

Active· since May 27, 2026
- 111
- days running
- 0
- relaunches
Ad copy
Semuanya berawal saat Firza, kakak lelakinya Rangga menikah. Sejak itu, Firza membawa sosok baru untuk tinggal di rumah. Yaitu istrinya, Dita Permata Sari. Awalnya pernikahan mereka ditentang Yuli, sang ibu. Namun Firza bersikeras karena katanya dirinya sangat mencintai Dita dan mengancam akan pergi jauh jika tidak direstui. Sosok ibu mana yang tega membiarkan anaknya pergi jauh. Itulah yang dilakukan Yuli. Dia terpaksa membuang egonya dan memutuskan merestui pernikahan Firza dan Dita. Pernikahan berlangsung cukup meriah, Yuli menggunakan uang tabungannya untuk semua itu. Usai menikah, Yuli menyuruh Firza dan Dita tinggal bersama di rumah untuk sementara. Mengingat mereka masih tidak punya uang untuk membeli atau mengontrak rumah. Firza sendiri bekerja sebagai polisi berpangkat briptu. Dia baru menjalani karirnya sebagai polisi selama tiga tahun. Sementara Dita, dia merupakan penyanyi dangdut biasa. Tidak heran Dita memiliki paras cantik, seksi dan menarik. Namun Dita sudah berjanji pada Firza kalau akan berhenti menjadi penyanyi dangdut setelah menikah, dan itu memang dilakukannya. Firza hanya memperbolehkannya menyanyi saat di acara kondangan di kampung saja. Mungkin karena profesi itu pula, Yuli sempat tak merestui Dita menikah dengan Firza. Karena dalam pandangan masyarakat, penyanyi dangdut itu wanita murahan. Suka berpenampilan seksi dan bersikap tidak senonoh dipanggung, contohnya seperti menerima saweran. Kini Rangga habis keluar kamar mandi. Saat itulah dia tak sengaja berpapasan dengan Dita. Perempuan itu baru keluar kamar. Mata Rangga terbelalak. Bagaimana tidak? Dia melihat Dita hanya mengenakan tank top dan celana pendek sepangkal paha sambil membawa handuk. "Baru selesai mandi, Dek?" sapa Dita. "Iya, Kak..." sahut Rangga tergagap. Dita tersenyum dan segera masuk ke kamar mandi. Rangga langsung geleng-geleng kepala. Merasa tak habis pikir dengan gaya berpakaian Dita. "Pantesan Mama sempat ngga merestui," gumamnya sembari berjalan masuk ke kamar. Rangga mengambil ponsel dan langsung telentang ke ranjang. Di sana dia menemukan pesan dari sahabatnya Junaidi dan Ifan. Kedua sahabatnya itu asyik meledeknya di grup chat. Junaidi : Bang Firza baru selesai menikah kan? Wah... Siap-siap nggak bisa tidur nih Rangga pas malam pertama abangnya🤣🤣🤣 Ifan : Parah! Aku yakin suara desahan Kak Dita bakalan menggelegar sampai menembus dinding kamar Rangga. Hahaha... Junaidi : Uh! Ah! Oh Yes, Baby! Teruskan! (Bacanya pakai nada mendesah) 🤣 Membaca percakapan itu, Rangga menggertakkan gigi. Dia mulai mengetik dan membalas. Rangga : Sialan kalian! Aku yakin Bang Firza dan Kak Dita tahu diri kali. Mereka nggak akan berisik! Junaidi : Ga! Orang pas keenakan gimana bisa nahan diri sih? Aku jamin nih ya, mereka bakalan berisik. Ifan : Taruhan kayaknya seru nih🤪 Rangga : Udah ah! Aku mau tidur. Kalian aja sana yang taruhan. Ifan : Tapi aku juga yakin kalau Bang Firza sama Kak Dita bakalan berisik, Ga. Rumahmu kan dindingnya kayu, itu nggak kedap suara. Aku yakin seratus persen 😂 Rangga memutar bola mata jengah. Dia memilih mengabaikan ejekan dua temannya dan membuka aplikasi game. Rangga mulai larut bermain game di ponselnya. "Ah... Aah! Ah!" Tiba-tiba terdengar suara desahan dari kamar sebelah. Mata Rangga membulat sempurna. Terlebih suara erangan itu di ikut dengan getaran di dinding kayu kamarnya. "Anjir!" umpat Rangga. Ternyata prediksi kedua temannya benar. Kakaknya dan kakak iparnya melakukan malam pertama dengan berisik. Rangga sudah berusia 17 tahun. Dia berada di masa-masa penasaran. Masa saat dia sudah mengerti dan belajar hubungan orang dewasa. Rangga menenggak salivanya saat suara lenguhan Dita semakin intens. Sekujur tubuhnya meremang. Namun yang lebih parah, burung gagaknya juga ikut bereaksi. "Nggak! Jangan!" keluh Rangga kesal. Aktifitas sang kakak di sebelah kamar, benar-benar membuatnya terpancing. Rangga yang tadinya kesal saat melihat Dita berpakaian minim, kini jadi membayangkan perempuan itu. 02 Lidah Rangga hanya bisa berdecak kesal saat menyadari aset pribadinya aktif. Ia terpaksa melakukan olahraga tangan sendiri malam itu. Rangga juga terpaksa memasang headset saat tidur, agar suara berisik malam pertama kakaknya tak terdengar lagi. Keesokan harinya, mentari pagi menyapa dengan cerah. Sosok mengerikan berwajah sangar muncuk dari balik pintu kamar Rangga. Dia berkacak pinggang dan siap mengomel. "RANGGA! BANGUN!" pekiknya. Dia tidak lain adalah Yuli, ibunya Rangga. Namun meski sudah berteriak, Rangga masih tidur. Seolah teriakan sang ibu tidak mengancam. Ya bagaimana mau mendengar? Headset di telinga masih terpasang. Memperdengarkan alunan musik nan indah. "Rangga!" karena kesal, Yuli membuka selimut sang putra. Betapa terkejutnya dia saat melihat celana Rangga basah. Karena itulah kasurnya juga ikut basah. "RANGGAAA!" Kali ini suara pekikan Yuli nyaring sekali dan sukses membuat Rangga terbangun. Dia langsung melepas headsetnya. "Eh, iya, Ma! Aku bangun!" kata Rangga. "Pantas kesiangan tidurnya. Mimpi enak ya? Cuci sprei sendiri ya!" timpal Yuli. Ketika mendengar ibunya bicara begitu, barulah Rangga sadar kalau celananya basah. "Astaga!" umpatnya dengan wajah memerah. Dia kembali menutup celananya dengan selimut. "Anak Mama sudah dewasa ternyata. Cepat mandi sana! Nanti telat ke sekolahnya. Ini udah siang loh," kata Yuli seraya beranjak dari kamar putranya. Dia tersenyum tipis karena merasa lucu melihat Rangga malu. Namun sebagai orang tua, Yuli sadar kalau apa yang terjadi pada sang putra adalah hal normal. ...***... Rangga baru memarkirkan motornya di parkiran. Dia baru tiba di sekolah. Sebuah tangan tiba-tiba merangkulnya. "Gimana tadi malam? Kocok-kocokkan nggak? Bwahaha!" ujar pemilik tangan yang kini merangkul Rangga. Dia tidak lain adalah Junaidi. Tertawa keras bahkan saat Rangga belum bercerita. "Ayo ceritain, Ga! Seheboh apa Bang Firza sama Kak Dita?" tanya Ifan. Dia cengengesan bersama Junaidi "Brengsek emang kalian!" balas Rangga sambil menjitak kepala temannya secara bergantian. "Semalaman aku tidur pakai headset tahu nggak!" ungkapnya. "Lah, kok kau malah marah. Harusnya senang dong. Kau menghadapi pengalaman dewasa secara gratis dan langsung. Kalau aku sih, malah aku nikmati suara surga itu. Jika perlu, aku menghayal aja sekalian," ucap Ifan. "Gila! Menghayal main sama Kak Dita maksudmu?" tebak Rangga. "Iya. Hubungan panas dengan kakak ipar. Kayak di film yang lagi buming itu loh," sahut Ifan. "Dih! Kau aja kali yang suka. Jangan didengerin, Ga. Fetish Ifan emang begitu. Dia suka nonton bokep yang seting main sama kakak ipar atau kakak tiri gitu. Jijik kali aku," imbuh Junaidi. "Loh kok malah aku yang kena ejek. Kita kan satu tim loh tadi, Junaedi!" balas Ifan tak terima. "Udah. Terima saja. Kau itu emang omes. Otak mes*m!" ledek Rangga. Dia lalu tertawa bersama Junaidi. Ketiganya berjalan menyusuri koridor bersama. "Kayak kalian enggak," gerutu Ifan. Bersamaan itu, mereka berhenti melangkah saat melihat anak kelas satu main basket. Ketiganya lalu bergabung dan meletakkan tas ke bangku panjang. Mereka bermain basket dadakan. Namun sayang itu tak berlangsung lama karena Nisa si ketua osis menegur. Para siswa kelas satu yang takut, langsung patuh. Berbeda dengan Rangga, Ifan dan Junaidi yang memilih tetap main. "Kalian sebagai senior harusnya bisa jadi contoh. Ini malah menjerumuskan," omel Nisa seraya memperbaiki kerudungnya. Ia lalu sigap mengambil bola basket dan langsung membawanya pergi. "Eh, Nisa! Hidup itu jangan terlalu bener! Dibawa santai aja loh," protes Rangga. Namun Nisa tak mendengarkan dan menjauh pergi. "Sabar, Ga. Nanti malah jatuh cinta. Bahaya!" celetuk Junaidi. "Hah? Jatuh cinta? Jijik banget aku suka sama cewek model Nisa." Rangga langsung membantah tegas. "Makanya aku tadi bilang bahaya kan? Cewek kayak gitu bikin ribet," sahut Junaidi. "Ayo ke kelas!" ajak Ifan sembari mengambil tas. Rangga dan Junaidi lantas menyusul. NovelToon menyajikan cerita-cerita orisinal terbaik. Semua novelnya gratis. Judul -My Hot Kakak Ipar🔞
My Hot Kakak Ipar🤣
INSTALL MOBILE APPLike this ad? Make it yours.
Crush rebuilds this exact creative around your product — your brand, your colors, your offer — in about a minute.




