

Active· since Jul 16, 2026
- 14
- days running
- 0
- relaunches
Ad copy
Pengkhianatan Sebelas Tahun Ponsel Albert menyala tepat ketika Liana sedang menutup kotak bekal terakhir. Dapur rumah keluarga Phua di BSD City sudah sepi. Jarum jam hampir menyentuh pukul dua belas malam, tetapi aroma ayam jahe dan bawang putih masih tertinggal di udara. Di meja makan, tiga kotak bekal tersusun rapi. Satu untuk Albert. Satu untuk Jason yang kadang pulang tanpa memberi kabar. Satu lagi ia siapkan hanya karena kebiasaan, seolah masih ada keluarga yang menunggu sentuhan tangannya. Liana baru saja hendak mencuci tangan ketika layar ponsel di ujung meja menyala lagi. Albert biasanya tidak pernah meninggalkan ponselnya begitu saja. Bahkan saat mandi pun benda itu dibawa masuk ke kamar mandi. Malam ini mungkin ia terlalu lelah. Sepulang dari kampus, ia langsung masuk kamar, mengeluh sakit kepala, lalu tertidur dengan napas berat. Liana tidak berniat melihat. Ia hanya ingin mematikan layar agar baterainya tidak habis. Namun, satu kalimat di notifikasi itu membuat ujung jarinya berhenti di udara. Sayang, Jayden tadi nanya kapan Papa tidur di sini lagi. Tubuh Liana seketika dingin. Panci kecil yang masih ia pegang hampir terlepas. Ia menaruhnya pelan di wastafel, tetapi suara logam menyentuh keramik tetap terdengar terlalu nyaring di dapur sunyi itu. Sayang. Papa. Jayden. Tiga kata itu tidak mungkin berdiri sendiri. Tidak pada ponsel suaminya. Tidak setelah tiga puluh tahun pernikahan yang selama ini ia rawat seperti kain tua yang terus ditambal agar tidak kelihatan robek. Liana menatap pintu kamar utama. Tidak ada suara dari sana. Hanya dengung AC dan detak jam dinding. Tangannya gemetar saat mengambil ponsel itu. Ia tahu pola kunci Albert. Bukan karena ia suka memeriksa, melainkan karena Albert sering menyuruhnya membalas pesan dosen muda atau mencari nomor mahasiswa ketika sedang menyetir. Malam itu, layar meminta sidik jari. Liana berdiri beberapa detik, menahan napas. Kemudian ia membawa ponsel itu ke kamar. Albert tidur miring, satu tangan terkulai di atas selimut. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang menyimpan badai di dalam rumahnya sendiri. Liana mengangkat ibu jari Albert pelan. Klik. Layar terbuka. Jantungnya berdebar begitu keras sampai ia takut Albert akan terbangun hanya karena suara itu. Nama kontak di WhatsApp bukan Yuni Yap. Bukan nama perempuan mana pun. Albert menyimpannya sebagai Dokumen Kampus. Tetapi foto profilnya adalah seorang perempuan muda dengan rambut sebahu, tersenyum di depan kaca apartemen. Di belakangnya ada anak laki-laki memakai seragam sekolah dasar. Liana membuka percakapan itu. Ia tidak perlu menggulir jauh untuk memahami semuanya. Ada foto makan malam. Ada pesan manja yang dibalas Albert dengan kata-kata yang tidak pernah lagi ia ucapkan kepada istrinya. Ada transfer bulanan. Ada bukti pembayaran sekolah. Ada foto kue ulang tahun anak dengan lilin angka sepuluh. Jayden sudah sepuluh tahun hari ini. Papa harus datang, Ko Albert. Sebelas tahun, batin Liana. Jari-jarinya bergerak sendiri, menggulir ke atas, jauh melewati bulan dan tahun. Foto berubah, tanggal berganti, tetapi kebohongan itu tidak pernah putus. Satu demi satu pesan muncul seperti jarum yang ditancapkan perlahan ke kulitnya. Aku kangen. Kapan kamu bisa tinggal sama aku? Liana tidak curiga, kan? Albert menjawab, Dia terlalu sibuk urus rumah. Tidak akan tahu. Ruangan terasa berputar. Liana bersandar ke lemari, ponsel masih di tangan. Tenggorokannya kering. Selama ini ia mengira usia yang membuat Albert berubah. Ia mengira dinginnya suami adalah akibat pekerjaan, ambisi akademik, atau kelelahan mengurus kampus. Ternyata, ia hanya perempuan yang ditinggalkan di rumah untuk menjaga nama baik. Tiga puluh tahun ia bangun lebih pagi dari semua orang. Tiga puluh tahun ia menyiapkan makanan, mencuci pakaian, mengatur obat Kim Hwa, menunda keinginan sendiri, menelan setiap sindiran keluarga Phua karena ia percaya rumah tangga harus dijaga. Lima tahun pertama ia belajar menjadi istri yang baik. Sepuluh tahun berikutnya ia belajar menjadi menantu yang tidak mengeluh. Dua puluh tahun terakhir ia belajar hidup dengan lubang di dada setelah Dede hilang, putra kandungnya yang sampai hari ini masih ia cari dalam doa. Dan selama sebelas tahun dari semua tahun itu, Albert punya rumah lain. Perempuan lain. Anak lain. Liana membuka galeri percakapan. Ada foto Albert memeluk Jayden di depan pohon Natal kecil. Ada foto Yuni menyandarkan kepala ke bahu Albert di sebuah apartemen. Ada video pendek seorang anak laki-laki meniup lilin sambil berteriak, "Papa, lihat sini!" Liana menutup mulutnya. Air mata naik, tetapi ia tidak membiarkannya jatuh. Bukan sekarang. Bukan di depan wajah Albert yang sedang tidur nyenyak setelah mengkhianatinya begitu lama. Ia mengambil ponselnya sendiri dari nakas, memotret layar satu per satu. Percakapan. Nomor rekening. Bukti transfer. Foto. Nama apartemen yang berkali-kali muncul dalam pesan lokasi. Apartemen Golden Crown. Jumlah uang yang dikirim tidak kecil. Uang itu lebih besar daripada biaya bulanan rumah yang selalu Albert perhitungkan dengan suara dingin. Liana teringat bagaimana minggu lalu Albert menegurnya karena membeli vitamin tambahan untuk Kim Hwa. "Jangan boros. Uang tidak tumbuh di pohon." Saat itu ia hanya diam. Ia bahkan merasa bersalah. Sekarang, rasa bersalah itu berubah menjadi sesuatu yang panas dan tajam. "Apa yang kamu lakukan?" Suara Albert membuat Liana menoleh. Pria itu sudah terbangun. Matanya menyipit, lalu melebar ketika melihat ponsel di tangan Liana. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Liana melihat ketakutan di wajah suaminya. Hanya sebentar. Setelah itu, wajah Albert mengeras. "Kembalikan ponselku." Liana tidak bergerak. "Sebelas tahun?" Albert turun dari ranjang. "Aku bilang, kembalikan." "Sebelas tahun, Albert?" Suara Liana pelan, tetapi setiap katanya keluar jelas. "Anak itu sepuluh tahun. Berarti kamu bersama dia sejak aku masih merawat Mama-mu setiap malam." Rahang Albert menegang. "Kamu membuka ponselku?" Liana hampir tertawa. Bukan karena lucu, melainkan karena pertanyaan itu terlalu hina. "Itu yang kamu khawatirkan?" "Kamu tidak punya hak membuka barang pribadiku." "Dan kamu punya hak punya keluarga lain?" Albert mengusap wajahnya kasar. Ia berjalan mondar-mandir di samping ranjang, seperti dosen yang kehilangan bahan kuliah di depan kelas. "Kamu tidak mengerti situasinya." "Jelaskan." Albert berhenti. "Yuni tidak menuntut macam-macam." Nama itu akhirnya keluar. Yuni. Perempuan di foto itu punya nama. Perempuan yang selama ini menerima uang, waktu, perhatian, dan tubuh suaminya. "Dia tidak menuntut?" Liana menatapnya. "Aku yang menuntut apa selama ini, Albert? Aku minta rumah mewah? Aku minta mobil baru? Aku bahkan berhenti kuliah karena ibumu bilang keluarga lebih penting." "Jangan bawa Mama." "Kenapa? Kamu boleh bawa perempuan lain ke dalam hidup kita, tapi aku tidak boleh menyebut ibumu yang aku rawat sepuluh tahun?" Albert menunjuk wajahnya. "Turunkan suaramu." "Tidak ada siapa-siapa yang perlu kamu tipu malam ini." "Liana!" Bentakan itu dulu cukup untuk membuatnya diam. Dulu ia akan menunduk, meminta maaf meski tidak tahu salahnya apa. Dulu ia takut rumah ini retak jika ia menjawab terlalu keras. Malam ini, retaknya sudah terlihat sampai ke tulang. Liana meletakkan ponsel Albert di atas meja rias. Ia melepas celemek yang masih tergantung di tubuhnya, melipatnya sekali, lalu menaruhnya di kursi. Gerakan itu pelan, hampir terlalu rapi, tetapi di dalam dadanya sesuatu sudah terputus. "Aku mau cerai." Albert terpaku. Beberapa detik ia hanya menatap Liana seolah perempuan di depannya berubah menjadi orang asing. Lalu ia tertawa pendek. "Cerai?" "Iya." "Kamu bicara karena emosi." "Aku bicara karena akhirnya sadar." Albert melangkah mendekat. Bau minyak rambut dan sisa parfum kampusnya menusuk hidung Liana. Dulu bau itu terasa akrab. Sekarang terasa seperti barang asing di rumahnya sendiri. "Dengar baik-baik," kata Albert, suaranya merendah, penuh tekanan. "Di usia lima puluh, kamu mau jadi apa setelah cerai?" Liana menatapnya tanpa berkedip. "Kamu tidak punya pekerjaan. Tidak punya penghasilan. Tiga puluh tahun kamu cuma di rumah. Kamu pikir dunia di luar sana menunggu perempuan sepertimu?" Setiap kalimatnya seperti sengaja dipilih untuk menampar tempat paling lembut dalam diri Liana. Ia bisa merasakan cincin nikah di jarinya. Logam itu tiba-tiba terasa sempit, menekan kulit yang sudah lama terbiasa menanggung beban. "Lebih baik jadi bukan siapa-siapa daripada tetap jadi istri laki-laki yang membohongiku sebelas tahun." Mata Albert menyala marah. "Jaga mulutmu." "Kamu yang seharusnya menjaga pernikahanmu." "Aku laki-laki, Liana. Ada hal yang tidak sesederhana pikiranmu." "Pengkhianatan memang sederhana. Kamu memilih." Wajah Albert memerah. Ia meraih ponselnya dari meja rias, tetapi Liana sudah menyalin cukup banyak bukti. Mungkin ia menyadari itu, karena tangannya berhenti di udara. "Apa yang kamu kirim ke ponselmu?" Liana diam. "Jawab!" "Cukup untuk mengingatkan diriku agar tidak memaafkanmu hanya karena takut lapar." Albert menatapnya tajam, lalu tertawa sinis. "Kamu pikir bukti itu bisa membuatmu menang? Rumah ini atas namaku. Tabungan atas namaku. Mobil atas namaku. Semua yang kamu pakai selama ini dari uangku." Liana merasakan kuku ibu jarinya menekan telapak tangan. Sakit kecil itu membuat kepalanya tetap jernih. "Tiga puluh tahun hidupku juga kamu pakai, Albert." "Jangan dramatis." "Aku tidak sedang dramatis. Aku sedang menagih." Albert mendekat satu langkah lagi. Kali ini, suaranya berubah dingin. "Kalau kamu berani membawa ini keluar, aku pastikan semua orang tahu kamu istri yang gagal. Tidak bisa menjaga suami. Tidak bisa menjaga anak sampai Dede hilang. Setelah itu kamu mau tinggal di mana? Di rumah Jessy? Berapa lama dia sanggup menampung perempuan tua tanpa uang?" Nama Dede membuat dada Liana seperti dihantam. Selama dua puluh tahun, kehilangan itu menjadi luka yang tidak pernah benar-benar mengering. Dan malam ini, Albert menggunakannya seperti pisau. Liana menahan napas. Ia tidak menangis. Justru karena ia ingin menangis, ia memaksa punggungnya tetap tegak. "Jangan sebut Dede dengan mulut yang sama yang kamu pakai memanggil anak perempuan itu sayang." Albert terdiam. Untuk sesaat, kamar itu hanya diisi suara AC dan napas mereka yang sama-sama berat. Liana melepas cincin nikah dari jarinya. Kulit di bawah cincin tampak lebih pucat, seperti bagian tubuh yang terlalu lama tidak terkena udara. Ia meletakkan cincin itu di meja rias, tepat di samping ponsel Albert. "Mulai malam ini, aku tidak akan melayanimu lagi." Albert menatap cincin itu, lalu menatapnya. Tidak ada rasa kehilangan di wajahnya. Hanya amarah karena sesuatu yang selama ini ia anggap miliknya mulai berani bergerak sendiri. "Kamu akan menyesal." "Mungkin." Liana mengambil ponselnya sendiri dan menggenggamnya erat. "Tapi aku lebih menyesal kalau tetap di sini." Albert tersenyum tipis, kejam dan penuh keyakinan. "Kamu berani mengajukan cerai, aku buat kamu tidak mendapat sepeser pun. Ingat, Liana. Semua yang ada di rumah ini atas namaku." 💔💔💔 NovelToon menyajikan cerita-cerita orisinal terbaik. Semua novelnya gratis. Judul -Perceraian di Usia 50: Awal dari Segalanya
Perceraian di Usia 50: Awal dari Segalanya💔
INSTALL MOBILE APPLike this ad? Make it yours.
Crush rebuilds this exact creative around your product — your brand, your colors, your offer — in about a minute.




