product photo, your offer.

Trials from $19.95 USD, then $79.95 USD a month. Cancel anytime.

About this ad

Meta Ad Library ID
1706132297471881
Platforms
Facebook, Instagram, Audience Network, Messenger and Threads
Relaunches
0
EU reach
3

How we count

Ad text

I Bab 1. Rasa Sakit Yang Nikmat Kemenangan di lintasan balap malam itu berubah jadi neraka dalam hitungan menit. Jasson merasakan darahnya mendidih, bukan karena adrenalin, tapi karena racun yang diselipkan musuhnya ke dalam botol minumannya. Sialan. Pandangannya kabur, dunia berputar, dan satu-satunya yang ada di kepalanya adalah rasa haus yang sanggup membakar isi kepalanya. Ia tak sempat mencari hotel. Di sebuah jalan buntu yang gelap, Jasson menarik seorang gadis yang apesnya lewat di waktu yang salah masuk ke dalam mobil sportnya. Kabin mobil itu seketika berubah jadi menjadi sangat panas. Dengan kasar, dia menghimpit gadis di jok penumpang yang disetel rendah. "Tuan Jasson! Apa yang—lepas! Lepaskan saya!" jerit Hanami. Ia memukul dada Jasson, mencoba mendorong tubuh besar yang terasa . Di sisa kesadarannya, Jasson melihat wajah gadis itu. Ia tersentak saat sadar jika mengenalinya. Dia adalah Hanami —sahabat sepupunya yang beberapa kali datang ke rumah. Jasson sempat sadar untuk sesaat, namun hasrat kembali menguasai dirinya. Masa bodo dengan dosa! "Diam, Hanami... atau aku akan menyakitimu lebih dari ini," geram Jasson. Suaranya rendah, serak, dan penuh ancaman yang kotor. Jasson merangsek, menjamah kulit halus Hanami dengan tangan yang gemetar hebat namun posesif. Ia membungkam bibir Hanami dengan ciuman yang lebih mirip gigitan liar dan tidak terkendali. Di atas jok kulit yang panas, Jasson menuntaskan dahaganya dengan cara yang paling biadab. Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam dosa itu, mengabaikan rintihan Hanami yang pecah di sela-sela napasnya yang memburu. "Jangan! Hiks... Sakit, Jasson! Sakit!" rintih Hanami. Suaranya pecah saat ia merasakan dunia yang ia kenal hancur seketika. Tubuhnya melengkung kaku, jemari kakinya menekuk menahan perih yang amat sangat saat Jasson merampas paksa mahkota yang selama ini ia jaga. Jasson mengabaikan tangisan itu. Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam dosa. Hanya butuh satu jam bagi badai itu untuk sedikit mereda. Jasson tersentak mundur, napasnya masih pendek-pendek saat kesadarannya menghantam kembali. Ia tidak menunggu sampai pagi untuk merasa jijik pada dirinya sendiri. Jasson keluar dari mobil dengan gerakan kaku, berdiri di samping pintu yang terbuka. Rambutnya acak-acakan, kemejanya menggantung berantakan di bahu, memperlihatkan bekas cakaran di dadanya. Dengan tangan yang masih bergetar, ia merogoh saku, menyalakan sebatang rokok, dan menghisapnya dalam-dalam. Asap putih mengepul di udara malam yang dingin, sangat kontras dengan hawa panas yang masih tertinggal di dalam mobil. Di dalam sana, Hanami meringkuk. Isakannya pelan namun menyayat, suaranya teredam oleh bunyi mesin mobil yang masih menyala. "Jangan menangis," ucap Jasson dingin, tanpa menoleh. Ia membuang abu rokoknya ke aspal dengan gerakan angkuh yang dipaksakan. "Anggap saja ini upacara pendewasaanmu. Dan aku adalah guru yang paling berhak melakukannya." “Bajingan!" teriak Hanami dengan suara yang gemetar tak karuan. Jasson melirik Hanami lewat kaca spion, rasa panas itu kembali merayap di bawah kulitnya. Sial. Obat itu belum sepenuhnya pergi. Jasson membuang rokoknya yang baru setengah habis, lalu menginjaknya hingga padam. Matanya kembali menggelap, menatap Hanami yang masih terisak dengan tatapan lapar yang belum tuntas. "Kau tahu, Hanami? Sepertinya satu kali tidak cukup untuk memadamkan api ini," bisik Jasson sambil kembali merangkak masuk ke dalam mobil. Ia tidak peduli seberapa brengsek dirinya terlihat. "Bersiaplah, karena malam ini masih sangat panjang untuk kita berdua." Jasson kembali menarik Hanami ke dalam pelukannya, menutup pintu mobil dengan dentuman keras, dan menenggelamkan isakan gadis itu dalam dosa yang ia ulang secara sadar. Sudah terlanjur basah, biar basah sekalian. *** Dua bulan berlalu setelah malam berdosa itu, Jasson terlihat berdiri bersandar pada kap mobil sport hitamnya, memutar kunci di jari dengan gayanya yang biasa. Di sampingnya, Evelyn—dengan gaun mini yang memamerkan kaki jenjangnya terus merapat, mencoba mencuri perhatian sang Don juan yang malam ini tampak lebih banyak diam. "Jas, fokus dong! Kamu kan yang bakal pimpin start malam ini," rengek Evelyn sambil menyentuh lengan Jasson manja. Jasson hanya menyeringai tipis, tanpa menjawab apa pun. Belakangan ini ia memang berubah menjadi lebih pendiam. Ia yang biasanya setiap malam selalu sibuk menggoda wanita, balapan atau asyik chatingan untuk meminta pap buah dada. Kini rasanya ia sama sekali tak berselera untuk melakukannya. Bahkan di rumah pun ia menjadi begitu hambar, entahlah ia selalu terbayang-bayang wajah kesakitan Hanami pada malam itu. Beberapa kali ia mencoba mencari gadis itu di kampusnya, atau sekadar lewat perumahan yang dulu menjadi saksi kebrutalannya. Jasson bukan ingin lari dari tanggungjawab, terakhir kali mereka bertemu saat Hanami datang bersama sepupuny, tetapi gadis itu justru enggan menatap apalagi berbicara padanya. Hal itu Jasson anggap, mungkin saja Hanami ingin melupakan malam panas yang telah mereka lalui. Lagipula tidak ada yang rugi bukan? Malam itu juga pertama baginya, untuk apa saling menyalahkan? Setidaknya itulah yang Jasson pikirkan. Namun, tiba-tiba gerakan tangannya terhenti saat matanya menangkap siluet yang sangat asing di tengah kerumunan di depannya. Di antara gadis-gadis sirkuit yang berpakaian minim, berdiri seorang gadis dengan hoodie kebesaran dan tas kain yang didekap erat talinya. Hanami. "Jasson! Mau ke mana?" teriak Evelyn saat Jasson tiba-tiba menegakkan tubuh dan melangkah lebar, mengabaikan semua pasang mata yang menatapnya heran. Jasson tidak menghiraukan panggilan itu, ia segera mendekati Hanami. Seperti biasa, gadis itu hanya menunduk dan memegang tali tasnya dengan sangat erat. “Nyari aku?” tanya Jasson dibalas anggukan pelan oleh Hanami. Hanami hanya mengangguk pelan, jemarinya memutih karena mencengkeram tali tasnya terlalu kuat. Jasson sadar ini bukan tempat yang tepat. Ia melirik ke arah tribun yang gelap dan area belakang gedung teknis yang sepi. "Ikut aku," titah Jasson pendek. Ia membawa Hanami menjauh dari hingar-bingar musik dan deru mesin. Mereka berhenti di balik pilar beton gedung teknis yang remang-remang, di mana suara balapan hanya terdengar seperti dengungan jauh. Hening mendadak terasa mencekam. "Ada apa?" Jasson bertanya, mencoba tenang meski dadanya mulai berdegup tidak keruan. Matanya sejak tadi terus terpaku pada Hanami sampai akhirnya gadis itu mengangkat wajah, memperlihatkan matanya yang merah dan sembab. Firasat Jasson langsung tidak enak. “Ada apa dia tiba-tiba datang? Dan kenapa dia terlihat menyedihkan seperti ini," batin Jasson penuh tanya. "Aku..." suara Hanami tercekat di tenggorokan. Ia menarik napas panjang, lalu mengeluarkannya bersama sebuah kalimat yang meruntuhkan seluruh langit Jasson malam itu. "Aku hamil." Seketika, suara sorakan penonton dari arah lintasan terdengar seperti sesuatu yang mematikan di telinga Jasson. Pria itu terpaku, tangannya yang tadi hendak merogoh saku membeku di udara. “Bagaimana bisa? Bukankah hanya satu kali?” Bersambung~ II Bab 2. “A-aku Hamil ..." “Bagaimana bisa? Bukankah hanya satu kali?” Pertanyaan bodoh itu meluncur begitu saja dari bibir Jasson diantara deru knalpot yang menggelegar, ia memandang mata Hanami mencoba mencari kebohongan di sana. Namun, ia justru menemukan dosa yang mematikan. Hanami tidak langsung menjawab, ia justru mengeluarkan sebuah benda dari dalam tasnya, test pack. Bukan hanya satu, tapi cukup banyak dan dilemparkan ke arah Jasson dengan kasar. “Kau pikir aku bohong untuk apa? Aku hamil, Jasson!" seru Hanami tak bisa menahan dirinya lagi. Jasson yang menerima itu gelagapan, ia mencoba menangkap salah satu dan seketika kedua matanya terbelalak lebar begitu mendapati dua garis merah yang sangat nyata. Dadanya tiba-tiba terasa dihantam sesuatu yang menyakitkan, ia melihat test pack lainnya lalu memandang ke arah Hanami. Jasson menarik napas panjang mencoba menguasai diri, menjambak rambutnya dengan kasar. “Hanami, ini tidak bercanda 'kan?" Sekali lagi Jasson bertanya, ia berharap jika semua ini mungkin prank. “Kau pikir aku punya banyak waktu untuk bercanda?" Tatapan Hanami jauh lebih tajam, air matanya sendiri terus mengalir tak ingin berhenti. “A-aku hamil ..." Ia kembali mengulangi kata yang seperti kutukan maut untuk Jasson. Untuk sepersekian detik Jasson mematung karena kebingungan, ia mengusap wajahnya kasar dan sesekali menjambak rambutnya. Ia jelas mustahil, mereka baru melakukan itu satu kali dan tanpa kesengajaan kenapa langsung hamil? “Kurang ajar sekali, kenapa langsung hamil?" maki Jasson dalam hatinya. “Kita gugurkan." Ucapan itu tiba-tiba terdengar dengan tegas, Jasson membelalakkan matanya memandang Hanami yang sudah tampak putus asa. “Jangan gila, Hanami!" bentak Jasson, mencengkram kedua lengan wanita itu cukup kuat namun ia sadar itu salah sehingga langsung dilepaskan, ia memegangnya dengan lembut kali ini. “Dengarkan aku, ini ... terlalu mengejutkan. Mungkin saja ini salah 'kan? Kita bisa periksa ke Dokter besok," tutur Jasson lembut, berusaha menenangkan hati Hanami atau mungkin hatinya sendiri. Hanami tersenyum hambar, memandang Jasson dengan mata sayunya. “Bagaimana kalau hasilnya sama?" Mata Jasson terpejam singkat, pertanyaan itu sejujurnya tak bisa ia jawab sekarang. Bagaimana? Ia pun tak tahu, ia dan Hanami hanya sekadar mengenal. Tidak ada ikatan yang bisa dijadikan tumpuan, tetapi jika benar memang ada nyawa yang tumbuh di diri wanita itu Jasson tetaplah orang yang paling berhak untuk bertanggungjawab. “Kita periksa dulu, tenangkan dirimu, ya. Aku—" “Bagaimana kalau hasilnya sama?" Hanami kembali mengulangi pertanyaan itu dan terus menatap Jasson sayu. Ia tahu, ini sangat lancang, ia tahu wanita seperti dirinya tidak akan pernah bisa masuk dalam lingkup kehidupan Jasson yang Hedon. Setidaknya, Hanami butuh jawaban. “Aku—" “Kak Jasson!” Suara Jasson tertahan di kerongkongan tatkala terdengar panggilan yang sangat familiar itu, matanya membesar begitu tahu sosok sepupunya—Meadow datang dengan tatapan penuh kecurigaan. Jasson terpaku sedetik, kemudian buru-buru menginjak tespack yang jatuh dan menendangnya ke sembarang arah. Demi menghindari kecurigaan lagi, ia langsung mendekati Meadow sebelum wanita itu sampai ke posisinya. “Astaga kau lagi, ada apa sampai ke sini?" seru Jasson pura-pura kesal menutupi kegelisahan dalam dirinya. Meadow mengernyit. “Aku dapat kabar kau akan balapan makanya aku datang, tapi kau ada di sini ...” Meadow semakin mengernyit saat melihat sahabat dekatnya juga ada di sana. “Kalian bersama?" Tatapan wanita itu berubah penuh kecurigaan. Jasson berdehem, melirik Hanami agar segera beranjak. Wanita itu menurut, mendekati Meadow setelah menghapus air matanya. Namun, Meadow sadar ada yang salah sehingga ia langsung mendorong Jasson dengan kasar. “Kau pasti mau menganggu Hanami 'kan?" tudingnya dengan tatapan lebih sebal lagi. “Stop ya, Jasson! Kalau mau main-main jangan sama sahabatku, ayo Hanami." Meadow meraih tangan Hanami lalu diajak beranjak karena ia sudah hafal tabiat sepupunya yang gemar mempermainkan wanita itu, tentunya ia tak ingin sahabat baiknya terkena jebakan manis dari Jasson meski masih berstatus sepupu. Hanami menurut namun matanya sempat saling pandang dengan Jasson, seolah dari tatapan mata itu sedang meletakan harapan di hadapan Jasson sepenuhnya. Jasson yang ditatap seperti itu dihantam perasaan yang membingungkan, kaget, panik sekaligus takut. Malam ini sepertinya malam kehancurannya telah tiba-tiba. *** Sepanjang malam Jasson tak bisa tidur dengan tenang, ia akhirnya memutuskan pergi membawa mobilnya menuju dimana sumber utama yang membuat kepalanya sangat pusing. Ia memarkirkan mobil sportnya di ujung gang perumahan Hamani, menyalakan rokok beberapa kali lalu dibuang begitu saja demi mengusir pening yang luar biasa. Jujur saja Jasson takut, ia memang seorang pemain wanita tetapi tak pernah sekali pun ia bermain melewati batas. Ia hanya pernah melakukan hal itu bersama Hanami, dan hanya Hanami. Namun, ia tidak menyangka jika ketidaksengajaan itu justru membawa sebuah petaka seperti ini. Hanya satu pertanyaan di benak Jasson saat ini, bagaimana dengan kedua orang tuanya? Wajah hangat Mamanya di rumah, Papanya? Apa mereka bisa menerima semua dosa ini? Pemikiran itu benar-benar membuat Jasson nyaris gila. Sepanjang malam ia tidak tidur sama sekali, duduk di dalam mobil sampai pagi menyingsing. Entah jam berapa pastinya sampai akhirnya sosok Hanami muncul, wanita itu sendiri terkaget-kaget mendapati Jasson berdiri di sana dengan penampilan yang berantakan. Mata merah, kemeja kusut dan rambut yang acak-acakan. Jasson menegakkan tubuhnya, mendekati Hanami dengan langkah tegasnya. “Naik," titah Jasson. “Aku mau kuliah," sahut Hanami lirih, enggan menatap mata Jasson. “Aku bilang naik, Hanami." Jasson mengulangi perintah itu lebih tegas namun bisa dengan suara lembut. “Aku akan membawamu ke dokter sekarang.” Hanami menggenggam tasnya semakin kuat dengan bibir yang digigit pertanda ketakutan merayap. Ia sadar akan status sosial mereka sehingga ia sengaja memberikan jarak tegas. “Kalau Tuan Jasson tidak percaya, aku—" “Ini bukan masalah percaya tidak percaya. Aku hanya ingin memastikan jika memang benar dia ada, dia dalam keadaan sehat," tukas Jasson dingin, wajahnya yang kelelahan itu sudah menggambarkan betapa dirinya menahan diri sekarang. Hanami masih diam tanpa ada niat bergerak, hal itu membuat amarah Jasson sampai diambang batasnya. Ia menarik lengan Hanami dengan cukup kuat lalu membawanya ke mobil cepat. ”Jasson, aku bilang mau kuliah!” sentak Hanami berusaha melawan, ia tidak ingin Jasson semena-mena lagi meski ia tahu kekuatannya tak akan bisa melawan pria ini. “Kita hanya periksa ke dokter, tidak memakan waktu lama. Jadi menurutlah sebelum kau tahu siapa aku sebenarnya!" Jasson balas menghardik dengan suara yang jauh lebih keras. Tubuh Hanami terjingkat karena terkejut luar biasa, matanya tanpa sadar langsung berkaca-kaca dan bibirnya gemetar. Jasson memejamkan mata sesaat, menyesali suaranya yang barusan meninggi. Ia tidak bermaksud membentak, dia hanya sedang ketakutan. “Hanami, tolong kali ini bekerjasamalah. Aku mungkin brengsek, tapi aku tidak akan lari dari tanggungjawab. Jadi, kita periksa, ya?" bujuk Jasson, suaranya kembali melembut meski jantungnya berdegup tak karuan saat ini. Hanami mengangkat wajahnya, lagi-lagi menunjukkan mata sayu yang membuat Jasson seperti dipindаi habis-habisan. “Kau ingin tanggungjawab atau ingin membersihkan namamu, Tuan?” Bersambung~ III Bab 3. Arti Tanggungjawab Di ruang pemeriksaan dengan sebuah layar monitor yang menunjukkan rekaman hitam putih, ada sebuah kantung kecil yang menjadi pusat perhatian Jasson saat ini. Pria yang biasanya selalu tenang itu tampak sangat tegang, matanya terpaku pada titik itu dan Hanami yang berbaring diam. “Usianya sudah 6 Minggu, detak jantungnya juga sudah bisa didengar. Saya akan meresepkan vitamin untuk istri Anda, Tuan. Semoga janinnya sehat-sehat ya.” Ucapan Dokter itu sangat lembut namun seperti lonceng kematian bagi Jasson. Ditambah setelahnya selembar foto hitam putih itu diserahkan ke tangannya beserta resep vitamin yang harus ditebus. Jasson merasa napasnya memburu tak karuan, ia bisa melihat sudut mata Hanami yang basah namun segera ditepis sesegera mungkin. “Sudah lihat hasilnya 'kan? Saya akan pulang," kata Hanami singkat, bangkit dari ranjang dan menyambar tasnya kembali. Jasson memejamkan matanya singkat, ia mencoba tersenyum pada Dokter yang baru saja memeriksa untuk menutupi kecanggungan dan mengucapkan basa-basi yang benar-benar basi. Ia kemudian melangkah dengan cepat, menahan tangan Hamani sebelum wanita itu melangkah lebih jauh. “Berhenti, Hanami. Ayo kita selesaikan masalah ini sekarang juga," ujar Jasson tegas, matanya yang merah semakin lelah karena kabar yang diterima luar biasa mengejutkan. Tatapan mata Hanami tak berubah, justru lebih dingin. “Masalah ini akan selesai kalau Tuan Jasson tutup mulut. Anda punya banyak uang 'kan? Berikan saja uangnya, saya akan menggugurkan anak ini." Amarah Jasson kembali hadir, ia ingin memaki namun masih bisa ditahan karena tahu Hanami sedang dalam keadaan yang tidak stabil. "Aku mungkin brengsek, tapi aku tidak akan membunuh darah dagingku sendiri. Nyawa di rа'himmu itu adalah satu-satunya alasan kenapa aku masih ingin menyebut diriku manusia. Jadi berhenti bertingkah bodoh, ayo ikut aku!" Dengan tarikan yang cukup kuat Jasson menarik pergelangan tangan Hanami. Tentu saja wanita itu meronta, Jasson tidak hilang akal. Ia segera merengkuh pinggang Hanami lebih posesif. “Sebaiknya kau diam atau aku bisa khilaf seperti dua bulan lalu," ancam Jasson pelan namun berhasil membuat Hanami yang keras kepala terdiam. Wanita itu menatap Jasson sangat tajam. “Bajingan!" Jasson hanya menarik sudut bibirnya tanpa mengatakan apa pun, segera membawa Hanami masuk ke mobil dengan cara paksa. Jujur saja Jasson belum punya rencana pasti, tetapi ia benar-benar tidak ingin lari dari tanggungjawab. Ia sadar ia telah membuat kesalahan, ia berdosa dan dosa itu telah menghadirkan nyawa baru di diri Hanami. Ia siap jika memang pada akhirnya harus bertanggungjawab. Mobil itu akhirnya sampai tiba di kediaman Atmajaya, rumah megah yang terlihat sangat hangat. Namun, hari ini bagi Jasson tempat itu seperti tempat ekseskusi matinya. “Kenapa Anda membawa saya ke sini?" tanya Hanami dengan perasaan gugup, ia tidak mau punya banyak harapan. Mengangkat wajah pun tak berani karena ia sadar siapa pria di sampingnya. Putra kedua keluarga Atmajaya yang namanya sering keluar masuk media. Punya belasan koleksi pacar dan selalu menjadi raja di arena balapan. Punya keluarga cemara dan terpandang, akan sangat timpang rasanya jika pria seperti Jasson terlihat masalah dengan wanita jelata seperti dirinya. “Bukankah kau sudah tahu jawabannya?" Jasson menjawab acuh, melirik perut Hanami sekilas sebelum akhirnya turun dari mobil. Hanami sebenarnya enggan untuk turun namun Jasson jelas memaksa, pria itu merangkul bahu Hanami dan membimbingnya masuk ke dalam rumah. Hanami merasa sangat kecil sekali di rumah ini. “Duduk di sini dulu, jangan ke mana-mana sampai aku panggil," bisik Jasson tepat di samping telinga Hanami. Jasson tidak menunggu jawaban Hanami, pria itu melangkah masuk ke dalam rumah yang terasa sunyi itu. Kakaknya—Jourell memang sedang liburan bersama keluarga kecilnya di rumah Kakak ipar sehingga di rumah itu hanya ada Papa dan Mamanya. Ia melangkah dengan cukup berat, sempat terhenti saat melihat senyum ceria Mamanya yang berbagi cerita dengan Papanya di meja makan. “Jasson!" Serena—Mama Jasson yang sadar akan kehadiran putranya langsung berseru, kedua matanya membeliak mendapati Jasson pulang dengan penampilan yang sangat kusut itu. “Astaga! Kau dari mana saja? Tidak pulang, sekalinya pulang kayak gembel gini. Xander, lihat putramu!" adu Serena. “Balapan lagi? Kalah berapa?" Xander yang hafal tabiat putranya hanya menanggapinya santai. Namanya anak laki-laki, ya pasti seperti itu pikirnya. Jasson mengulum bibirnya, memaksakan senyum dan pura-pura tenang. Ia melangkah bergabung di meja makan, mengambil duduk di samping Mamanya. “Aku ... sebenarnya ingin memberikan kejutan," ucap Jasson pelan, penuh kehati-hatian. Menimbang bagaimana ia menjelaskan tentang kehamilan Hanami ini. “Kejutan? Siapa yang ulang tahun?" Serena mengernyit heran, melirik putranya dengan senyum tipis. “Jangan bilang baru jatuh? Minta ganti spare part mobil? Dasar!" tuding Serena seraya tertawa, lagi-lagi lebih hafal apa yang sering anaknya lakukan. “Hem, jika memang iya pantaslah wajahmu semurung itu. Ayolah Jasson, kapan kau berhenti bermain-main?" Xander ikut tersenyum tipis tanpa sadar badai yang sebenarnya dilalui anaknya ini. “Sebenarnya lebih dari itu ..." Jasson menarik napas panjang ketika kedua tatapan mata orang tuanya jatuh ke arahnya sepenuhnya. Dengan tangan yang gemetar, meletakkan sebuah foto hitam putih dimana nyawa baru telah hadir di sana. Xander dan Serena terpaku melihat foto itu, butuh beberapa detik mereka memahaminya lalu menatap Jasson dengan tatapan terkejut yang luar biasa. “Jasson!" Serena menatap putranya seraya menutup mulut, menggelengkan kepalanya berharap jika itu salah. Jasson menelan ludahnya gugup tanpa berani mengangkat wajah. “Hanami ... dia hamil anakku." Ucapan Jasson seperti sambaran petir di siang bolong yang mengejutkan. Serena tersentak syok, begitu pun Xander. Pria tua itu terdiam dengan kedua tangan mengepal. ”Hanami? Kalian ..." Serena tidak habis pikir, ia belum mencerna baik semua ini. Wajahnya pucat, panik hingga tangannya gemetar. “Ma, ini kecelakaan. Aku akan tanggungjawab, aku akan menikahinya," jelas Jasson langsung tanpa keraguan. “Coba ulangi." Xander yang diam angkat bicara, menatap Jasson dengan tatapan yang sangat tajam sekali. “Aku akan tanggungjawab, Pa. Aku akan menikahinya." “Ulangi lagi, Papa tidak dengar.” Suara Xander semakin berat, pun tatapan matanya yang jauh lebih tajam lagi. Jasson menelan ludahnya gugup, ia memberanikan diri menantang tatapan mata itu dan menjawab lugas. “Aku akan tanggungjawab, aku akan menikahinya. Aku akan—" Plak! Bukan jawaban yang Jasson dapatkan, melainkan tamparan keras yang membuatnya terjerembab ke belakang. Xander bangkit dari duduknya, tatapan matanya berubah gelap. “Xander! Apa yang kau lakukan!" Serena berteriak kaget, mencoba membantu Jasson namun Xander lebih dulu menarik tangannya kasar. “Sejak kapan Papa mengajarkanmu hal hina seperti ini, Jasson Atmajaya!" Xander berteriak sekeras-kerasnya tepat di depan wajah Jasson. “Kau berbicara tanggungjawab? Kenapa itu tidak pernah ada di otakmu sebelum kau melakukan perbuatan kotor ini!" Xander yang sudah terlalu murka kembali memberikan tamparan yang lebih keras dari sebelumnya. Kali ini berhasil membuat sudut bibir Jasson robek. “Xander sudah!" Serena mencoba memisahkan keduanya, memeluk Jasson yang meringis kesakitan. “Jangan berani membelanya, Serena! Anak ini tidak tahu diuntung, dia harus menyelesaikan masalahnya sendiri!" “Pa!" Jasson mencoba memberikan pembelaan, bibirnya perih namun tak dihiraukan. “Aku tahu aku salah, berikan aku kesempatan untuk tanggungjawab." “Tanggungjawab?" Xander tertawa kecil, sedang menahan diri untuk tidak meludahi anaknya sendiri. “Lalukanlah, tapi jangan pernah memakai uangku apalagi namaku.” Xander mengambil kunci mobil sport Jasson dan dompet kulit yang tergeletak di meja, lalu melemparnya ke arah Serena. "Tinggalkan semuanya! Kunci, kartu kredit, semuanya! Pergi dari rumah ini sekarang juga!" bentak Xander. "Bawa wanita itu pergi dan jangan coba-coba kembali sebelum kau mengerti apa arti tanggungjawab!" Bersambung~ IV Bab 4. Karma Instan Ucapan Xander sangat tegas dan menggema di seluruh penjuru rumah yang biasanya diisi ketenangan itu. Jasson tidak berani mengeluarkan sepatah kata pembelaan apa pun, ia salah dan ia sadar itu. Tetapi ini jelas tak ada di bayangannya, hidup tanpa kartu dan mobil? Mau jadi apa dia? “Xander, kita bisa bicara baik-baik. Jasson sudah mau tanggungjawab, biarkan dia menjelaskan apa yang terjadi," pinta Serena berusaha membujuk, hati ibu mana yang rela jika melihat putranya tiba-tiba diusir seperti itu. “Itulah gunanya dia punya otak!" Bukannya mereda, kemarahan Xander kian merajalela. “Dia salah? Maka tebus kesalahannya dengan cara yang benar. Biarkan dia sadar jika kata tanggungjawab tidak semudah membuka celana dalam wanita. Jasson, jika kau punya harga diri, pergi dari sini dan buktikan kau memang pantas menjadi putraku!" Ucapan Xander terakhir jauh lebih pedas dari tamparan yang baru saja Jasson dapatkan, pria itu tersenyum penuh ironi. Di depannya Serena mencoba memohon agar Xander berubah pikiran namun ego Jasson terusik. Kedua tangannya mengepal, menatap mata Papanya dengan tatapan yang menyedihkan. “Kalau itu mau Papa, akan aku lakukan. Aku anggap ini hukuman untukku. Tapi, jangan halangi aku untuk menikahinya," kata Jasson pelan namun tegas. Xander tersenyum sedikit sinis, matanya melirik bayangan wanita yang ada di ruang tamu. Ia tahu Hanami ada di sana, ia pun tidak pernah keberatan dengan siapa pun wanita yang dipilih putranya menjadi istri. Tetapi bukan berarti membenarkan perbuatan kotor seperti itu. "Menikahinya? Itu bukan pilihan, itu kewajibanmu sebagai manusia.” Xander berdiri, berjalan perlahan mendekati putranya. "Tapi jangan harap ada pesta mewah di hotel berbintang. Kau tidak layak mendapatkan perayaan atas sebuah kehancuran. Seorang pria yang mengambil milik wanita sebelum ia mampu memberikan atap untuk berteduh, tidak lebih dari seorang pencuri. Kau ingin menikahinya? Lakukan. Tapi lakukan dengan keringatmu sendiri. Aku tidak akan membiarkan uangku menjadi pembenaran atas kesalahanmu. Keluar dari sini, dan buktikan padaku kalau kau bukan sekadar Atmajaya yang hanya bisa menghamili tapi tidak tahu cara menafkahi." Jasson terdiam, harga dirinya remuk bukan karena makian, tapi karena kejujuran ayahnya yang benar. Di sisi lain Hanami mendengar semua yang terjadi, keributan, tamparan bahkan ketika para pelayan tiba-tiba menjadi sibuk mengeluarkan barang-barang milik Jasson. Ia tidak berani bergerak, tangannya kian gemetar dengan air mata yang diam-diam mengalir. Ketika kemudian ia merasakan sebuah elusan lembut di bahunya, ia mengusap air matanya dengan cepat. Di sana Serena berdiri, Hanami sudah ciut wanita itu akan memaki-maki dirinya namun yang diberikan justru pelukan. “Maafkan Jasson ya, Hanami." Suara wanita itu teredam oleh isak tangis, mengelus punggung Hanami lembut. “Dia pasti tanggungjawab, Tante minta maaf yang sebesar-besarnya. Percaya sama Tante, dia pasti menjagamu. Maafkan dia ya." Hanami mematung dengan perasaan yang kian resah, ia tak habis pikir kenapa malah Serena yang meminta maaf? Jelas-jelas kekacauan ini memang disebabkan oleh pria yang bernama Jasson itu. Maaf? Entah seperti apa bentuknya, Hanami rasa belum ingin mengutarakannya untuk saat ini. Beberapa saat kemudian Jasson keluar dengan bibir robek dan wajah yang memerah, entah karena marah atau apa yang jelas kilatan mata pria itu benar-benar suram. “Ayo Hanami, kita pergi dari sini," titah Jasson tegas. Serena mengurai pelukannya, ia mengusap-usap pipi Hanami lalu kemudian mengelus perutnya yang masih rata. “Mama nggak bisa bantu banyak. Tapi Mama janji akan sering menjenguk kalian. Jaga diri baik-baik, ya," bisik Serena lembut keibuan. Hanami terlena, jatuh ke dalam pusaran emosi yang meluluhlantakkan logikanya. Ia merasakan elusan lembut itu membuatnya sadar jika saat ini memang ada nyawa baru yang telah tumbuh. Tetapi Hanami tidak bisa berlama-lama larut, ia hanya menganggukkan singkat kemudian beranjak mengikuti apa yang akan Jasson lakukan. Ya, pria itu sepertinya benar-benar serius dengan apa yang akan dilakukan. Mereka berdua meninggalkan kediaman Atmajaya dengan motor besar yang dibeli Jasson dari hasil balap dan tabungan, sementara kopernya akan diambil nanti-nanti saja. Apa yang akan mereka lakukan? Jawabannya tidak tahu. Karena setelah dari rumah itu Jasson belum mengucapkan apa pun. Pria itu membawanya pergi membelah kota Jakarta yang sedang sibuk-sibuknya. Angin berserta panas matahari menyengat kulit, seolah memberikan ejekan jika Jasson bukan lagi pria yang digandrungi wanita dengan koleksi mobil mewahnya. Tetapi pria yang sedang dituntut oleh penebusan dosa. “Makan dulu, ya? Baru nanti aku antar pulang," ucap Jasson dibalik kemudinya. Hanami tidak menjawab karena Jasson langsung membelokkan motornya ke salah satu restoran mewah seolah di dompetnya masih memegang kartu infinite milik Papanya. Ia turun dari motor diikuti Hanami yang masih diam. Jasson menganggap Hanami memang mau, ia segera masuk dan memesan beberapa menu sehat. Saat ini bukan hanya Hanami, tapi bayi di diri wanita itu juga harus dipikirkan. “Aku tidak lapar," kata Hanami. “Anakku yang lapar." Jasson menjawab singkat, tegas tanpa rasa ragu. Membolak-balikkan buku menu dan memesan makanan dengan harga yang tidak masuk akal. Hanami membesarkan mata dengan bibir yang berkedut jengkel. “Anakku katanya? Cih, kenapa di bisa setenang ini sih?" maki Hanami dalam hatinya. Setelah pelayan pergi ia memusatkan perhatiannya pada Hanami. “Kau sudah tahu kondisiku sekarang. Tapi itu bukan masalah, kita akan tetap menikah untuk status. Mungkin setelah ini kita akan menemui orang tuamu," ucapnya langsung tanpa basa-basi. Hanami mengernyitkan dahinya, mau tak mau memandang pria yang sejak tadi sangat enteng mengatakan akan menikah ini. “Memanganya kita harus menikah?" tanyanya dengan nada persuasif. “Kau hanya ingin tanggungjawab pada anak ini bukan?" Jasson menarik napas panjang lalu dihembuskan perlahan, egonya kembali tersentil dengan jawabannya tanpa minat dari Hanami. Ayolah, banyak wanita yang antri ingin mendapatkan posisi Hanami. Tetapi wanita ini dengan gilanya mengacuhkan dirinya? ”Jadi maksudmu kau ingin tanggungjawab tanpa menikah?" “Iya." ”Lalu bagaimana pandangan orang? Mereka akan menilai anak itu sebagai anak haram dan pandangan buruk lainnya. Kita sudah cukup berdosa, jangan sampai anak itu juga menjadi korban," sergah Jasson tak bisa menahan kekesalannya. ”Kita?" Hanami mendesis pelan. “Kau! Yang berdosa itu kau, Tuan Jasson yang terhormat. Kalau bukan karena kesalahanmu, anak sialan ini tidak akan pernah ada." Hanami menunjuk perutnya seolah menyimpan kebencian yang luar biasa. “Hanami!" Jasson hampir saja menggebrak meja di depannya, namun ketika dihadapkan mata jernih yang berkaca-kaca itu ia menahan dirinya. Ia menghembuskan napas kasar, kedua tangannya mengepal erat. “Sial! Kenapa dia terus mengutukku seolah aku pria yang hina. Apa dia tidak bisa melihat kesungguhanku ini. Apa yang sebenarnya wanita ini inginkan?" maki Jasson merasa jauh lebih pusing menghadapi Hanami dari pada menghadapi rute balapan. Setelah perdebatan panas itu akhirnya makanan datang. Hanami awalnya menolak untuk makan, tetapi Jasson mengancam akan menyuapi wanita itu dengan mulutnya sehingga ia memilih menurut. Makan siang canggung dengan beban pikiran yang membuat pusing tujuh keliling, sungguh nikmat yang harus dihindarkan jauh-jauh. Seolah hukuman pengusiran dan sita aset itu belum cukup, ketika sampai di rumah Hanami mereka bukan disambut makian atau pelukan. Melainkan sebuah stempel besar yang ditempelkan tepat di pintu oleh dua orang berpakaian seragam bank. Hanami yang baru turun dari motor syok pastinya, ia segera mendekat untuk memastikan apa yang terjadi. “Tuan Airlangga sudah menunggak cicilan selama 2 tahun. Rumah ini akan segera disita oleh bank. Nona silahkan kemasi barang-barang, Anda." Hanami seperti dipukul mundur sehingga kakinya terhuyung, Jasson yang melihat itu segera menangkapnya namun Hanami buru-buru menepis. ”Pak ini pasti salah. Kakak saya tidak mungkin telat, saya akan mencoba menghubunginya," kata Hanami mencoba peruntungan. Jika rumah ini disita ia akan tinggal dimana? Seharusnya Kakaknya memberikan penjelasan untuk ini. Beberapa kali mencoba tak ada hasil yang memuaskan. Hanami mencoba menghubungi Kakak iparnya juga, tetapi keduanya benar-benar nihil. Air matanya jatuh lebih keras, memandang wajah orang-orang di depannya. Disaat itulah Hanami sadar, jika kemungkinan besar ini adalah karma instan yang Tuhan berikan akibat dosanya. “Silahkan Anda kemasi barang-barang Anda Nona. Kami akan memberikan waktu 2 jam." Orang-orang bank itu tidak peduli dengan tangisan Hanami, mereka beranjak meninggalkan Hanami yang akhirnya luruh dengan air mata yang mengalir. “Kenapa ini bisa terjadi? Kenapa ..." Hanami menangis lirih, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Hanya dalam satu waktu, rumah, harga diri dan masa depannya berada diambang batas kehancuran. Jasson yang melihat itu mendekat, ia tidak memberikan pelukan hangat namun ia segera duduk dan mengelus lembut lengan Hanami. “Berhentilah menangis, relakan saja rumah yang sudah hilang. Karena sekarang rumahmu itu aku." Bersambung~ V Bab 5. Hukuman Semesta Suara gesekan kartu terdengar cukup nyaring, setelahnya pintu besar itu terbuka memperlihatkan ruangan satu kotak yang cukup luas dengan perabotan yang lengkap. Hanami masuk mengikuti langkah Jasson yang sudah lebih dulu masuk ke dalam. Langit di luar sudah menunjukkan warna jingga yang indah, pertanda akan masuk waktu malam. Tetapi kedua anak manusia yang tengah dihukum oleh semesta itu baru mendapatkan tempat tinggal. Itu saja setelah terjadi perdebatan alot antara keduanya, Hanami yang memang pada dasarnya hemat ingin menekan mengeluarkan tetapi Jasson si pangeran Atmajaya itu justru menolaknya mentah-mentah. “Aku tidak mau anakku kepanasan dan tinggal di tempat nggak layak. Menurut saja, kalian tanggungjawabku sekarang." Well, yang super menyebalkan sekarang Jasson selalu saja menggunakan anak sebagai bahan ancaman untuk Hanami. “Nanti kau bisa tidur di ranjang, buat dirimu senyaman mungkin. Aku akan tidur di rumah temanku atau dimana pun, jangan pikirkan aku," ucap Jasson sambil menunjuk ranjang tak terlalu besar yang berada di sudut ruangan itu. Ya, mereka sekarang ada di Apartemen dengan jenis studio yang sangat minimalis. Jasson masih punya uang untuk sekadar membayar sewa untuk satu bulan pertama. Jadi Apartemen itu terasa nyaman meski ruangannya terbatas. Satu petak yang berisi ranjang, sofa yang menghadap ke televisi, dapur minimalis dengan jendela besar yang membias seluruh ruangan. Ada juga satu kamar mandi. Hanami yang sudah terlalu lelah tidak menanggapi apa yang Jasson katakan, ia lebih memilih membongkar koper kecilnya dan mengambil baju karena ia ingin mandi lalu tidur. Ia ingin lari dari kenyataan ini. Ia tidak tahu bagaimana hubungannya dengan Jasson kedepannya, tapi hati kecilnya mengatakan jika memang ia harus ikut dengan pria ini. Jasson sendiri tidak mengatakan apa pun, ia juga jauh lebih lelah karena sejak semalam belum tidur. Ia menghempaskan tubuhnya di sofa, memijit kepalanya yang kembali berdenyut. Sekarang ia harus memikirkan strategi bertahan hidup agar tidak menjadi gembel karena tidak punya uang. *** Hanami tersentak bangun dari tidurnya, ia kaget saat merasakan tubuhnya sudah dibungkus oleh selimut. Matanya mengedar, melihat langit di luar sudah gelap, kemudian terdengar gemercik air dari kamar mandi. Hanami semakin kaget, ia buru-buru mengecek bajunya yang masih lengkap. Ia bernapas lega, sepertinya tidak terjadi apa pun. Dirinya terlalu lelah sampai tidak sadar kapan Jasson menyelimutinya. Pintu kamar mandi terbuka menimbulkan suara berderit yang menarik perhatian Hanami. Terlihat Jasson keluar dari sana dengan handuk yang melilit di pinggang, tubuhnya masih setengah basah dengan sisa air yang menetes dari rambutnya. Di dadanya tak bersih, melainkan ada tato naga besar yang menutupi hampir seluruh dada bidang itu. Tato naga itu seperti hidup dan siap menyembur kapan saja. Ingatkan Hanami melayang pada malam kelam itu, ketika tubuh itu mendekap dan menghancurkannya ke titik paling rendah. Brengsek! “Udah bangun?" Jasson melirik Hanami sekilas, melangkah menuju koper miliknya dan mengambil selembar pakaian ganti. “Tadinya mau keluar beli makanan, karena kau sudah bangun ayo keluar. Mau makan apa?" tanyanya tanpa menoleh. “Enggak." Hanami menjawab tegas, tatapan matanya tampak kosong dengan bibir yang gemetar. “Kau mau mati kelaparan?" Jasson akhirnya melirik wanita itu lagi. Meskipun polos dan pendiam, Hanami ini sangat keras kepala ternyata. “Ehem, mungkin itu lebih baik daripada hidup dengan dosa kan?" Jasson mendengus kesal, ia memakai bajunya dengan cepat. Hanami yang tadinya sudah kesal semakin kesal saja melihat tingkah Jasson yang main ganti baju. Ia buru-buru membuang muka. “Tolong kondisikan diri Anda, Tuan Jasson! Di sini ada orang!" seru Hanami tegas, sengaja memberikan batasan pada pria itu. “Nggak usah sok polos, kau sudah melihat dan merasakannya," jawab Jasson dengan entengnya, ia justru menyeringai sinis melihat tingkah Hanami itu. Sudah melihat, sudah hamil juga kenapa masih malu pikirnya? Hih, wanita itu tidak tahu saja kalau dirinya ini eksklusif hanya untuk Hanami. Hanami mendengus dongkol, ia bangkit dari ranjang. Malam ini sepertinya ia pun harus mencari cara agar bisa keluar dari lingkaran setan ini. Namun, karena gerakannya terlalu mendadak perutnya tiba-tiba nyeri. “Aduh!" teriak Hanami meringis. Jasson yang tadinya sibuk dengan ponsel untuk pesan makanan langsung sigap, ia mendekati Hanami dengan raut wajah khawatirnya. “Kenapa?" Hanami meliriknya sekilas sembari terus memegang perut. “Kram, sssh ..." Rasa sakit itu kembali menyerang membuat ia meremas perutnya lebih kuat. “Coba buat tiduran." Secara impulsif ia langsung menggendong Hanami, membantunya berbaring di ranjang lebih nyaman. Ia kemudian melirik wajah Hanami yang kesakitan dan terus memegang perutnya. “Kenapa? Mau aku panggilkan dokter?" Jasson bingung, ia ingin mengelus perut itu namun takut Hanami akan marah atau bagaimana. Hanami menggeleng tapi masih menahan sakit, tak tahu kenapa ia pun tiba-tiba menarik tangan Jasson agar menyentuh perutnya. “Di sini ... sakit," lirih Hanami. Jasson sempat terkejut untuk sepersekian detik namun ia segera sadar, dengan penuh kehati-hatian ia mengelus lembut perut itu tangannya terasa gemetar entah karena apa, padahal hanya memegang perut. “Elus, sakitnya lebih ke bawah." Hanami menarik tangan Jasson lebih erat, meminta pria itu mengelus perutnya lebih dalam lagi. Entah kenapa telapak tangan besar itu cukup nyaman dan membuat sakitnya sedikit mereda. Jasson hanya diam melakukan apa yang wanita itu minta, mengelus perutnya dengan selembut mungkin. Tangan Hanami mencengkram pergelangan tangannya, wajah wanita itu menahan sakit yang tidak dibuat-buat. Pertanda memang bayi di dalam sana sedang melakukan protes keras. “Masih mau keras kepala? Anakku protes ini karena ibunya banyak nolak kebaikan Ayahnya," celetuk Jasson asal, tapi tangannya masih terus mengelus perut Hanami. Hanami yang sudah menahan sakit membuka matanya sebal. Tapi saat ia ingin protes perutnya kembali keram membuat ia mencengkram erat tangan Jasson. “Semakin sakit? Kita ke Dokter saja." “Tidak mau." Jasson menghela napas panjang, ia bangkit sejenak mengambil ponsel lalu kembali mengelus perut Hanami. Ia membuka artikel, mencari apa penyebab perut ibu hamil tiba-tiba sakit. Jasson mengernyitkan dahi, matanya fokus menatap layar ponsel sambil sesekali melirik perut Hanami yang masih ia elus dengan tangan satunya. "Katanya... ini bisa jadi karena stres berlebih atau kontraksi palsu," gumam Jasson, suaranya terdengar jauh lebih rendah. Ia menatap Hanami yang masih memejamkan mata menahan sakit. "Istirahatlah. Jangan pikirkan apa pun dulu. Ada nyawa yang sedang kau bawa, Hanami. Jangan buat aku gila karena takut terjadi apa-apa pada kalian." Hanami tertegun, melihat keseriusan di mata pria itu membuat pertahanan dirinya runtuh. Ia diam saja, membiarkan Jasson terus mengelus perutnya namun sesekali ia melirik wajah Jasson yang serius. Luka di sudut bibirnya terlihat sudah membiru, rambutnya acak-acakan karena belum disisir tapi ia tidak bisa memungkiri jika pria di sampingnya ini terlalu sempurna untuk diungkapkan dengan kata. Dari bagian wajahnya, bibir tipis dengan senyum manis yang sering tersungging itu menjadi penarik utama. Mungkin sadar jika diperhatikan Jasson menoleh, sebelum pria itu bertatapan mata Hanami langsung membuang muka. Jasson menarik sudut bibirnya sedikit. “Aku sudah memesan makanan, vitaminmu belum kau minum 'kan?” ”Hmm." Hanami hanya menjawab dengan gumamam lirih. Satu jam kemudian, Jasson terlihat menyuapi Hanami makan. Seperti biasa, awalnya menolak tapi lama-lama mau. Sepertinya bayi di dalam tubuh Hanami benar-benar protes jika ia terlalu keras dengan Ayah si bayi. Keheningan mencekam namun Hanami berhasil menyelesaikan suapan demi suapan yang diberikan Jasson. Namun, Jasson ternyata benar-benar orang yang sangat teliti. Selesai makan ia mengambil vitamin yang diresepkan Dokter, memastikan Hanami menelan vitamin itu dengan benar. “Ini cukup untuk satu bulan, tadi aku juga baca artikel katanya harus disupport susu kehamilan juga." Jasson berbicara, lebih ke dirinya sendiri seolah menulis jadwal yang harus ia kerjakan. “Besok sebelum kuliah kita beli susunya, sekarang istirahatlah." Dengan cekatan ia membantu Hanami menata bantalnya lagi, mendorong bahu wanita itu hingga berbaring. Hanami cukup kaget dengan sikap impulsif itu, matanya membulat saat mendapati wajah Jasson yang dekat di depannya. Kedua mata mereka saling memandang namun dengan cepat Hanami melepaskan tangan Jasson dari lengannya. “Jangan menghamburkan uang, kita akan hidup untuk sembilan bulan ke depan," ucapnya mengingatkan. “Justru itu, dalam sembilan bulan kesehatanmu yang paling utama." Hanami melirik Jasson lagi. “Ya, setelah itu kau bebas dari tanggungjawab dan aku bisa pergi." “Pergi?" Jasson menyipitkan matanya, mencoba mencerna baik apa maksud wanita itu. Hanami menarik napas panjang untuk mengurangi sesak yang menghimpit, tangannya mencengkram selimut cukup kuat sebelum menjawab lirih. “Aku punya mimpi, banyak hal yang ingin aku raih. Setelah anak ini lahir ... kau tetap akan tanggung jawab padanya 'kan?” “Maksudmu kau akan pergi setelah anak ini lahir?" Rahang Jasson mengeras, kilatan emosi hadir di pelupuk matanya yang semula teduh. “Menurutmu bagaimana? Bukankah lucu jika kita membesarkan anak tanpa status yang jelas? Setelah anak ini lahir kau bebas, kita bisa memberikannya kepada orang atau—" “HANAMI!" Bersambung~ VI Bab 6. Taruhan Nyawa "HANAMI!" Suara Jasson menggelegar, ia menyentak tangannya dari selimut, berdiri dengan napas memburu. Matanya yang semula meredup lelah kini menyala-nyala oleh amarah yang pekat. "Memberikannya kepada orang lain?" Jasson mengulang kalimat itu dengan nada rendah yang mengerikan. Ia melangkah mundur, menatap Hanami seolah wanita di depannya adalah orang asing yang paling kejam. "Kau pikir anak ini barang titipan yang bisa kau kembalikan kalau kau sudah bosan? Kau pikir aku seburuk itu sampai membiarkan darah dagingku sendiri dibuang?" "Jasson, dengar dulu—" "Jaga bicaramu!" potong Jasson cepat, telunjuknya mengarah tepat ke wajah Hanami. "Kau boleh membenciku sampai mati, kau boleh mengutuk malam itu sesukamu. Tapi jangan pernah berani menyentuh harga diriku yang tersisa di dalam perutmu itu!" BRAKK! Jasson meluapkan emosinya dengan menendang kursi kayu di dekat meja makan hingga terjungkal ke lantai. Bunyi benturan keras itu membuat Hanami terlonjak dan menciut di balik selimutnya. Tanpa menoleh lagi, Jasson menyambar jaket kulitnya yang tergeletak di sofa. "Aku pergi. Jangan berani-berani keluar dari pintu ini kalau kau masih sayang nyawamu," ancam Jasson dingin. Ia membanting pintu apartemen dengan kekuatan penuh. Suara dentumannya bergema di koridor sunyi, meninggalkan Hanami yang mematung dengan jantung berdegup kencang. Hanami meremas perutnya yang kembali nyeri, bukan karena kram, tapi karena rasa sesak yang tiba-tiba menghimpit paru-parunya. Ia tidak menyangka Jasson akan semurka itu. Jasson memacu motor besarnya membelah jalanan Jakarta yang mulai mendingin. Angin malam yang menembus jaket tidak mampu mendinginkan kepalanya yang mendidih. Ucapan Hanami tentang memberikan anak itu pada orang lain terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Baginya, anak itu adalah satu-satunya alasan kenapa dia masih berdiri tegak setelah harga dirinya dihancurkan oleh Xander. Dan Hanami dengan entengnya bicara soal membuangnya? Langkah kaki Jasson terasa berat saat memasuki area parkir sebuah lounge eksklusif yang merangkap bengkel modifikasi kelas atas. Tempat ini biasanya dipenuhi koleksi mobil mewah Jasson, tapi malam ini ia datang hanya dengan dua roda. "Jasson? Tumben amat bawa motor, Man? Ferrari lo masuk bengkel?" Kev—pria dengan gaya santai dan kemeja flanel yang kancingnya dibuka dua, menyapa sambil menyesap minumannya. Ia mengerutkan kening melihat motor besar Jasson dan wajah temannya yang sedikit babak belur. "Lagi pengen angin malam," jawab Jasson pendek, ia duduk di salah satu kursi tinggi samping Kevin. "Muka lo kenapa? Habis berantem sama siapa lagi?" Kevin terkekeh, tidak curiga sama sekali. Baginya, Jasson Atmajaya yang babak belur adalah hal biasa setelah balapan atau keributan kecil. Jasson diam sejenak, menatap gelas kosong di depan meja. "Kev, kalau gue mau cari kerjaan... menurut lo yang pas buat gue apa?" Kevin langsung tersedak minumannya. Ia tertawa terbahak-bahak sampai matanya berair. "Kerjaan? Lo bercanda? Bokap lo punya gedung di setiap sudut Jakarta, Jasson. Tinggal tunjuk satu divisi juga besok lo jadi manajer. Kenapa nanya ke gue?" Jasson hanya tersenyum kecut. "Gue pengen yang... nggak ada hubungannya sama bokap." "Wah, lo beneran lagi puber kedua ya? Pengen mandiri?" Kevin menyenggol bahu Jasson, masih menganggap itu guyonan. "Tapi serius, kalau lo butuh tantangan, ada anak baru dari Surabaya. Songongnya minta ampun. Dia baru dapet kiriman Porsche 911 Turbo S dan lagi nyari lawan di jalanan lingkar luar. Katanya anak Jakarta cemen semua." Sebelum Jasson sempat menjawab, sebuah aroma parfum niche yang sangat ia kenal menusuk hidungnya. Evelyn— pacar harian Jasson, wanita yang punya kelas dan selalu menemani Jasson kemana pun pria itu pergi. "Sayang! Kau di sini?" Evelyn langsung merangkul leher Jasson, tidak peduli pada keramaian. "Aku telpon nggak diangkat. Kenapa mukanya luka gini, Babe? Siapa yang berani?" Evelyn mengelus pipi Jasson dengan cemas, lalu tiba-tiba ia menarik tengkuk Jasson dan mendaratkan ciuman dalam di bibirnya. Ciuman yang biasanya akan dibalas Jasson dengan liar, tapi kali ini terasa hambar. Jasson justru teringat bibir Hanami yang bergetar menahan tangis. "Eve, stop," Jasson melepaskan pagutan itu dengan halus namun tegas. "Kenapa? Lagi nggak mood?" Evelyn merengut manja, sama sekali belum tahu kalau pria di depannya ini sudah tidak punya akses ke kartu infinite yang biasa memanjakannya. Tiba-tiba, suara deru mesin mobil yang melengking masuk ke area parkir. Sebuah Porsche merah berhenti tepat di samping motor Jasson. Seorang pemuda turun dengan gaya pongah, melirik motor Jasson dengan pandangan menghina. "Ini yang kalian bilang Legenda Jakarta?" tanya pemuda itu sambil meludah ke samping. Kevin bersiul pelan, menatap Jasson. "Tuh, anaknya dateng. Dia nantang balapan motor lawan mobil. Gila sih, tapi taruhannya lumayan. 40 juta tunai buat siapa pun yang sampai duluan di garis finish tol dalam kota." Jasson menatap Porsche itu, lalu beralih ke dompetnya yang menipis. Bayangan Hanami yang tadi meminta dielus perutnya karena kram kembali terlintas. Ia butuh susu kehamilan, vitamin, dan biaya persalinan nanti. "40 juta?" Jasson berdiri, suaranya dingin dan stabil. "Terlalu kecil buat lo?" ejek si pemuda Surabaya itu. "Enggak. Cukup buat beli harga diri lo yang sombong itu," jawab Jasson sambil memakai helmnya kembali. Evelyn menahan lengan Jasson. "Jasson, jangan! Bahaya balapan motor lawan mobil di jalan raya!" "Diem, Eve. Tunggu di sini," Jasson menepis tangan Evelyn. Kevin menggelengkan kepala, wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang jarang terlihat. "Lo serius, Jass? Motor vs Mobil itu berisiko, apalagi lo lagi nggak fit." "Gue butuh uangnya, Kev. Bukan tantangannya," bisik Jasson pelan, hampir tidak terdengar. Jasson menaiki motornya, menderu mesinnya hingga suaranya memekakkan telinga. Di balik kaca helm gelapnya, matanya menajam. Ia tidak sedang balapan untuk kesenangan lagi. Ia sedang balapan untuk mempertahankan rumah yang baru saja ia bangun dengan penebusan dosa. Jasson menarik gas motornya dalam-dalam, membiarkan raungan mesin Ducati-nya memecah keheningan malam di bawah flyover Casablanka. Di sampingnya, Porsche merah itu menderu, suaranya berat dan mengintimidasi. "Gila lo, Jass! Beneran mau naik ke atas?" teriak Kevin dari pinggir jalan, suaranya nyaris tenggelam oleh mesin. "Angin di JLNT lagi kencang, motor lo bisa melayang kalau nggak stabil!" Jasson tidak menjawab. Ia hanya menurunkan kaca helmnya. Pikirannya tidak di sini. Pikirannya tertinggal di apartemen studio itu, pada wajah pucat Hanami dan kram perut yang menyiksanya. Ia butuh 40 juta itu. Sekarang juga. "Satu... dua... TIGA!" Porsche itu melesat lebih dulu, ban mahalnya berdecit meninggalkan bekas hitam di aspal. Jasson menyusul, tubuhnya merunduk nyaris menempel pada tangki motor untuk membelah hambatan angin. Mereka mulai menanjak naik ke JLNT Casablanka, jalan layang panjang yang meliuk di atas gedung-gedung tinggi Jakarta. Angin malam menghantam tubuh Jasson dengan beringas. Motornya sempat sedikit goyang saat ia mencapai titik tertinggi jalan layang itu. Di depannya, Porsche merah itu bermain licin, menutup jalan Jasson setiap kali pria itu mencoba menyalip dari kiri atau kanan. "Kurang ajar," maki Jasson di balik helm. Luka di bibirnya berdenyut nyeri terkena tekanan udara yang kencang, tapi Jasson justru semakin menambah kecepatan. Spidometernya sudah menyentuh angka yang membuat nyawa terasa murah. Di kejauhan, ia melihat deretan lampu mobil patroli polisi yang sedang berjaga di ujung jalan—target mereka adalah putar balik sebelum mencapai barikade itu. Jasson melihat celah sempit antara badan Porsche dan pagar pembatas jalan yang terbuat dari beton. Celah itu hanya selebar badan motornya. Jika ia meleset satu inci saja, ia akan menghantam beton dan terpental jatuh dari ketinggian puluhan meter. “Demi susu, demi vitamin, demi Hanami," batin Jasson seolah itu adalah mantra sihir. Dengan gerakan impulsif yang gila, Jasson memiringkan motornya ke arah celah sempit itu. Ia bisa merasakan hawa panas dari mesin Porsche yang bergesekan nyaris mengenai kakinya. Suara gesekan logam sempat terdengar nyaring saat spion motornya menyenggol badan mobil. "GILA LO!" teriak pengemudi Porsche itu, suaranya samar tertutup angin, ia refleks menginjak rem karena kaget melihat nekatnya Jasson. Jasson berhasil! Ia melesat di depan, memimpin balapan dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Ia menarik rem tangan tepat di titik putar balik, membuat motornya melakukan drifting tajam yang membakar ban belakangnya. Porsche itu terlambat mengerem dan harus berputar lebih jauh, memberikan Jasson keunggulan mutlak. Raungan mesin motor Jasson perlahan mereda saat ia sampai di garis finish darurat—sebuah jalan buntu di bawah flyover. Napasnya tersengal, dadanya naik turun dengan liar. Tak lama, Porsche merah itu menyusul dengan suara decitan rem yang frustrasi. Si pengemudi turun, wajahnya merah padam antara malu dan tak percaya. Tanpa banyak bicara, ia mengeluarkan empat ikat uang pecahan seratus ribu yang masih terbungkus plastik bank. "Gila lo. Lo beneran mau mati tadi," gerutu pemuda itu sambil melempar uangnya ke arah Jasson. Jasson menangkapnya dengan satu tangan. Ia menatap tumpukan uang di tangannya. 40 juta. Bagi seorang Jasson Atmajaya, dulu uang segini hanyalah harga satu botol minuman di club atau biaya servis rutin Ferrarinya. Tapi sekarang, ia memegang uang itu dengan cengkeraman erat. Uang ini terasa jauh lebih berat dari jutaan rupiah yang pernah ia gesek lewat kartu kredit ayahnya. Ini uang pertama yang ia dapatkan dengan mempertaruhkan nyawa—untuk membeli susu, vitamin, dan masa depan bayi yang bahkan belum lahir. "Jasson!" Evelyn berlari mendekat, wajahnya yang cantik terlihat sangat cemas. Ia langsung memeluk lengan Jasson. "Kau gila ya? Kalau tadi motormu oleng sedikit aja gimana? Ayo, kita rayakan kemenanganmu. Aku sudah pesan meja di tempat biasa." Jasson melepaskan tangan Evelyn dengan gerakan dingin. Ia memasukkan uang itu ke dalam balik jaket kulitnya, menepuknya pelan untuk memastikan uang itu aman di sana. "Gue balik," ucap Jasson singkat. "Balik? Ke mana? Kita belum pesta, Jasson!" Evelyn menatapnya bingung. "Ayo, semua anak-anak nungguin kamu." "Nggak bisa. Ada orang di rumah yang nungguin gue," balas Jasson tanpa menoleh. Ekspresinya datar, tapi matanya menyiratkan kelelahan yang amat sangat. Ia tidak butuh sampanye, ia hanya ingin memastikan wanita keras kepala di apartemennya baik-baik saja. Sesampainya di Apartemen napas Jasson masih memburu dengan keringat di pelipis. Jasson melangkah masuk dan seketika membeku di ambang pintu. Lampu utama masih menyala terang, membiaskan cahaya pada Hanami yang duduk tegak di sofa. Wanita itu tidak tidur. Ia hanya diam, memeluk bantal erat-erat dengan pandangan yang kosong mengarah ke televisi yang mati. Ekspresinya menunjukkan kekesalan yang dipendam, namun ada guratan lega yang tersirat sangat tipis saat melihat sosok Jasson muncul. Seolah-olah bayi di dalam perutnya itu baru saja memberi izin bagi ibunya untuk tenang setelah melihat sang ayah pulang dengan selamat. Jasson mengerutkan kening, melepas jaket kulitnya, meletakkannya dengan rapi di sandaran kursi, lalu menaruh tumpukan uang 40 juta itu di atas meja makan tanpa suara. Ia sempat melirik jam yang menunjukkan pukul 2 pagi. "Kenapa belum tidur?" tanya Jasson parau. Ia berjalan mendekat, tapi berhenti dalam jarak dua meter. "Anaknya rewel lagi?" Hanami tidak bergeming. Ia bahkan tidak menoleh, seolah Jasson hanyalah udara kosong yang lewat. "Kau pengen sesuatu? Mau makan apa?" Jasson mencoba lagi, suaranya terdengar sedikit lebih lembut meskipun sisa adrenalin balapan masih terasa di nadinya. "Atau perutmu masih sakit?" Tetap tidak ada jawaban. Hanami hanya menarik napas panjang, bangkit dari sofa dengan gerakan lambat, lalu berjalan menuju ranjang tanpa sepatah kata pun. Ia memunggungi Jasson, menarik selimut hingga ke pundak, dan memejamkan mata. Jasson mendengus pelan, setengah kesal tapi juga bingung. Ia merasa risih dengan bau aspal dan asap yang menempel di tubuhnya. Ia segera masuk ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air dingin untuk meluruhkan sisa ketegangan. Sepuluh menit kemudian, Jasson keluar dengan pakaian santai. Ia merebahkan diri di sofa, tapi matanya tetap tidak bisa terpejam. Ia menatap punggung Hanami yang masih kaku di atas ranjang. Akhirnya, dengan dengusan pelan, Jasson bangkit dan berjalan menuju sisi tempat tidur. "Geser sedikit," perintah Jasson rendah. Hanami tersentak, ia menoleh dengan mata membulat. "Kau bilang mau tidur di sofa!" "Sofanya sempit, punggungku bisa patah," dusta Jasson. "Lagi pula, anakku ini rewel sekali kalau aku jauh. Kau mau kram perut lagi?" Hanami ingin membantah, tapi saat Jasson naik ke atas ranjang dan masih menjaga batasan, Hanami merasakan kehangatan yang menjalar. Jasson membelakanginya, namun tangannya meraba ke belakang, mencari jemari Hanami yang dingin dan menggenggamnya erat di atas kasur. "Tidur, jangan banyak protes," gumam Jasson, suaranya berat karena kantuk. Hanami tertegun melihat tangan besar Jasson yang menggenggamnya. Genggaman yang kasar tapi terasa sangat melindungi. Perlahan, Hanami memejamkan mata, membiarkan ego mereka kalah oleh rasa lelah. Malam itu, di apartemen yang asing, Hanami akhirnya tertidur pulas dengan satu kesadaran pahit yang manis. Ternyata, dia memang butuh Jasson untuk sekadar bisa memejamkan mata. Bukan aku, tapi anak ini. Bersambung~ VII Bab 7. Gugur Sebelum Musim Semi Sinar matahari pagi menembus celah jendela besar apartemen itu, tepat mengenai wajah Jasson. Ia mengerang pelan, mencoba menghalau silau yang mengganggu tidurnya. Namun, saat ia hendak menggerakkan tangannya, ia merasakan sesuatu yang berbeda. Tangannya masih tertanam kuat, menggenggam jemari Hanami di atas sprei. Jasson tersentak bangun, tapi ia menahan gerakannya agar tidak mengejutkan Hanami. Ia menatap punggung Hanami yang masih terlelap, lalu beralih ke tangan mereka yang bertautan. Semalam ia benar-benar melakukan itu? Dengan perlahan dan sangat hati-hati, Jasson melepaskan genggamannya. Ia duduk di pinggir ranjang, memijat tengkuknya yang kaku karena posisi tidur yang tidak ideal. Matanya melirik tumpukan uang 40 juta di atas meja makan yang tertutup jaketnya. "Tanggung jawab baru dimulai hari ini," batinnya. Jasson bangkit, berusaha tidak menimbulkan suara. Ia mandi secepat kilat, mengenakan kaus hitam polos kedodoran miliknya. Setelah rapi, ia mengambil ponselnya yang semalam penuh dengan panggilan tak terjawab dari Evelyn dan Kakaknya Jourell. Melihat nama sang Kakak Jasson langsung membuka pesan yang dikirimkan, pria itu pasti sudah mendengar kabar dari Papa dan Mamanya sehingga mengajak ketemu. Jasson membalasnya bukan untuk setuju, tapi menanyakan merk susu hamil yang bagus dan dulu diminum sewaktu Kakak iparnya hamil. Tak membutuhkan waktu lama pesan itu mendapatkan balasan. Merk susu yang pastinya mahal dengan berbagai varian rasa. Cokelat, vanila, kacang hijau, stroberi. Jasson berdecak frustrasi. Kenapa beli susu saja lebih rumit daripada menyetel mesin Ducati? Ia melirik Hanami yang mulai bergerak sedikit di balik selimut. Tanpa pamit, Jasson menyambar kunci motor dan dompetnya. Ia harus keluar sekarang sebelum Hanami bangun dan suasana jadi semakin aneh. Tiga puluh menit kemudian, Jasson berdiri di depan rak susu sebuah supermarket besar. Ekspresinya sangat serius, seolah sedang meninjau laporan keuangan perusahaan Atmajaya. Ia memegang dua kotak susu berbeda varian di tangan kanan dan kiri. "Mas, cari susu buat istrinya ya? Masih muda banget istrinya, Mas?" tanya seorang ibu-ibu yang sedang melintas. Jasson menegang. "Ehem. Iya." "Pilih yang tinggi asam folat, Mas. Yang rasa cokelat biasanya lebih nggak bikin mual," saran ibu itu ramah. Jasson mengangguk kaku, langsung menyambar tiga kotak susu rasa cokelat tanpa melihat harga lagi. Ia juga mengambil beberapa buah-buahan segar, roti, dan beberapa kaleng susu beruang yang katanya bagus untuk pemulihan. Setelahnya ia kembali ke apartemen dengan dua kantong plastik besar. Ia melihat Hanami sudah bangun, sedang duduk di tepi ranjang sambil mengikat rambutnya. Wajah wanita itu masih terlihat mengantuk, tapi matanya langsung tertuju pada kantong belanjaan yang dibawa Jasson. "Kau... dari mana?" tanya Hanami suara seraknya khas orang bangun tidur. Jasson menaruh belanjaannya di meja dapur dengan suara sedikit berisik. "Beli kebutuhanmu." Ia mengeluarkan kotak susu itu satu per satu. "Ibu-ibu di toko bilang ini yang paling bagus. Minum sekarang, aku sudah belikan roti juga." Hanami menatap deretan kotak susu itu dengan tatapan tak percaya. Jasson, pria yang bahkan tidak tahu harga seliter bensin, baru saja belanja kebutuhan rumah tangga sendirian. "Aku bisa beli sendiri nanti, Jasson. Kau tidak perlu—" "Minum saja kenapa sih? Banyak bicara sekali," potong Jasson ketus, padahal sebenarnya ia hanya ingin menutupi rasa canggungnya karena ketahuan sangat perhatian. Jasson menyiapkan gelas, menuangkan air hangat dengan gerakan yang sedikit kaku. Ia menyodorkan gelas itu ke depan Hanami yang kini sudah duduk di meja makan kecil mereka. "Minum. Jangan sampai anakku protes lagi karena ibunya kurang gizi," ucap Jasson sambil membuang muka, pura-pura sibuk merapikan buah-buahan ke dalam keranjang kecil. Hanami menerima gelas itu. Hangatnya menjalar ke telapak tangannya. Ia menatap punggung Jasson yang tegap, menyadari bahwa meskipun mulut pria itu beracun, tindakannya mulai menunjukkan sisi lain yang belum pernah ia lihat. "Terima kasih," lirih Hanami. Jasson terdiam sejenak. Tangannya yang sedang memegang apel berhenti bergerak. Ia tidak menyahut, tapi telinganya sedikit memerah. "Habiskan. Jam sepuluh kita harus ke kampus. Kau tidak lupa kalau kita masih punya kelas, kan?" tanya Jasson, kembali ke mode bosnya. Hanami mengangguk pelan. Hidup mereka mungkin berantakan, tapi di balik pintu apartemen studio ini, perlahan-lahan ada sesuatu yang mulai terbangun. Entah itu komitmen, atau sekadar rasa senasib yang dipaksakan oleh semesta.

nomnovel.com

Klik untuk membaca lebih banyak konten menarik

A wonderland for all kinds of book lovers; Embrace a whole new world of gripping stories.

Learn more: nomnovel.com(opens in a new tab)

More from Cerita Cinta Favorit

See all Cerita Cinta Favorit ads

More ads from the top 1,000

See the top 1,000 ads