NovelToon- Read Stories ad creative
NovelToon- Read Stories
NovelToon- Read Stories

Inactive· since Mar 31, 2026

50
days it ran
1
relaunches

Ad copy

Senja di Desa Sukamaju selalu membawa ketenangan bagi orang lain, namun tidak bagi Amara. Gadis berusia sembilan belas tahun itu duduk bersimpuh di atas dipan kayu yang sudah reyot. Tangannya meremas pinggiran baju kurungnya yang terasa semakin sesak di bagian dada. Ada rasa nyeri yang berdenyut-denyut, seolah-olah ada sesuatu yang mendesak ingin keluar dari dalam tubuhnya. Sejak sebulan lalu, tubuh Amara mengalami perubahan aneh. Meski ia masih suci dan belum pernah disentuh lelaki manapun, kelenjar di dadanya terus memproduksi cairan kehidupan. Setiap pagi, ia harus diam-diam mengganti kain penutup dadanya yang basah kuyup. Ia merasa seperti sebuah anomali, sebuah rahasia medis yang ia simpan rapat-rapat karena takut dianggap aneh oleh orang-orang desa. Namun, rasa sakit fisik itu tak sebanding dengan rasa sakit di hatinya saat melihat sang ibu, Sumiyati, menangis di dapur. Utang peninggalan mendiang ayahnya sudah menumpuk, dan para penagih utang mulai berdatangan dengan ancaman kasar. Amara melihat kedua adiknya, Sekar dan Bimo, yang sedang berbagi satu piring nasi jagung tanpa lauk. Hati Amara hancur berkeping-keping melihat pemandangan itu. "Ibu, Amara akan berangkat ke Jakarta besok," ucapnya dengan suara yang bergetar namun tegas. Ia tahu, kecantikannya yang polos dan tubuhnya yang ranum bisa menjadi beban di desa, tapi di kota besar, ia berharap itu bisa menjadi jalan untuk mencari nafkah yang layak. Perjalanan menuju ibu kota terasa seperti mimpi buruk yang panjang. Amara duduk di dalam bus ekonomi yang sesak, memeluk tas ranselnya erat-erat. Sepanjang jalan, ia hanya bisa memandang ke luar jendela, melihat sawah-sawah hijau berganti menjadi deretan pabrik, lalu akhirnya berubah menjadi gedung-gedung pencakar langit yang angkuh. Jakarta menyambutnya dengan hawa panas dan kebisingan yang mencekik. Sesampainya di sebuah mansion megah di kawasan elit, Amara merasa sangat kecil. Bangunan itu begitu besar, seolah-olah bisa menelan dirinya bulat-bulat. Di sanalah ia bertemu dengan Arlan Aditama, seorang pria yang memiliki segalanya kecuali kebahagiaan. Arlan adalah sosok yang dingin, dengan tatapan mata yang sekeras baja dan hati yang sudah membatu sejak istrinya pergi demi pria lain. Di rumah mewah itu, suasana terasa mencekam. Tangisan bayi berusia tiga bulan, Kenzo, menggema di setiap sudut koridor. Bayi malang itu adalah korban dari pengkhianatan ibunya sendiri. Kenzo menolak semua susu formula yang diberikan. Ia merindukan kehangatan manusia yang asli, bukan plastik botol yang steril dan dingin. Arlan, yang frustrasi melihat putranya menderita, hampir kehilangan akal sehatnya. Saat Amara pertama kali melangkah masuk ke kamar bayi, sesuatu yang aneh terjadi. Dada Amara berdenyut hebat. Aroma bayi yang khas itu memicu reaksi hormonal yang luar biasa di tubuhnya. Amara merasa dadanya kencang dan berat, seolah-olah tubuhnya mengenali kebutuhan bayi itu. Ada sebuah koneksi primitif yang tiba-tiba terjalin antara gadis perawan dari desa dan bayi yang haus akan kasih sayang ibu itu. Amara tahu ia berada di ambang keputusan yang berbahaya. Jika ia memberikan apa yang ia miliki kepada Kenzo, ia mungkin akan menyelamatkan nyawa bayi itu, namun ia juga akan terjerat dalam hubungan yang rumit dengan Arlan. Arlan yang penuh luka, Arlan yang penuh amarah, dan Arlan yang kini menatapnya dengan penuh kecurigaan namun juga dengan ketertarikan yang tidak ia sadari. Gairah yang akan tumbuh di mansion ini bukan hanya tentang sentuhan kulit, melainkan tentang pertemuan dua kutub yang berbeda. Amara adalah kehidupan yang mengalir jernih, sementara Arlan adalah kekosongan yang gelap. Di tengah kemewahan yang sunyi, rahasia tentang cairan manis yang keluar dari tubuh Amara akan menjadi jembatan sekaligus jurang di antara mereka. Kini, Amara berdiri di depan pintu kamar bayi, bersiap untuk menghadapi takdirnya. Ia bukan hanya datang untuk menjadi seorang pengasuh yang mengganti popok atau mengayun buaian. Ia datang sebagai sumber kehidupan. Ia datang untuk memadamkan dahaga Kenzo, dan tanpa ia sadari, ia juga akan memadamkan kekosongan di hati sang tuan rumah yang selama ini mati rasa. Prolog ini adalah awal dari sebuah perjalanan panjang. Sebuah kisah tentang pengabdian seorang anak kepada keluarganya di desa, yang menyeretnya ke dalam pusaran gairah di ibu kota. Di bawah lampu kristal mansion Aditama, tetesan pertama itu akan segera jatuh, mengubah hidup Amara, Kenzo, dan Arlan untuk selamanya. Dan perjalanan penuh gairah itu, baru saja dimulai. BAB 1: Tiket Menuju Harapan Udara fajar di Desa Sukamaju masih terasa menusuk tulang, namun Amara sudah sibuk di dapur kecil mereka yang berdinding bambu. Sambil menahan rasa sesak yang mulai menyerang dadanya—sensasi kencang yang kini rutin menyapanya setiap pagi—ia membungkus nasi jagung dan sambal teri ke dalam daun pisang. "Nduk, benar kamu mau pergi sekarang?" Amara menoleh. Ibunya, Ibu Sumiyati, berdiri di ambang pintu dapur dengan mata yang sembap. Di belakangnya, dua adik Amara, Sekar yang berusia tujuh tahun dan Bimo yang masih lima tahun, mengucek mata karena baru bangun tidur. Amara memaksakan senyum, meski hatinya terasa seperti diremas. "Ibu, kalau Amara tidak pergi ke Jakarta, bagaimana dengan biaya sekolah Sekar dan Bimo? Utang kita pada rentenir itu juga harus segera dilunasi, Bu." "Tapi Jakarta itu jauh, Mara. Kamu baru lulus sekolah. Ibu merasa gagal sebagai orang tua kalau harus melepasmu jadi babu di sana," isak Sumiyati sambil mengelus bahu putrinya yang nampak tegap namun sebenarnya rapuh. "Mbak Mara mau pergi?" Bimo berlari kecil dan memeluk kaki Amara. "Mbak jangan pergi... nanti siapa yang menemani Bimo mencari belalang?" Amara berlutut, menyetarakan tingginya dengan sang adik. Ia mengelus pipi Bimo yang bulat. "Bimo anak pintar, kan? Mbak pergi sebentar untuk cari uang supaya Bimo bisa beli tas baru dan susu yang enak. Nanti kalau Mbak pulang, Mbak bawakan mainan yang besar." "Benar ya, Mbak?" tanya Bimo dengan mata berbinar. Amara mengangguk mantap, meski tenggorokannya terasa tersumbat. Sekar, yang lebih dewasa dari usianya, hanya diam mematung. Ia mendekat dan membisikkan sesuatu. "Mbak... bajunya basah lagi?" Amara tersentak. Ia segera menarik kain selendang untuk menutupi bagian dadanya. Rembesan itu muncul lagi. "Ssttt... tidak apa-apa, Sekar. Mbak hanya... sedikit berkeringat." "Bukan keringat, Mbak. Baunya manis," bisik Sekar polos. Amara segera memeluk kedua adiknya erat-erat, menyembunyikan wajahnya agar mereka tidak melihat air matanya jatuh. Hanya ia yang tahu rahasia medis aneh yang ia alami. Ia sempat membaca di buku kesehatan perpustakaan sekolah—sesuatu tentang kelebihan hormon—namun ia terlalu takut untuk bercerita pada ibunya yang sudah banyak beban. "Amara janji, Bu," ujar Amara sambil berdiri dan mencium punggung tangan ibunya dengan takzim. "Setiap bulan Amara akan kirim uang. Jaga kesehatan Ibu, jaga Sekar dan Bimo. Amara akan baik-baik saja di rumah Tuan Aditama itu. Katanya mereka orang baik." Sumiyati menyerahkan sebuah bungkusan kain berisi bekal. "Ini untuk di jalan. Hati-hati, Nduk. Jaga kehormatanmu. Di kota besar, banyak serigala berbulu domba." Amara mengangguk, namun dalam hatinya ia membatin, 'Biarlah serigala itu datang, asal keluargaku bisa makan.' Dengan tas ransel usang dan hati yang berdegup kencang, Amara melangkah keluar dari rumah mungilnya. Ia tidak menoleh lagi saat bus ekonomi antar-provinsi itu mulai menjauh, karena ia tahu, jika ia menoleh, ia tidak akan pernah sanggup untuk pergi. Ia tidak tahu, bahwa di Jakarta nanti, ia bukan sekadar pengasuh bayi, melainkan oase bagi seorang pria yang hatinya telah lama gersang. *** Amara menarik napas panjang saat pintu bus ekonomi itu terbuka di Terminal Kalideres. Aroma polusi, asap knalpot, dan hiruk-pikuk manusia menyambutnya dengan kasar. Namun, semua kelelahan itu seolah menguap saat ia menatap cakrawala. Gedung-gedung pencakar langit berdiri angkuh, menembus awan tipis Jakarta. Bagi Amara, bangunan itu tampak seperti raksasa kaca yang memantulkan cahaya matahari sore. "Luar biasa... tinggi sekali," gumam Amara pelan sambil mengeratkan pegangan pada tas ranselnya. Matanya tak berkedip menatap kemegahan yang tak pernah ia temui di balik bukit desanya. "Jangan melamun, nanti dicopet," sebuah suara perempuan yang renyah mengejutkannya. Amara menoleh dan mendapati seorang wanita berusia sekitar 40 tahun dengan pakaian rapi namun sederhana. Dialah Mbak Lasmi, kerabat jauh yang menjanjikan pekerjaan untuknya. "Mbak Lasmi!" Amara tersenyum lega, merasa punya pelindung di hutan beton ini. "Ayo, Mara. Kita naik taksi saja. Tuan Arlan sudah menunggu. Bayinya rewel terus dari tadi pagi," ajak Mbak Lasmi sambil menarik tangan Amara menuju deretan mobil yang mengantre. Di dalam kendaraan menuju kawasan elit Menteng, Amara tak henti-hentinya menempelkan wajah ke kaca jendela. Ia terpukau melihat deretan mobil mewah dan lampu-lampu kota yang mulai menyala. Namun, suasana berubah serius saat Mbak Lasmi mulai memberikan instruksi dengan nada rendah dan tegas. "Dengar baik-baik, Mara. Bekerja di kediaman Aditama itu tidak sama dengan di desa. Gajimu besar, sangat cukup untuk biaya sekolah Sekar dan Bimo tiap bulan, tapi tanggung jawabmu juga berat." Amara mengangguk cepat, wajahnya menunjukkan keseriusan. "Apa saja yang harus Amara lakukan, Mbak? Amara akan belajar cepat." "Tugas utamamu hanya satu: menjaga Baby Kenzo. Dia baru tiga bulan, malang sekali nasibnya ditinggal ibunya begitu saja. Tapi ingat satu hal," Mbak Lasmi menatap mata Amara dengan tajam, "Jangan pernah bertanya soal istrinya Tuan Arlan. Di rumah itu, nama wanita itu dilarang untuk diucapkan. Jangan memancing kemarahan Tuan." "Baik, Mbak. Amara janji tidak akan lancang." "Lalu tentang Tuan Arlan..." Mbak Lasmi menghela napas panjang. "Dia orang yang sangat dingin. Sangat kaku. Kalau dia lewat, cukup menunduk dan jangan berani menatap matanya terlalu lama kecuali dia yang bicara duluan. Dia tidak suka kebisingan, tidak suka kecerobohan, dan yang paling penting... jangan sekali-kali menyentuh barang-barang di ruang kerjanya." Amara menelan ludah, rasa gugup mulai menjalar hingga ke ujung jemarinya. "Tuan Arlan... apa dia orang yang temperamental, Mbak?" "Dia hanya pria yang sedang terluka, Mara. Hatinya membatu sejak dikhianati istrinya. Oh ya, satu lagi," Mbak Lasmi memperhatikan Amara dari atas ke bawah. "Tuan Arlan sangat gila kebersihan. Kamu harus selalu rapi dan wangi. Dan... apakah kamu sudah siap? Kamu harus siap siaga 24 jam karena Baby Kenzo menolak semua jenis susu formula. Dia sangat sulit ditenangkan." Amara meraba dadanya yang terasa berdenyut nyeri. Rembesan hangat itu muncul lagi, membasahi kain pakaian dalamnya hingga terasa lembap. "Amara akan berusaha sekuat tenaga, Mbak. Amara benar-benar butuh pekerjaan ini demi Ibu di desa." Taksi kemudian berhenti di depan gerbang hitam yang menjulang tinggi. Saat gerbang otomatis itu bergeser pelan, sebuah mansion megah bergaya Eropa modern berdiri dengan angkuh di balik taman yang tertata rapi. "Ingat pesan Mbak tadi, Mara," bisik Mbak Lasmi saat mereka turun dari mobil. "Jangan bicara kalau tidak perlu, dan anggap Baby Kenzo seperti duniamu sendiri. Mengerti?" "Mengerti, Mbak," jawab Amara pelan, mencoba menenangkan detak jantungnya yang menggila. Saat mereka melangkah masuk ke teras luas yang terbuat dari marmer mengkilap, sayup-sayup terdengar suara tangisan bayi yang menyayat hati dari lantai atas, diiringi suara bentakan rendah seorang pria yang terdengar sangat frustrasi. "Kenapa dia tidak mau diam?! Apa tidak ada satu pun dari kalian yang becus mengurus bayi?!" Amara gemetar. Suara itu begitu berat dan penuh otoritas. Langkah kakinya terasa berat, namun ia tahu, di balik pintu besar itu, nasib keluarganya ditentukan. *** ...✨ Dear Readers, ✨... ...Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk mampir dan membaca. Semoga kalian menikmati setiap alur dan emosi yang ada di dalam cerita ini ya, guys 🤍... ...Perlu aku sampaikan, cerita ini murni fiksi. Apabila terdapat kesamaan nama, tempat, atau kejadian dengan dunia nyata, itu hanyalah ketidaksengajaan semata.... ...📌 Penting:... ...Novel ini diperuntukkan khusus untuk usia 21+. Mohon bijak dalam membaca dan pastikan kamu merasa nyaman dengan isi ceritanya.... Unduh NovelToon dan baca semua cerita hebat secara gratis. Judul - Dahaga Sang Tuan

Dahaga Sang Tuan🤱

INSTALL MOBILE APP
🪄Crush AI

Like this ad? Make it yours.

Crush rebuilds this exact creative around your product — your brand, your colors, your offer — in about a minute.

More ads from NovelToon- Read Stories

NovelToon- Read StoriesNovelToon- Read Stories
Inactive
50 Days
-Reach
1Ads
NovelToon- Read Stories Facebook ad
Details
NovelToon- Read StoriesNovelToon- Read Stories
Inactive
24 Days
-Reach
NovelToon- Read Stories Facebook ad
Details
NovelToon- Read StoriesNovelToon- Read Stories
Inactive
18 Days
-Reach
NovelToon- Read Stories Facebook ad
Details
NovelToon- Read StoriesNovelToon- Read Stories
Active
111 Days
-Reach
NovelToon- Read Stories Facebook ad
Details
NovelToon- Read StoriesNovelToon- Read Stories
Inactive
36 Days
-Reach
NovelToon- Read Stories Facebook ad
Details
NovelToon- Read Stories Ad — Ran 50 Days | Crush Ad Library