

Inactive· since Jan 29, 2026
- 7
- days it ran
- 0
- relaunches
Ad copy
“Kami sudah hidup ribuan tahun, hampir tidak menua, dan punya kekuatan yang… sulit kamu bayangkan,” ucap Lestari tenang. Haikal tertawa keras. “Hahaha! Mama sama Bapak ini kebanyakan nonton film Marvel nih ya? atau jangan-jangan Twilight, film vampir itu? Jangan-jangan ini prank lagi, mana kameranya?" “Oh, anak bodoh ini..." Lestari menggeleng. “Pantas aja kakekmu dulu sampai ketakutan waktu pertama kali tahu.” “Udah, tunjukin aja biar dia percaya,” gerutu Farhan. Ia membuka sebuah kotak kayu tua di meja. Di dalamnya, ada jarum suntik berisi cairan berwarna biru lembut yang berpendar samar. “Inilah pusaka keluarga kita, ini bernama Nanomachine. Warisan turun-temurun sejak ribuan tahun lalu. Kalau kau suntikkan ini ke tubuhmu, kau akan tahu segalanya.” Haikal melongo. “Bapak serius? Itu kayak jarum suntik alien!” “Oh iya,” sambung Lestari dengan nada lembut, “kalau nanti kamu kangen sama kami, tingkatkan saja izin aksesmu. Setelah itu kamu bisa menghubungi kami kapan pun. Lagipula, semua harta keluarga kita sudah dipindahkan atas namamu. Kamu akan tahu semuanya nanti.” “Harta keluarga?” Haikal berkedip cepat. “Memangnya sebanyak apa sih?” Farhan tersenyum lebar. “Heh, lebih dari yang bisa kamu bayangkan nak. Nih, Bapak udah siapkan kartu ini buatmu.” Ia menyerahkan kartu bank hitam berdesain mewah. “Gunakan sesukamu. Semua pusat perbelanjaan besar di Indonesia, bahkan luar negeri, akan melayanimu sebagai VIP. Kalau nggak percaya, coba cek aja saldonya.” Haikal menyalakan laptop, mengetik nomor kartu, lalu beberapa detik kemudian ponselnya berbunyi. Ia menatap layar, dan napasnya tercekat. “Delapan nol… seratus juta penuh?!” ucapnya kaget. Farhan menarik nafas dalam dan berkata. "Hei lihat baik-baik angka nolnya! itu Kuadriliun! Bocah ini bodoh sekali!" "APA?!" serunya nyaris tak percaya. “Ini—ini pasti salah, kan? Pak, ma, sebenarnya kita ini seberapa kaya?” Farhan dan Lestari saling berpandangan. “Kita juga nggak tahu pasti,” kata Farhan ringan. “Kita punya saham di banyak perusahaan. Emas, Berlian, Minyak, bahkan pengembang kompleks perumahan ini pun milik keluarga kita. Sejujurnya, sepertinya nggak ada orang di dunia ini yang lebih kaya dari kita.” Haikal hanya bisa menatap kosong. Kata-kata itu meledak di kepalanya seperti bom waktu. “Haikal,” ucap Farhan dengan nada serius, “Kamu sudah cukup dewasa. Mulai sekarang, kamu harus tahu apa yang boleh dan tidak boleh dikatakan. Dunia ini tidak sesederhana yang kamu pikirkan. Jika suatu hari nanti kamu sudah bisa melampaui batas dunia ini seperti kami, barulah kamu akan mengerti.” Lestari menambahkan lembut, “Dan kalau suatu hari kamu bosan hidup di Bumi, datanglah ke tempat kami. Jangan lupa bawa istrimu nanti. Kami masih ingin menemukan kakekmu. Jaga dirimu baik-baik dan capailah izin akses sesegera mungkin. Saat waktunya tiba, bukan cuma bisa menghubungi kami… terbang keluar Bumi pun bukan hal sulit.” Haikal ingin bertanya lebih jauh, tapi tiba-tiba Farhan menusukkan jarum suntik itu ke lengannya. Rasanya hanya seperti digigit nyamuk, tapi tubuhnya langsung gemetar. Kepalanya pusing… pandangannya menggelap. “Istriku,” ucap Farhan lembut sambil menggendong Haikal ke tempat tidur dan menyelimutinya, “apa kamu akan merindukan putra kita?” Lestari menatap wajah anaknya yang tertidur. Air mata menetes di pipinya. “Anak ini… darah dagingku sendiri. Bagaimana aku tidak rindu? Tapi kita tidak punya pilihan. Orang tuaku mungkin dalam bahaya. Lagipula, dengan cairan itu, Haikal pasti akan hidup dengan baik. Dua atau tiga tahun lagi, kita akan bisa berhubungan lagi.” Farhan mengangguk pelan. “Kalau begitu… kita berangkat sekarang.” Keduanya berjalan ke arah balkon. Tubuh mereka perlahan memancarkan cahaya lembut yang makin lama makin terang. Dalam sekejap, keduanya diselimuti sinar putih keemasan yang berputar seperti aurora suci, misterius, dan indah. Lalu dalam sekejap, mereka menghilang dari pandangan meninggalkan dunia ini. #$$ “Wusss!” Cahaya keemasan menyelimuti tubuh Farhan Otomo dan Lestari. Dalam sekejap, keduanya melesat ke langit, menembus awan dan menghilang tanpa jejak… ... Haikal merasa dirinya jatuh ke dalam ruang kosong yang aneh. Di sekelilingnya hanya ada lautan data, simbol-simbol digital yang berputar seperti pusaran cahaya. Lalu suara mesin bergema di telinganya — jernih, datar, namun entah kenapa terasa… hidup. [Sistem mulai mendeteksi kondisi inang…] [Semua fungsi Nanomachine normal. Proses pengikatan dimulai…] [Pengikatan berhasil. Membuka izin akses…] [Sesuai perintah generasi sebelumnya, membuka seluruh kekayaan…] [Menyiapkan tugas peningkatan otoritas…] [Ting!] [Proses selesai. Sistem sepenuhnya terhubung dengan inang!] Swish! Haikal tiba-tiba membuka mata. Ia duduk tegak, napas terengah. Rasanya seperti baru saja terbangun dari mimpi panjang. Tapi… semuanya terasa nyata. Orang tuanya, cahaya aneh itu, dan kata-kata tentang meninggalkan Bumi — semua begitu jelas di kepalanya. “Tunggu…” gumamnya bingung. “Kenapa aku masih di tempat tidur? Mana mama sama bapak?” Jam di dinding menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi. Biasanya, ibunya Lestari akan membangunkannya sejak jam enam tepat. Tapi rumah itu sunyi. Sangat sunyi. [Tuan rumah, tak perlu mencarinya lagi. Generasi tuan rumah sebelumnya sudah meninggalkan Bumi untuk mencari generasi ke-98,] suara asing terdengar begitu saja di kepalanya. Haikal langsung melonjak dari tempat tidur. “Siapa disana?! Keluar! Di mana lo sembunyi?! Jangan main-main gue laporin polisi nih!” Apa yang terjadi selanjutnya?😦 📕Aku Pewaris Kaya Nanomachine 💥Saat ini serial di MaxNovel~
Kelanjutannya bikin kamu merinding! 😦🫣
EXPLORE MORELike this ad? Make it yours.
Crush rebuilds this exact creative around your product — your brand, your colors, your offer — in about a minute.







